Pusat Riset Flu Burung UNAIR Ajak Industri dan Pemerintah Gunakan Teknologi Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kegiatan “Workshop Produksi Seed Vaksin Berbasis Sel Kultur dengan Teknologi Chip” dilaksanakan di laboratorium Bio Safety Level – 2 Avian Influenza Research Center UNAIR, Rabu (28/9) hingga Jumat (30/9). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Peneliti Avian Influenza Research Centre (AIRC) Universitas Airlangga mengajak sebanyak sepuluh orang dari kalangan industri, perguruan tinggi, dan pemerintahan untuk berlatih membuat seed vaksin dengan teknologi terbaru. Kegiatan pembuatan seed vaksin yang bertajuk “Workshop Produksi Seed Vaksin Berbasis Sel Kultur dengan Teknologi Chip” tersebut dilaksanakan di laboratorium Bio Safety Level – 2 AIRC UNAIR, Rabu (28/9) hingga Jumat (30/9).

Dr. Reviany, Apt, selaku ketua panitia lokakarya ini menjelaskan, bahwa metode produksi seed vaksin berbasis sel kultur dengan teknologi chip ini memang masih jarang digunakan, baik di laboratorium industri, perguruan tinggi, dan pemerintahan di Indonesia. Sehingga, dari aspek laboratorium, AIRC masih menjadi satu-satunya pusat riset di Indonesia yang bisa memproduksi seed vaksin sel kultur dengan teknologi chip.

“Ini adalah sistem baru untuk memproduksi seed vaksin. Di Indonesia, kita masih menggunakan metode yang konvensional, jadi kita ingin memperkenalkan sistem baru yang lebih efisien untuk memproduksi seed vaksin,” tutur Reviany.

Biasanya, produksi seed vaksin menggunakan metode telur ayam berembrio (TAB). Kelemahan dalam penggunaan metode TAB, bila produksi telur ayam menipis, maka tak ada lagi media yang digunakan untuk mereplikasi virus. Sehingga, metode sel kultur bisa dipakai sebagai alternatif.

Metode replikasi virus berbasis sel kultur sendiri mengalami perkembangan. Bila sel kultur biasanya menggunakan media bernama flask, kini ada teknologi chips. Menurut Reviany, kuota produksi seed vaksin dengan menggunakan CelCradle (nama mesin produksi seed vaksin) bisa lebih besar daripada dengan menggunakan flask. Selain masalah efisiensi, risiko kontaminasi yang terjadi pada seed vaksin bisa lebih diminimalisir.

Mesin celcradle yang digunakan untuk mengolah seed vaksin berbasis sel kultur dengan teknologi chip. (Foto: Istimewa)
Mesin celcradle yang digunakan untuk mengolah seed vaksin berbasis sel kultur dengan teknologi chip. (Foto: Istimewa)

“Nah, kalau sel kultur yang biasa, biasanya memakai flask. Misalnya, satu flask itu isinya seratus mililiter. Ketika produksi, kita butuhnya seribu mililiter. Berarti kita butuh sepuluh flask. Itu tidak efisien karena risiko kontaminasinya cukup besar, handle-nya susah karena flask itu juga besar,” terang peneliti AIRC UNAIR itu.

Selain praktik lokakarya, peserta juga diberi materi oleh para pakar. Para pakar yang memberikan materi antara lain Prof. Dr. C. A. Nidom (peneliti senior AIRC), Dr. Neny Nuraini (PT. Bio Farma), Dr. Kamaluddin Zarkasie (PT. IPB Shigetta), dan Revianny sendiri. Dengan adanya lokakarya ini, Reviany berharap, peserta lokakarya yang mengikuti pelatihan bisa menggunakan teknologi termutakhir dan tingkat lanjut untuk memproduksi seed vaksin.(*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu