Lulusan Terbaik FK, Dedy Syahrizal Diwisuda Bersama Isteri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Dedy Syahrizal, dr., M.Kes., bersama dengan istrinya dan anak. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tebersit rasa yang menyenangkan ketika berhasil diwisuda bersama dengan orang tercinta. Itulah yang kini dirasakan oleh Dr. Dedy Syahrizal, dr., M.Kes., yang merupakan wisudawan terbaik jenjang Doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Dedy berhasil lulus S-3 dari FK UNAIR bersama dengan istrinya dan diwisuda pada September 2016 ini.

“Insya Allah nanti kami sama-sama diwisuda. Senang banget rasanya. Berjuang bersama-sama sambil besarin anak yang juga lahir ketika kami sudah mulai pendidikan di UNAIR. Jadi ini rasanya tidak dapat dipercaya, tapi Alhamdulillah itu berhasil kami lalui,” tutur Dedy berucap syukur ketika dihubungi WARTA UNAIR.

Di FK, Dedy menjalani kuliah pada program studi Ilmu Kedokteran, sedangkan istrinya menjalani kuliah pada prodi Ilmu Kedokteran Dasar di bidang ilmu kedokteran hiperbarik dan penyelaman. Bersama dengan sang isteri, Cut Mustika, dr., M.Si, pada tahun 2015 lalu mereka yang tergabung dalam satu tim berhasil mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada program Riset Pembinaan Ilmu Kesehatan dan Teknologi Kedokteran.

Pengajar biokimia di Universitas Syiah Kuala, Aceh, itu berhasil meraih penghargaan atas penelitian yang berjudul “Pengaruh Hyperbaric Oxygen Therapy terhadap Regulasi Endothelial Progenitor Cell pada Mencit Model Endometriosis”.

Saat menyelesaikan kuliah doktoral, Dedy berhasil meraih IPK 3,97. Nilai IPK ini berhasil ia raih usai mempertahankan sidang disertasinya yang berjudul “Progressivity Mechanism of Distress Endometriosis Tissue Through Interaction of MIF, HSP70, Akt, c-Myc and CD44 in Mesenchymal Stem Cell: A Psychoneuroimmunology’s Approach of Stem Cells in Endometriosis Modelled Mice”.

Dalam penelitiannya, Dedy melakukan riset tentang pengaruh faktor distress terhadap penyakit endometriosis. Ia meneliti tentang progresivitas jaringan endometriosis pada penderita yang mengalami distress. Menurutnya, penderita endometriosis sebagian besar mengalami distress karena gejala klinis yang dialami dan juga ancaman infertilitas akibat penyakit tersebut. Apalagi, hal itu diperberat dengan situasi bahwa sampai saat ini pengobatan endometriosis masih bersifat simptomatis dan bukan kausatif.

”Akibatnya, penderita endometriosis mengalami penurunan kualitas hidup akibat proses penyakitnya maupun akibat proses distress yang dialaminya. Saya berpikir, bila faktor distress dapat ditangani, maka selain secara psikis pasien menjadi lebih nyaman, tapi juga secara molekuler pertumbuhan jaringan endometriosis dapat ditekan,” tutur Dedy. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu