Ajak Mahasiswa Berfikir Kritis Melalui Film Dokumenter Jihad Selfie

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Teuku Akbar Maulana (Merah) , Dosen HI UNAIR Ahmad Safril Mubah (Putih), dan Noor Huda Ismail (Hitam) dalam sebuah sesi diskusi di Aula Soetandyo FISIP UNAIR, Kamis (8/9). (Foto: Luthfi Al Jufri)

UNAIR NEWS – Tentu publik masih ingat, beberapa remaja Indonesia menyatakan dukunganya dan bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syiria (NIIS) beberapa bulan lalu. Hal ini tentu saja menjadi persoalan tersendiri, mengapa para remaja mau untuk mendukung dan bergabung dengan kelompok terorisme tersebut?

Untuk membahas permasalahan tersebut, CSGS (Cakra Studi Global Strategis) Lecture Series mengundang Noor Huda Ismail dan Teuku Akbar Maulana. Melalui diskusi yang diadakan di Aula Soetandyo FISIP UNAIR, Kamis (8/9)  tersebut, keduanya menjelaskan melalui sebuah  film dokomenter berjudul “Jihad Selfie”.

Film tersebut mengupas pengalaman pribadi Teuku Akbar Maulana dan teman-temanya yang akan bergabung dengan ISIS melalui informasi yang beredar di Facebook. Akan tetapi, Akbar tidak sampai bergabung, lantaran tidak direstui oleh orang tuanya.

Pada titik ini, Noor Huda melihat celah dimana kondisi anak muda yang galau dan hubungan sosial yang kurang baik dengan orang tua dan teman sebayanya. Masa galau untuk menemukan jati diri itulah yang digunakan pihak jaringan teroris untuk merekrut anggotanya.

“Ketika teman-teman saya pergi ke Suriah, saya menelepon ibu, akan tetapi ibu tidak mengizinkan. Akhirnya saya tidak jadi bergabung (dengan ISIS,red),” ungkap pelajar yang mendapat kesempatan beasiswa sekolah menengah atas di Turki tersebut.

Akbar bercerita mengenai teman baiknya yang bergabung dengan ISIS telah mengikuti pelatihan militer dengan menenteng senjata AK-47. Bagi mereka, hal tersebut merupakan suatu hal yang keren. Bahkan ada juga yang mengunggah foto di media sosial dengan perasaan bangga.

“Teman-teman saya terlihat keren, foto membawa senjata diunggah di facebook, di-like sama ukhti-ukhti,” ujar Akbar.

Cerita singkat Akbar inilah yang akhirnya meyakinkan Noor Huda untuk membuat sebuah film dokumenter. Walaupun bukan pembuat film yang handal, akan tetapi ia memiliki pesan yang disisipkan melalui film tersebut. Noor Huda ingin menunjukkan sisi lain dari perekrutan ISIS, dimana dalam banyak kasus, para remaja sebagai korbannya.

Banyak pihak yang secara sukarela ikut membantu dalam proses produksi film, baik di Turki, Australia, maupun di beberapa kota di Indonesia. “Pembuatan film ini tidak dihitung berapa habisnya, kuncinya adalah trust dan kerja bareng” ujar peraih gelar master dalam Studi Keamanan Internasional dari St. Andrews University Inggris tersebut.

Menurut Noor Huda, tujuan film ini adalah untuk mengajak berfikir kritis. Berfikir bahwa untuk berjihad, tidak perlu bergabung dengan sebuah kelompok teroris. Mencintai dan patuh dengan orang tua pun merupakan jihad.

“Saya berharap, penikmat film dokumenter ini dapat berfikir kritis, kemudian berdiskusi bersama,” tutur pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian tersebut. “Syarat menonton film ini, harus ada diskusi bareng,” pungkasnya.(*)

Penulis: AhallaTsauro
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu