Impor Guru Besar Harus Selektif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rektor UNAIR Prof Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA. Ditemui awak media di ruang kerjanya Rabu pagi (19/10) (Foto: Alifian Sukma)

NEWS UNAIR – Wacana “impor” Guru Besar yang dilontarkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) direspon positif oleh Rektor UNAIR Prof Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA. Ditemui awak media di ruang kerjanya Rabu pagi (19/10), lelaki kelahiran Gresik itu mengungkapkan, asalkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak dibebani anggaran untuk mereka, tidak ada alasan untuk takut. Yang tak kalah penting pula, jangan sampai kehadiran mereka menghambat proses pengangkatan Guru Besar di PTN masing-masing.

Prof. Nasih menuturkan, kehadiran Guru Besar atau Profesor dari luar negeri justru memiliki dampak positif. Mereka bisa melakukan riset atau publikasi bersama akademisi PTN. Sehingga, para dosen yang bertitel Doktor dapat ikut mendapat manfaat. Sebab, proses mereka menuju gelar profesor dapat lebih dipercepat. Transfer ilmu dari para profesor “impor” itu pun dapat menjadi pelecut dan katalisator dalam tubuh PTN.

“Kehadiran mereka untuk riset dan publikasi juga bisa menjadi sarana menguji tingkat kecemburuan para profesor lokal. Maksudnya, para profesor di PTN yang sudah jarang mengajak juniornya  melakukan riset dan publikasi mestinya peka. Kalau mereka sudah tidak cemburu dan peka atas kehadiran profesor luar negeri yang ada di kampus, kecintaan mereka pada almamater perlu mulai dipertanyakan,” ungkap dia.

Seperti ramai diberitakan di media massa, Menristekdikti M. Nasir mewacanakan masuknya 500 profesor dari luar negeri. Dengan dalih, sebagai pemicu suasana akademik di segala aspek pada perguruan tinggi dalam negeri. Kabarnya, bila kebijakan itu jadi direalisasikan, ada kemungkinan enam sampai sepuluh guru besar akan diterjunkan ke UNAIR.

Bila memang demikian, bidang atau fakultas yang menurut Prof. Nasih perlu mendapat “asupan” profesor asing guna penguatan riset dan publikasi antara lain yang berkaitan dengan Humaniora. Keberadaan profesor asing akan membantu jaring relasi internasional pula.

“Bahkan, diberi lima puluh guru besar pun kami siap. Asalkan, sekali lagi, kami tidak dibebani anggaran. Bayangkan saja, kalau dari lima puluh profesor itu, setahun bisa menghasilkan publikasi internasional seratus judul, dan itu riset bersama para Doktor kami, manfaatnya sudah pasti besar,” papar dia. (*)v

Penulis: Rio F. Rachman
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu