Bulan Peduli Kanker Payudara 2016 Bersama FKM UNAIR Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PESERTA ODBCAD, Bulan Peduli Kanker Payudara di Kampung Mandar, Banyuwangi, bersama mahasiswa dan dosen PDD UNAIR Banyuwangi, Sabtu (15/10). (Foto: Siti Mufaidah)

UNAIR NEWS – Our Days Breast Cancer Awardness Day merupakan serangkaian acara dalam peringatan Bulan Peduli Kanker Payudara 2016 yang diselenggarakan oleh mahasiswa bersama dosen program studi kesehatan masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) PDD Universitas Airlangga di Banyuwangi. Kegiatan itu dilaksanakan di Balai Desa Kampung Mandar, Banyuwangi, yang berakhir Sabtu (15/10) lalu.

Menurut Rizka Khawari (20), ketua pelaksana kegiatan, ODBCAD ini bertemakan “Peningkatan pengetahuan dan Deteksi Dini Kanker Payudara Melalui SADARI pada ibu PKK Kampung Mandar”. Tujuannya untuk mengajak masyarakat Banyuwangi agar turut berperan aktif dan peduli terhadap kesehatan payudara untuk meminimalkan prevalensi kanker payudara di Banyuwangi. Hadir pada kegiatan ini antara lain Suciati (40), Ketua PKK Kecamatan Banyuwangi, untuk men-support ibu-ibu PKK setempat.

”Kegiatan ini dikemas dalam bentuk talkshow sederhana dengan narasumber dr. Abdul Hanan Sp.B-Onk, alumni UNAIR tahun 2002 bersama dengan Siti Romlah, survivor penderita kanker payudara yang sudah sembuh, dan ditemani Adi Suraya, suami survivor,” katanya.

Faris Mohammad HM (20), wakil ketua pelaksana, menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk promosi kesehatan kepada masyarakat, utamanya wanita paruh baya. Dalam hal ini 50 orang ibu-ibu PKK Kampung Mandar yang berusia 35 tahun keatas. Dengan demikian mereka diharapkan mengetahui bahaya, gejala, epidemiologi, pengobatan kanker payudara, dan juga deteksi dini kanker payudara melalui praktik SADARI.

Adi Suraya, suami Siti Romlah (survivor) berharap kegiatan ini tidak hanya diikuti para ibu-ibu, tetapi juga suaminya. Mengapa? Ketika dirinya mengantar istrinya, banyak diantara ibu-ibu yang hendak menjalani operasi itu merasa iri karena tidak diantar oleh suaminya, jadi merasa seperti tidak didukung suaminya.

”Mengingat kanker payudara itu bahaya, dan pengambil keputusan dalam keluarga itu suami, rasanya miris saya mendengar curhatan ibu-ibu teman istri saya,” kata Adi Suraya.

Dijelaskan oleh dr.Abdul Hanan, kanker payudara merupakan penyakit yang berbahaya, gejala awalnya jarang terdeteksi. Untuk tumbuh sebesar 1 Cm saja butuh waktu delapan tahun, namun akan sangat cepat merambat menjadi 10 Cm dalam waktu tiga tahun kemudian. Kanker ini akan bergerak sangat cepat ketika masuk stadium IV dimana sangat kecil kemungkinan pasien bisa bertahan hidup, katanya.

Menurut Mujiati (40), kegiatan ini sangat bermanfaat. Ia jadi mengerti caranya melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Selain itu, pengetahuan terkait bahayanya kanker payudara yang begitu cepat, semakin menyadarkan diri akan pentinya deteksi dini. Ia berharap kegiatan ini tak hanya berhenti sampai disini, tetapi dapat diteruskan untuk ibu-ibu di wilayah lainnya agar mereka juga tahu resiko kanker ini. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah
Editor : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu