Pre-Hospital Penanganan Neurotrauma di Indonesia Masih Jelek

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Peter Rilley dan Prof. Abdul Hafid Bajamal, kesatu dan kedua dari kanan, bersama pemakalah lain dalam International Syimposium on Neurotrauma and Mass Disaster Management, di Gedung Diagnostik Center RSUD Dr. Soetomo, 27-28 Agustus 2016. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Clinical Professor dari Neurosurgery School of Medical Sciences University of Adelaide, Prof. Peter Rilley, yang juga ketua ahli neurotrauma internasional, mengatakan bahwa keterlambatan membawa pasien akibat suatu bencana sampai di rumah sakit masih menjadi kendala dan penyebab tertinggi kematian pasien. Hal itu masih terjadi di berbagai negara.

”Bila keterlambatan itu bisa diatasi, kita akan bisa memiliki peluang lebih besar dalam menyelamatkan pasien akibat suatu trauma,” kata Prof. Peter Rilley dalam makalahnya ”Pre-hospital Care for Brain and Spinal Injury” pada International Syimposium on Neurotrauma and Mass Disaster Management, yang diselenggarakan SMF Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo, di Gedung Diagnostik Center RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 27-28 Agustus 2016.

Menurutnya, selain keterlambatan akibat kemacetan di jalan raya di negara tertentu, kualitas pertolongan pertama terhadap pasien cedera akibat trauma juga sangat penting. Dikatakan, neurotrauma adalah penyebab utama kematian yang disebabkan oleh trauma itu sendiri. Tetapi semua pasien trauma yang memiliki luka berpotensi bisa diselamatkan, terutama yang cedera dada dan pendarahan yang tidak terkontrol.

”Guna meminimalkan mortalitas dan morbiditas, yang pertama lakukan transportasi cepat dengan perawatan trauma yang tepat pula, kemudian resusitasi yang cepat, dan pantau terus dalam perawatan di ruang ICU,” kata Peter Rilley.

Pre-Hospital Belum Bagus

Ketua panitia simposium, Prof. Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr, Sp.BS., kepada UNAIR News mengatakan, dari diskusi ini dihasilkan kesimpulan berdasarkan pendapat pemakalah bahwa penangangan pre-hospital di negara kita masih jelek. Inilah yang menimbulkan keterlambatan pasien trauma dapat ditangani secara benar dan cepat hingga sampai di rumah sakit. Inilah antara lain yang menyebabkan pasien tidak terselamatkan.

Selama ini, ketika terjadi kecelakaan atau bencana, polisi lalu memanggil ambulan. Tetapi karena di daerah atau jauh dari kota, maka yang terdekat adalah Puskesmas. Sayangnya yang datang itu sering hanya ambulan dan sopirnya. Karena pertolongan pertama kurang tepat, maka itulah antara lain kendala masih terjadinya banyak kematian pasien trauma sebelum sampai di rumah sakit.

”Saya mendengar dari siaran radio bahwa catatan Kemenhub di seluruh Indonesia per hari terdapat 70 kematian di jalanan. Artinya pasien itu mati sebelum sampai di rumah sakit,” kata Prof. Hafid.

Guru Besar FK UNAIR ini berharap permasalahan seperti itu bisa kita perbaiki untuk mengurangi angka mortalitas. Ia menggarisbawahi masukan pembicara asal Hong Kong yang mengusulkan manajemen penanganan trauma secara top-down. Pemerintah yang memfasilitasi, termasuk penyediaan ambulans dengan fasilitas lengkap. Sebab jika yang terjadi sebaliknya, usulan dari bawah (bottom-up), maka akan mengalami kesulitan karena membutuhkan dana yang besar.

”Sekarang semua pihak menyediakan ambulan. Memang banyak ambulan itu bagus, tetapi nanti juga harus dilengkapi dengan personil yang terlatih. Ini yang harus kita pikirkan, termasuk tentang koordinasinya,” lanjut Prof. Hafid.

Hasil simposium dua hari ini juga akan direkomendasikan dan disampaikan kepada pemerintah. Rekomendasi itu ditandatangani oleh Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia bersama dengan Asian Australia Society of Neurosurgery.

Diantara yang direkomendasikan kepada pemerintah itu adalah pengelolaan ambulan dianjurkan tidak melekat pada rumah sakit, tetapi menjadi satu departemen tersendiri, khusus ambulan. Seperti yang diusulkan Dr. Sitorus dari Palembang, karena terkait dengan transportasi maka masukkan saja dalam Kementerian Perhubungan. Kemudian memperbaiki fasilitas rumah sakit baik di tingkat distrik (Kabupaten/Kota) maupun di rumah sakit utama (rujukan) agar pasien bisa ditangani optimal.

Yang ketiga koordinasi dalam mengedukasi masyarakat, sebab inilah salah satu kendala dalam memperbaiki pelayanan pre-hospital. Antara kepolisian, Kemenkes/rumah sakit, Kemenhub dan pihak lain yang terkait hendaknya bisa duduk bersama membuat perencanaan yang terpadu, sehingga tidak parsial sendiri-sendiri.

”Apalagi secara geografis Indonesia ini masuk dalam ring of fire, rentan terjadi bencana, sehingga harus disiapkan organisasi, sistem, dan koordinasi yang baik,” kata Prof. Abdul Hafid Bajamal. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu