Mahasiswa Sejarah Ajak Melestarikan Situs Sejarah di Sampang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ketiga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga menerima piala LKTI pada Rabu (21/9) sampai Minggu (25/9). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ketiga mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga berhasil memenangkan kompetisi Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional pada Rabu (21/9) sampai Minggu (25/9). Mereka berhasil menyabet juara pertama dengan mempresentasikan ide upaya pelestarian dan pengembangan wisata sejarah.

Ketiga mahasiswa yang berhasil merebut piala Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu adalah Diki Febrianto (tahun angkatan 2015), Laras Setyaningsih (2015), dan Wilda Haffata Yahfitu Zahra (2014). Kompetisi tersebut digelar oleh anggota Himpunan Mahasiwa Jurusan (HMJ) Sejarah Universitas Negeri Malang (UNM).

“Ini merupakan pengalaman pertama kami untuk memenangkan lomba tingkat nasional selama menjadi mahasiswa. Apalagi ini merupakan karya tulis ilmiah yang dimana kita dipaksa untuk menghasilkan karya yang benar-benar ilmiah dan inovasinya dibutuhkan oleh masyarakat yang kami tuju,” tutur Diki pada reporter UNAIR News.

Diki bersama tim mempresentasikan karya tulis berjudul “Optimalisasi Situs Kompleks Ratu Ebu sebagai Upaya Konservasi dan Pengembangan Pariwisata Sejarah Kabupaten Sampang”. Dalam proses penulisan karya tulis itu, para delegasi UNAIR terjun langsung ke lapangan untuk meneliti objek yang terletak di Kelurahan Polagan, Sampang itu.

Dalam makalahnya, mereka memberikan gagasan mengenai situs sejarah yang tidak terkelola dengan baik, sehingga mereka mencoba menawarkan solusi yang inovatif namun realistis. Inovasi yang ditawarkan tim Universitas Airlangga adalah adanya kampung sejarah pembabakan sejarah kota Sampang Madura sebagai inovasi dalam bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Tentu banyak lagi inovasi-inovasi dan konservasi yang kami tulis dalam karya kami. Keunikan inovasi dan kemasan karya tulis kami mengantarkan kami pada tim finalis dimana diambil enam besar. Pada saat presentasi kami kebagian nomor terakhir untuk kesempatan menyampaikan gagasan,” lanjut Diki.

Dari beberapa tim yang telah presentasi, Diki memaparkan bahwa ketiga juri tertarik pada presentasi dan penelitian timnya. Pada sesi tanya jawab bersama peserta, tim Diki juga banyak diberi pertanyaan. Tim-tim tiap delegasi dibuat penasaran serta mengapresiasi inovasi dan objek penelitian yang diangkat oleh delegasi UNAIR.

Meskipun demikian, Diki mengaku bahwa selama melakukan penelitian, ia dan kawan-kawannya memiliki tantangan di antaranya adalah kapabilitas dan kesibukan kuliah. “Kami juga kesulitan membuat desain inovasi. Bagi kami itu cukup menyulitkan untuk memberikan gambaran seperti apa inovasi yang kami gagas. Maklum, kami bukan anak desain grafis,” pungkas Diki seraya tertawa.

Diki berharap penelitiannya tidak hanya berhenti pada tahap laporan. Ia berharap penelitiannya bisa diimplementasikan agar situs sejarah bisa dilestarikan dan dikembangkan agar bermanfaat, khususnya di bidang edukasi dan pariwisata. (*)

Penulis: Lovita Martafabella
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu