Dekan FF UNAIR Tanggapi Maraknya Peredaran Obat Ilegal di Online Shop

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dekan FF UNAIR Dr. Hj. Umi Athijah, M.S., Apt., (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – “Belilah obat di apotek!” Itulah pernyataan yang terlontar dari Dekan Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. Hj. Umi Athijah, M.S., Apt., ketika menanggapi maraknya peredaran – termasuk penjualan – obat-obatan via dalam jaringan (online, -red).

Seperti yang diketahui, tak sedikit akun di media sosial yang banyak menjual produk farmasi jenis obat dalam, khususnya obat peninggi dan pelangsing badan, hingga penambah stamina. Penjualan tersebut bukan berarti tak laris, karena ada pula pelanggan yang benar-benar membeli dan mengonsumsi obat dalam tersebut.

Mengutip Tempo.co, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dibantu oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI telah mengidentifikasi 214 laman yang digunakan dalam penjualan dan peredaran obat ilegal. Sedangkan, pada tanggal 30 Mei – 7 Juni 2016, telah disita 1.312 barang farmasi ilegal, termasuk yang palsu dengan nilai ekonomi lebih dari Rp 56 miliar.

Ditemui UNAIR NEWS (23/9), Umi menjelaskan bahwa pengertian produk ilegal dan palsu itu sendiri masih membingungkan. Meski demikian, Umi menggarisbawahi bahwa pemalsuan produk farmasi itu didasari motif ekonomi semata.

“Palsu itu kriterianya banyak. Pabrik obat itu diberi kewenangan untuk memproduksi obat jenis tertentu. Nah, yang membuat tidak punya ijin untuk itu. Kedua, pada kemasan tertulis kandungan sekian milligram, tapi ternyata kandungannya bisa kurang atau lebih dari itu. Rentang yang namanya palsu itu luas. Ada pula yang antara kemasan dengan isinya tidak sama, seperti vaksin. Masyarakat memalsu itu karena aspek ekonomi. Mereka hanya ingin untung,” terang Umi.

Ia menyayangkan hal itu terjadi begitu marak, karena produk farmasi seperti obat-obatan tidak sama dengan komoditas lainnya seperti makanan. Oleh karena itu, ia menyarankan pihak terkait untuk memperbaiki pengelolaan obat.

“Harus ada apoteker. Namun, sistem itu belum sepenuhnya berjalan. Tidak semua apotek ada apotekernya. Sumber daya mumpuni bernama apoteker ini belum disebar merata,” tutur Dekan FF UNAIR. Selain pemerataan apoteker, Umi menyarankan agar pemerintah juga harus membenahi pengawasan industri farmasi baik kecil maupun menengah.

Terkait dengan peredaran dan penjualan obat ilegal yang marak di daring, ia mempertanyakan legalitas atau surat ijin yang dimiliki penjual dan pengedar. Pasalnya, di apotek resmi, pihak apoteker dan asisten apotekerlah yang bertanggung jawab atas penjualan obat. Untuk itu, Umi menyarankan agar masyarakat langsung membeli obat di apotek resmi.

“Maka belilah obat di tempat yang ada penanggung jawabnya. Toko obat itu juga ada penanggung jawabnya, apoteker dan asisten apoteker. Makanya yang dijual di toko obat belum tentu sama dengan yang di apotek. Beli obat-obatan keras pasti ada di apotek karena ada penanggung jawabnya,” tegas pengajar “Pharmaceutical Management in Health System” di FF UNAIR itu.

Dalam kaitannya dengan sumber daya apoteker yang berkualitas, Umi mengatakan bahwa mahasiswa FF UNAIR saat perkuliahan sudah dibekali dengan banyak mata kuliah dan praktikum dalam penjaminan mutu. “Itu sudah dikenalkan sejak semester satu, sehingga unsur ketelitian, kehati-hatian, sudah disiapkan dengan detail. Kurikulumnya memang mengarah ke sana,” tutur Umi. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu