Kuliah Umum Hubungan Bilateral dari Dubes dan Mantan Menlu Australia di UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MANTAN Melu Australian Prof. Stephen Smith (pegang mike) dan Dubes Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, ketika memberikan kuliah umum mahasiswa UNAIR, Senin (31/10) kemarin. (Foto: M Ahalla Tsauro).

UNAIR NEWS – Paul Grigson, Dubes Australia untuk Indonesia dan Prof. Stephen Smith, Mantan Menteri Luar Negeri Australia, Senin (31/10) siang kemarin hadir di Universitas Airlangga. Mereka berdua memberikan kuliah umum kepada mahasiswa mengenai “Bilateral Relationship between Australia and Indonesia”, di Aula Kahuripan Kampus C UNAIR.

Menurut Paul Grigson, kuliah umum ini merupakan bentuk kunjungan sekaligus sarana berbagi ilmu yang dilakukan Australia untuk dapat meningkatkan dan membangun hubungan baik antar-kedua negara. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman akan hubungan Indonesia-Australia dan juga mengajak mahasiswa melanjutkan studi lanjut di Negeri Kanguru itu.

Bagi Grigson, kehadirannya ini merupakan kunjungan ke UNAIR kali pertamanya, sedangkan bagi Smith, UNAIR bukan hal baru baginya, sebab Februari 2016 lalu Ia juga memberikan kuliah di Fakultas Hukum UNAIR mengenai tantangan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Paul Grigson memberikan pemaparan tentang Hubungan Australia dan Indonesia dalam hal Pariwisata dan Pendidikan. Di bidang parisiwata, wisata yang ditawarkan Indonesia membuat orang Australia sering datang ke negeri ini. Wisata Indonesia tidak lagi soal Bali dan Lombok, tetapi banyak tempat yang lebih menarik lainnya, tetapi terkadang persoalan infrastruktur dan akses sering kali menjadi kendala.

”Orang Australia tidak hanya berwisata ke Bali dan Lombok, banyak tempat lain yang juga menarik. Misalnya di Riau, yang dalam waktu dekat akan ada bandara untuk mempermudah akses wisatawan kesana,” ujar Paul, alumni University of Queensland ini.

Di bidang pendidikan, Paul juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di negeri Kanguru tersebut. Berbagai data dipaparkan soal keunggulan yang dapat didapat selama studi di Australia. Pertama, delapan kampus asal Australia masuk 50 besar kampus terbaik dunia, tentu saja kualitas keilmuan dan penelitiannya juga maju. Kedua, empat kota di Australia dinobatkan sebagai kota pelajar/mahasiswa. Persoalan mengenai kenyamanan dan lingkungan kota dan kampus menjadi faktor penting penunjang pendidikan. Ketiga, biaya kuliah di Australia lebih murah dibandingan dengan kampus di Amerika Serikat maupun di Eropa.

Pejabat Dubes sejak Januari 2015 ini juga memaparkan data jumlah mahasiswa yang melanjutkan studi di Australia. Selama 25 tahun mahasiswa Indonesia di Australia selalu meningkat 24 persen, sesuai data UNESCO. Beberapa kampus yang seiring menjadi rujukan, diantaranya Australia National University, University of Melbourne, University of Queensland, University of New South Wales.

“Kami menargetkan jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Australia semakin meningkat, jumlah wisata juga akan kita tingkatkan pula, salah satunya melalui kemudahan mengurus dokumen visa.” Kata Dubes yang mahir berbahasa Prancis ini.

Mantan Dubes Australia untuk Thailand (2008-2010) ini juga sering berinteraksi dengan mahasiswa terkait pertanyaan-pertanyaan singkat seputar Australia. “Mana yang lebih banyak, jumlah penduduk Australia atau jumlah Sapi di Australia,” tanya Grigson. “Jumlah sapi lebih banyak,” kata Grigson disambut tepuk tangan dan tawa.

HUBUNGAN LAMA

Sementara itu Stephen Smith, Mantan Menlu Australia menjelaskan, hubungan Australia-Indonesia telah dibangun sejak lama, bahkan dahulu sejak masa penjajahan, kerja sama perdagangan telah dimulai. Ia juga menjelaskan kerjasama pada level provinsi dan kota, misalnya, Provinsi Jawa Timur telah melakukan kerasama dengan Australia Barat, begitu juga Kota Surabaya dengan Perth.

“Untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan Australia itu perlu adanya hubungan yang baik antar negara, negara bagian hingga kota-kota kecil sekalipun, karena ini merupakan bagian peningkatan hubungan kedua negara,” kata Smith, Guru Besar Hukum Internasional di University of Western Australia.

Ditanya perbedaan mendasar mengenai Indonesia dan Austalia, menurut Smith, bahwa meningkatkan kerja sama antar kedua negara, persoalan persamaan negaralah yang menjadi titik temu, dan baik-tidaknya hubungan,jangan terlalu fokus pada perbedaan. “Fokus Australia saat ini menjalin hubungan baik dengan negara-negara di Asia, termasuk Indonesia dan India,” ujar Profesor yang pernah berkarir di Parlemen Australia selama 20 tahun ini.

Smith menambahkan, Australia saat ini juga menjadi tujuan imigran mencari suaka, bahkan delapan dari sepuluh negara yang memasok pengungsi sering mencari penghidupan di Australia. Terkait dengan jumlah pemeluk Islam yang tinggal di Australia, Dubes Australia Paul menjawab bahwa saat ini terdapat lebih dari 500.000 muslim tinggal disana, bahkan 40% lahir di Australia. (*)

Penulis: Ahalla Tsauro
Editor: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu