Perguruan Tinggi Harus Banyak Menampung Mahasiswa Miskin Berprestasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2009-2014 Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA memberikan orasi ilmiah kepada 1.506 mahasiswa baru pascasarjana. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2009-2014 Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA memberikan orasi ilmiah kepada 1.506 mahasiswa baru pascasarjana. Orasi ilmiah tersebut disampaikan pada acara pengukuhan mahasiswa baru pascasarjana semester gasal tahun akademik 2016-2017 yang berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC) UNAIR, Kamis (1/9).

Melalui orasi ilmiahnya, Prof. Nuh memberikan pesan kepada mahasiswa baru agar menjalani studi bukanlah sekadar demi mendapatkan gelar. “Mengetahui tujuan dan konsekuensi. Toga menjadi tujuan apakah menjadi konsekuensi. Mulailah menata niat, niat mencari ilmu. Sebab tujuan mencari ilmu adalah meningkatkan kepribadian,” kata Prof. Nuh.

Mendikbud RI yang ikut menggagas diadakannya beasiswa Bidikmisi ini, berharap agar UNAIR menjadi perguruan tinggi yang lebih banyak lagi menampung mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi.

“Perguruan tinggi yang baik bukan perguruan tinggi yang membeber mobil-mobil mewah berparkir. Tapi perguruan tinggi yang membeber karpet merah untuk anak-anak miskin berprestasi,” ujar profesor yang saat ini menjadi dosen bidang Teknik Elektro ini.

Pada kesempatan ini, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengatakan, kompetisi dan kerjasama adalah dua hal yang harus berjalan beriringan dalam menjalani hidup. “Hidup ini dibatasi dinding kerjasama dan dinding kompetisi. Jangan sekali-kali menganggap tidak penting kompetisi atau kerjasama. Pada dua-duanya lah hidup ini berjalan,” ungkapnya.

Ia mengatakan agar mahasiswa memiliki visi misi yang jauh ke depan. Sebab, tantangan zaman semakin kompleks dan beragam. Ia mencontohkan dengan kehadiran teknologi mutakhir seperti munculnya Go-Jek dan Uber.

“Permasalahan begitu kompleks, sebab persoalan manusia begitu banyak. Pesan saya, latih diri untuk bisa melihat jauh ke depan. Kita harus tahu tujuan hidup ke depan, sebab persoalan semakin kompleks. Kalau kita tidak bisa melakukan itu, kita akan jadi bangsa yang kalah,” ujar Prof. Nuh.

“Pendidikan adalah sistem terbaik dan teruji untuk memotong persoalan dan rantai kemiskinan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu