UNAIR Soroti Tiga Isu dalam Pertemuan Rektor PTN se-Jatim

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., (kanan) sebagai salah satu koordinator dalam pertemuan Rektor se- JATIM, saat memberikan pernyataan dalam rapat kerja Rabu (5/10). (Foto: Sirajuddin K.)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga didapuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara kumpul-kumpul bertajuk “Paguyuban Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Jawa Timur”. Pertemuan itu dilaksanakan di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen, Kampus C Universitas Airlangga, Rabu (5/10).

Delegasi sepuluh PTN yang hadir di UNAIR itu adalah Institut Teknologi 10 Nopember, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Universitas Brawijaya, Universitas Trunojoyo, Universitas Jember, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UNAIR sebagai tuan rumah.

Ada tiga agenda yang dibahas dalam pertemuan yang dihadiri oleh 31 pemimpin universitas yang hadir itu. Dalam wawancara singkat, Koordinator Paguyuban yang juga Rektor UNEJ Drs. Moh. Hasan, M.Sc., Ph.D mengatakan, ada tiga agenda utama yang dibicarakan dalam forum tersebut. Ketiga agenda utama itu adalah pengadaan bersama jurnal dan buku elektronik, penulisan buku tentang pengabdian masyarakat, dan kerjasama konsorsium PTN se-Jatim dan PT se-Australia Barat.

Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., ketika ditemui usai acara menyampaikan beberapa isu penting berkaitan dengan internasionalisasi pendidikan. Prof. Nasih mengatakan, pihaknya tengah mendorong agar pemerintah menyediakan visa pelajar/mahasiswa bagi mahasiswa luar negeri yang menuntut ilmu di Indonesia. Tujuannya, untuk meningkatkan jumlah dan memudahkan akses mahasiswa luar negeri yang menuntut ilmu di Indonesia (inbound mobility).

“Kita didorong untuk internasionalisasi maka harus banyak mahasiswa dari luar negeri yang ke Indonesia. Jangan hanya kita saja. Salah satu hambatan yang kita diskusikan tadi adalah visa. Indonesia ini masih belum punya student visa. Jadi, orang luar negeri kalau mau belajar di Indonesia masih susah. Karena mereka ke sini tujuannya pakai visa apa. Ini penting. Kalau kita terus yang didorong ke luar negeri, maka keuntungan akan diperoleh mereka saja,” tutur Prof. Nasih.

Di luar negeri, hampir seluruh negara telah menyediakan visa pelajar bagi calon mahasiswa asing yang akan pergi belajar di negara tersebut.

Isu kedua yang disoroti oleh UNAIR adalah upaya menangkal radikalisme di wilayah kampus melalui pengawasan terhadap pegawai. Menurut Prof. Nasih, setiap pegawai negeri harus memiliki komitmen kebangsaan terhadap Indonesia.

“Untuk menangkal radikalisasi khususnya yang menyusup dalam calon-calon PNS (Pegawai Negeri Sipil), saat CPNS yang tidak memenuhi persyaratan pada aspek bangsa dan negara, akan kami hentikan prosesnya. Bagi mereka yang berstatus CPNS, tidak akan kami teruskan ke PNS. Sedangkan, bagi mereka yang PNS akan kami hentikan. Kalau ada gejala atau bukti, karena ini sedang marak sekali,” imbuh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR itu.

Berkaitan dengan kerjasam PTN se-Jatim dan PT se-Australia Barat, Prof. Nasih ingin ada peningkatan angka inbound mobility dari mahasiswa maupun peneliti Australia ke Indonesia. Pihaknya berharap agar ada kolaborasi yang saling menguntungkan, khususnya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu