Meningkatkan Kolaborasi dalam Pelayanan Kesehatan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Tutus Gusdinar Kartawinata selaku anggota Komite Farmasi Nasional memaparkan materi dalam seminar "Obat sebagai Komoditas Strategis dalam Mewujudkan Masyarakat Sehat" itu dilangsungkan di Aula FF UNAIR, Senin (19/9). (Foto: Defrina S.S)

UNAIR NEWS – Sebagai rangkaian dari peringatan acara Dies Natalis Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, sivitas akademika menyelenggarakan acara diskusi panel yang diikuti oleh mahasiswa dan dosen. Acara bertajuk “Obat sebagai Komoditas Strategis dalam Mewujudkan Masyarakat Sehat” itu dilangsungkan di Aula Fakultas Farmasi UNAIR, Senin (19/9).

Acara berformat diskusi panel itu dihadiri oleh tujuh pembicara yang dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, pemateri yang hadir adalah Dr. Faiq Bahfen yang merupakan pakar hukum kesehatan, Prof. Tutus Gusdinar Kartawinata selaku anggota Komite Farmasi Nasional, dan Drs. Nurul Falah Eddy Pariang selaku Ketua Ikatan Apoteker Indonesia.

Sedangkan, pada sesi kedua, presentasi dipaparkan oleh Dr. Poernowo Boedi, Sp.PD., K-GEH selaku Fungsionaris Ikatan Dokter Indonesia, Drs. Harry Bagyo, Apt, selaku praktisi industri, dan I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa yang merupakan Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Surabaya.

Dalam pemaparan materi, Tutus menjelaskan tenaga kefarmasian diatur dalam Undang-undang no. 36 tahun 2014. Dalam regulasi tersebut, ia mempertanyakan posisi para ilmuwan farmasi. Sebab, tenaga kesehatan tersebut terdiri dari apoteker (profesi), dan tenaga teknis kefarmasian (vokasi).

“Problemnya adalah di mana posisi para scientist?,” tanya Tutus.

Posisi apoteker dalam UU No. 36 tahun 2009 juga dipertanyakan oleh Nurul. Menurut Nurul, regulasi yang tertulis dalam pasal 108 ayat 1 cenderung multitafsir meski sudah mengandung penjelasan. Penafsiran yang dimaksud adalah praktik kefarmasian bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti dokter, dan dokter gigi apabila apoteker sedang tidak berada di tempat.

Suasana seminar "Obat sebagai Komoditas Strategis dalam Mewujudkan Masyarakat Sehat" itu dilangsungkan di Aula FF UNAIR, Senin (19/9).( Foto: Defrina S.S)
Suasana seminar “Obat sebagai Komoditas Strategis dalam Mewujudkan Masyarakat Sehat” itu dilangsungkan di Aula FF UNAIR, Senin (19/9).( Foto: Defrina S.S)

Usai pemaparan materi, pembicara diberi pertanyaan oleh panelis. Kedua orang yang menjadi panelis adalah Guru Besar FF UNAIR Prof. Fasich, dan pakar hukum kesehatan Andriyanto. Prof. Fasich menyampaikan bahwa persoalan obat diharapkan dapat diatasi apabila tenaga kesehatan dapat bersinergi untuk menghasilkan kondisi yang harmonis dalam pelayanan kesehatan. Maka, ada empat hal yang perlu dievaluasi adalah hubungan kerja dan kepercayaan yang rendah, berbagi informasi antar tenaga kesehatan, independen, dan akuntabilitas setiap organisasi. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor : Faridah Hari

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu