Esti Yunitasari Wisudawan Terbaik FKM, Dessy Wulansari S1 Psikologi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Esti Yunitasari (kiri) wisudawan terbaik S-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dengan IPK 3,96 dan Dessy Wulan Sari wisudawan terbaik S-1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan IPK 3,68. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Berawal dari profesinya saban hari, timbul motivasi besar dari Esti Yunitasari untuk mengambil tema disertasinya tentang kesehatan perempuan dalam kaitan dengan penyakit kanker serviks. Ternyata, disertasi itulah yang ikut mengantar Esti menjadi wisudawan terbaik S-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Ia meraih IPK 3,96.

Esti Yunitasari
Esti Yunitasari wisudawan terbaik S-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dengan IPK 3,96. (Foto: Istimewa)

Dosen Fakultas Keperawatan UNAIR yang mengampu mata kuliah Maternity Nursing ini, mengangkat disertasi “Pengembangan Model Asuhan Keperawatan Koping Berbasis Adaptasi Roy dalam Upaya Meningkatkan Resiliensi Pasien Kanker Serviks Post Radikal Histerectomy yang mendapatkan Kemoterapi.”

“Sebagai perawat saya punya empati terhadap perempuan yang terkena kanker serviks. Jadi saya berusaha meningkatkan resiliensi terhadap kondisinya. Harapan saya meski perempuan itu menjadi survivor cancer tetapi secara peran fungsi sebagai perempuan tidak terganggu,” jelasnya.

Melihat perkembangan penyakit kanker serviks di Indonesia yang menduduki peringkat pertama penyebab kematian perempuan, Esti berhasil meningkatkan resiliensi dengan menggunakan pengembangan Model Adaptasi Roy. Yakni dengan model ini berhasil meningkatkan resiliensi pasien kanker yang bertujuan dapat digunakan sebagai upaya menurunkan angka mortalitas dan morbiditas bagi perempuan yang menderita kanker serviks.

Esti menjalankan peran sebagai seorang ibu, istri, dosen, perawat, dan aktif dalam organisasi perawat maternitas Jatim. Meski demikian, tak menghalanginya untuk berprestasi di bidang akademik. Meski banyak kendala yang ia alami saat perkuliahan, ia optimis dengan yang dijalani. Sebab ia percaya, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan doa dan usaha.

“Selama kuliah S-3, ini pasti ada masalah dan kendala. Tapi saya terus berikhtiar mencari inspirasi untuk memecahkan masalah. Sebab, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Jadi harus semangat, berusaha dan berdoa. Sejatinya berprestasi bukan hanya sekedar prestasi akademik semata, tetapi juga prestasi dalam bidang lainnya,” tambahnya.

Makanan Instan’ Tak Menyehatkan

Dessy Wulan Sari
Dessy Wulan Sari wisudawan terbaik S-1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan IPK 3,68. (Foto: Istimewa)

SEDANGKAN Dessy Wulan Sari tertarik dengan topik work engagement sebagai satu aspek penting mendorong keberhasilan perusahaan/organisasi.Dari skripsinya yang berjudul “Hubungan antara Persepsi pada Leader -Member Exchange (LMX) dengan Work Engagement pada Karyawan Tetap Non-Manajerial di Rumah Sakit Bedah Surabaya” ikut mengantarkan meraih predikat wisudawan terbaik S-1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Ia meraih IPK 3,68.

Dalam penelitiannya, dara kelahiran Surabaya tahun 1993 ini mengungkap, isu kepemimpinan menjadi hal yang cenderung dikeluhkan banyak karyawan. Sebanyak 43% dari karyawan responden merasa tidak puas dengan pimpinannya. Karena itu ia tertarik mengkaji hubungan antara persepsi pada LMX dengan tingkat work engagement pada karyawan tetap non-manajerial di Rumah Sakit Bedah Surabaya.

“Orang tua terus menyemangati saya untuk segera menyelesaikan studi,” kata anggota Paduan Suara UNAIR ini. Diakui, bukan hal mudah meneliti work engagement dalam instansi/perusahaan. Sebab penelitian ini berkaitan dengan data krusial, seperti turnover, review kinerja karyawan, feedback customer, dan beberapa data lain. Tapi akhirnya pihak RS bersedia.

Saat presentasi hasil skripsinya, Dessy sempat merasa kurang percaya diri dengan penelitian ini dan beberapa kali mengalami kejadian tidak mengenakkan, diantaranya kehilangan data kuantitatif yang sudah diolah.

“Saya sangat bersyukur karena semua hambatan bermunculan, kini terbayar dengan hasil akhirnya. Melelahkan, tapi pengalaman saya dua semester melakukan penelitian itu cukup membuat saya berproses,” paparnya.

Pesan Dessy kepada mahasiswa yang masih berproses, bahwa apapun yang kita kerjakan, nikmatilah prosesnya. Karena ‘makan yang instan’ itu tak selalu menyehatkan. Jadi berproseslah. ”Making a mistake is a proof that we have tried. Itu wajar. Tapi jangan terus bertoleransi dengan kesalahan yang sama. Itu menunjukkan kita tidak belajar dari pengalaman,” tuturnya. (*)

Penulis: Disih Sugianti & Lovita Marta Fabela
Editor: Bambang ES

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu