Dosen FEB Belajar Memaknai Rejeki dari Tukang Becak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Direktur Pascasarjana MM UNAIR, Dr. Gancar Candra Premananto, SE.,M.Si., Bersama Penarik Becak Di Halaman MM UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan, baik dari alam, atau lingkungan sosial sekitar. Sebagai mahkluk yang berakal, manusia hendaknya bisa menyerap ilmu dari pihak manapun tanpa pandang bulu. Setidaknya, hal itulah yang berusaha ditanamkan oleh para dosen Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Para dosen itu tengah menyerap ilmu mengenai makna rejeki dari para tukang becak yang biasa mengais rejeki di kawasan Jalan Dharmawangsa, Kampus B UNAIR.

Dr. Gancar Candra Premananto, SE.,M.Si.,  yang menjabat sebagai Direktur Pascasarjana MM UNAIR mengatakan, acara ini merupakan rangkaian kegiatan berbagi dalam rangka peringatan ulang tahun program studi MM FEB UNAIR ke-23. Selain berbagi dengan para tukang becak, sivitas MM FEB UNAIR yang diwadahi dalam kelompok bernama Golden Heart Community juga pernah berbagi bahan pokok, perkakas, dan sejumlah uang kepada anak-anak yang tinggal di Kampung Anak Negeri Surabaya.

“Ini diselenggarakan dalam rangka ulang tahun MM FEB, perayaan Idul Adha karena masih hari raya Tasyrik, dan aktivitas Golden Heart Community. Golden Heart Community itu terdiri dari dosen, alumni, dan mahasiswa MM FEB UNAIR,” tutur Gancar.

Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor MM FEB UNAIR, Kamis (15/9), dihadiri sebanyak 20 para tukang becak. Para tukang becak ini diajak untuk makan bersama, salat jemaah, dan berdiskusi dengan para dosen mengenai konsep rejeki.

Memilih tukang becak sebagai sasaran dalam rangka berbagi ilmu bukan tanpa beralasan. Menurut Gancar, profesi tukang becak dihadapkan pada kondisi serba tak menentu mulai dari besaran penghasilan, hingga dampak perkembangan moda transportasi umum yang berbasis teknologi informasi seperti ojek online. Kondisi semacam itu, menurut Gancar, tak ada salahnya bila dosen bisa menambah pengetahuan mengenai rejeki dari sudut pandang tukang becak.

Pada sesi diskusi, Gancar melontarkan sejumlah pertanyaan kepada para tukang becak mengenai makna rejeki, suka duka menjadi tukang becak, dan kehidupan sehari-hari. Salah satu penarik becak yang hadir, Majid, mengatakan bahwa rejeki tak hanya berbentuk uang maupun penumpang. Bagi pria yang berusia 70 tahun itu, bagian terpenting dalam menjalani hidup adalah menata hati saat mencari rejeki.

“Kita nggak bisa mematok rejeki bahwa kita harus dapat segini segitu. Yang penting kita usaha. Saya sebelum menarik becak, ambil air wudhu terlebih dulu. Teman-teman juga saya ajak demikian. Mari kita memperbaiki hati masing-masing karena rejeki tidak hanya dari penumpang,” tutur Majid.

Usai berbagi pandang tentang rejeki, para tukang becak lantas diberi siraman rohani mengenai asal usul peringatan Idul Adha dan relevansinya dengan kehidupan sekarang oleh Gancar.

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu