Meneliti Karya Sastra Jepang, Anne Alicia Lulus Terbaik FIB

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Anne Alicia Wulung terpilih menjadi wisudawan terbaik S-1 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, dalam wisuda September 2016. Ia meraih IPK 3,97. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Terilhami oleh sebuah karya sastra Jepang, Anne Alicia Wulung, S.Hum, melakukan penelitian terhadap sebuah karya sastra berjudul “Dominasi Kekuasaan dalam Novel Toshokan Kiki Karya Arikawa Hiro: Kajian Hegemoni Gramsci”. Dari penelitian ini, akhirnya menunjang Anne terpilih menjadi wisudawan terbaik S-1 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, dalam wisuda September 2016. Ia meraih IPK 3,97.

Dalam penelitiannya, arek Surabaya kelahiran 27 Desember 1993 ini menemukan permasalahan yang menyebabkan objek penelitiannya menarik. Pertama, hadirnya kisah percintaan yang romantis dan menghibur dalam serial Toshokan Sensou, tetapi juga sekaligus pandangan mengenai masyarakat Jepang yang ideal bagi masing-masing pihak yang berseteru. Permasalahan kedua, pertikaian intelektual antara Korps Perpustakaan dan Komite Reformasi Media demi mewujudkan masyarakat Jepang yang ideal menurut kelompok masing-masing.

Dari pertikaian dalam cerita itu, tampak ada usaha dari kedua pihak untuk saling mendominasi dengan cara mendapatkan konsensus dari masyarakat mengenai masyarakat Jepang yang ideal. Nah, berdasarkan adanya permasalahan di atas, menurut Anne, novel Toshokan Kiki ini menjadi menarik untuk diteliti menggunakan teori Hegemoni Gramsci.

“Dalam pertikaian dan usaha memperebutkan kekuasaan, tentu ada pihak yang mendominasi dan didominasi. Dalam serial ini tampak adanya relasi kuasa yang berlangsung di antara kedua pihak. Pertikaian terjadi melalui dua jalan, kekerasan dan persetujuan,” katanya.

Dalam proses penelitiannya, Anne mengaku tidak memiliki kendala apa pun. Bahkan berkat bantuan dosen pembimbingnya, ia berhasil mengerjakan penelitian itu. “Skripsi saya bisa selesai berkat bantuan, dukungan, dan bimbingan pembimbing bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk kerja ekstra kami,” kata aktivis HIMA ini.

Kedepan, Anne berharap penelitiannya dapat dikembangkan dan melanjutkan ke tahap yang lebih kompleks. Ia juga menyelipkan pesan dan motivasi pada mahasiswa UNAIR yang masih berjuang menempuh studi. “Gunakan waktu dan kesempatan sebaik mungkin. Lulus tepat waktu atau lulus tepat pada waktunya,” tutupnya. (*)

Penulis: Lovita marta Fabela.
Editor: Dilan Salsabila.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu