Proses monev eksternal antara reviewer dengan peneliti. (Foto: Defrina Sukma S)
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebanyak 236 judul penelitian dilakukan pemantauan dan evaluasi (monitoring and evaluation/monev) oleh enam reviewer eksternal yang ditunjuk Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Dari hasil review yang dilangsungkan selama tiga hari 27-29 Oktober 2016, sebagian besar penelitian yang telah dilakukan akademisi UNAIR dinilai bagus. Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Salama Majang, M.T., IPM, salah satu reviewer eksternal asal Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, ketika ditemui di sela-sela istirahat siang, Jumat (28/10).

“Bagus lah hasilnya, artinya motivasi dosen UNAIR untuk melakukan penelitian itu tinggi. Luaran yang dijanjikan hampir berhasil semua, seperti publikasi internasional, kerja sama dengan luar negeri juga banyak,” tutur Prof. Salama.

Ada sejumlah kriteria yang dijadikan penilaian oleh tim reviewer, salah satunya perkembangan penelitian dan luaran yang telah dicapai. Setiap peneliti yang mendapatkan dana riset dari Dikti wajib menyertakan bukti untuk mendukung laporan perkembangan penelitian.

“Kami menilai sampai sejauh mana penelitiannya. Hasil variatif tergantung dengan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing tim peneliti. Kalau misal mereka ingin mengadakan seminar nasional atau internasional, apakah sudah terlaksana atau belum. Kalau mereka ingin paten, bagaimana apakah sudah atau belum. Buktinya apa,” tutur Prof. Salama.

Dari kriteria penilaian itu, berdasarkan review yang dilakukan pihaknya, sebagian besar hasil monev tersebut dinilai bagus. Sedangkan, penilaian itu terdiri dari empat level yakni buruk, sedang, bagus, dan bagus sekali.

BACA JUGA:  Mahasiswa UNAIR Juara di Ajang Debat Nasional

Salah satu reviewer lainnya yang ikut melakukan monev terhadap perkembangan penelitian para periset UNAIR adalah Prof. Dr. Ir. Herry Sonjaya, DEA., DES, yang juga berasal dari Unhas. Sebagai masukan atas berbagai review penelitian yang ia lakukan terhadap peneliti UNAIR, ia menghendaki peningkatan kuantitas terhadap penelitian multiyears yang berakhir di hilir (hilirisasi).

“Sebaiknya memang multiyears, misalnya yang mengekstrak tanaman atau biota laut. Itu sebaiknya tidak hanya sampai ekstrak tapi lebih baik sampai obat sehingga bisa diaplikasikan kepada masyarakat, jadi dihilirisasi,” imbuh Prof. Herry.

Pelaksanaan monev ini dilaksanakan sebagai bentuk pertanggungjawaban dana penelitian yang diberikan oleh pemerintah kepada akademisi. Selain bentuk transparansi dan akuntabilitas, dengan adanya kucuran dana penelitian, diharapkan dapat meningkatkan daya saing bangsa.

“Dengan adanya penelitian ini, ada banyak tulisan di jurnal internasional atau nasional yang terakreditasi. Kalau ada banyak tulisan, paten, dan HAKI (hak atas kekayaan intelektual), peringkat dunia perguruan tinggi bisa meningkat,” imbuhnya.

Pelaksanaan

Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., mengatakan proses pelaksanaan review perkembangan penelitian berjalan lebih teratur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebabnya, setiap peneliti UNAIR peserta monev bisa berinteraksi secara kondusif dan tenang dengan para reviewer. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan