Dadang Trisasongko (Sekjen TII), Alexander Marwata (Komisioner KPK), dan Nasih (Rektor UNAIR) sesaat usai acara Seminar dan Deklarasi: Komitmen Pengendalian Konflik Kepentingan dalam Upaya Pencegahan Korupsi dan Perluasan Integritas di Indonesia. (Foto: UNAIR NEWS)
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Universitas Airlangga dipilih sebagai pioner dalam pencegahan dan penanganan korupsi di aspek tata kelola oleh Transparency International Indonesia (TII) dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). Hal itu diungkapkan oleh Sekjen TII Dadang Trisasongko dalam acara Seminar dan Deklarasi: Komitmen Pengendalian Konflik Kepentingan dalam Upaya Pencegahan Korupsi dan Perluasan Integritas di Indonesia.

“UNAIR kami anggap sebagai perguruan tinggi negeri yang layak menjadi representasi di level nasional dalam menggelorakan semangat anti korupsi,” kata dia saat diwawancara UNAIR News di Royal Kuningan Jakarta, Kamis pagi (15/9).

Selain UNAIR, institusi lain yang dijadikan pilot project adalah Pemkot Makassar melalui RSUD Makassar, Kabupaten Bojonegoro melalui RSUD Bojonegoro, dan Universitas Muslim Indonesia. Dadang mengungkapkan, persoalan korupsi di Indonesia masih menjadi momok meskipun sudah banyak koruptor masuk penjara. Maka itu, perlu pembelajaran menyeluruh dan berkelanjutan untuk menangani problem tersebut.

“Seminar dan deklarasi ini merupakan awal dari langkah yang baik untuk membangun sistem antikorupsi dan bebas konflik kepentingan,” papar dia.

Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo menuturkan, pihaknya siap bekerja sama dan menjadi mitra institusi untuk melaksanakan pencegahan korupsi, baik yang berbasis pemerintah maupun swasta.

BACA JUGA:  Mitos dan Fakta Seputar Rambut Beruban

“Korupsi yang sistemik harus diberantas dengan pola yang baik. Salah satunya dengan memberi atensi pada bibit-bibit konflik kepentingan,” papar dia dalam sambutannya.

Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA mengutarakan, selama ini pihaknya selalu berusaha untuk membangun tata kelola yang baik, yang mana usaha tersebut mencakup bermacam elemen. Misalnya, di bidang rekrutmen tenaga kerja atau bidang kepegawaian. Menurutnya, UNAIR selalu berupaya menghilangkan konflik kepentingan. Semua yang direkrut harus bersandar pada prestasi atau kapabilitas seseorang.

“Jangan sampai ada seorang Kabag (kepala bagian, -red) menduduki posisi itu karena dulu ayahnya juga Kabag,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR itu.

Lelaki kelahiran Gresik yang juga menjadi narasumber dalam acara menambahkan, bidang-bidang lain tak luput dari perhatian. Contohnya, bidang pengadaan, kemahasiswaan, maupun bidang lainnya. “Kami ingin menyisihkan segala konflik kepentingan di semua bidang di UNAIR,” urai dia.

Seminar tersebut juga dihadiri oleh sejumlah stakeholder. Selain perwakilan institusi yang menjadi pioner dalam seminar, tampil pula sebagai narasumber komisioner KPK Alexander Marwata, dan Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki. (*)

Penulis : Rio F. Rachman
Editor    : Binti Q. Masruroh