Prof. Dr. Suherni Susilowati, M.Kes, drh dalam pidatonya pada pengukuhan guru besar UNAIR yang dilaksanakan pada Sabtu (27/8). (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ketersediaan pangan termasuk yang berasal dari hewan, terus menjadi tantangan bagi Indonesia. Tantangan tersebut salah satunya adalah soal keberhasilan inseminasi buatan atau kawin suntik. Inseminasi buatan ini merupakan alternatif pilihan yang dapat digunakan dalam mempercepat program peningkatan kualitas bibit ternak dan mempermudah penyebaran bibit ternak, termasuk ternak kambing dan domba.

Latar belakang penelitian itulah yang disampaikan Prof. Dr. Suherni Susilowati, M.Kes, drh dalam pidatonya pada pengukuhan guru besar UNAIR yang dilaksanakan pada Sabtu (27/8). Prof. Suherni dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Inseminasi Buatan pada Fakultas Kedokterah Hewan UNAIR. Ia menyampaikan naskah pidato dengan judul “Potensi Frozen Semen pada Kawin Suntik Kambing Sebagai Upaya Memenuhi Kebutuhan Protein Hewani”.

Menurutnya, salah satu faktor pendukung dalam upaya mengoptimalkan program inseminasi buatan pada ternak kambing adalah tersedianya semen beku yang memenuhi standar minimal. Dari penelitian yang ia hasilkan, semen yang dibekukan ternyata mudah mengalami kerusakan sehingga perlu ditambahkan protein Insulin Like Growth Factor-I Complex dalam medium bahan pengencer sehingga dapat menekan kerusakan semen.

Dalam pidatonya Prof. Suherni mengatakan, peningkatan suplai daging kambing baik secara langsung maupun tidak langsung, akan mengurangi tekanan terhadap pemotongan sapi potong produktif sekaligus mengurangi jumlah impor daging sapi.

Sampai saat ini, berbagai teknologi telah diciptakan dan telah dipergunakan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi ternak. Inseminasi buatan merupakan awal pemakaian bioteknologi reproduksi pada hewan jantan. Selain itu, keuntungannya adalah peternak tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pemeliharaan pejantan dan dapat memperbaiki kualitas genetik dalam waktu yang relatif singkat.

“Salah satu faktor pendukung dalam upaya mengoptimalkan program inseminasi buatan atau kawin suntik pada ternak kambing adalah tersedianya semen beku yang memenuhi standar minimal. Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan semen beku kambing yang memenuhi standar minimal yang layak digunakan dalam program inseminasi buatan,” tutur Prof. Suherni.

Menurut Prof. Suherni, penyebab hal tersebut adalah proses pembekuan yang menyebabkan kerusakan fungsi maupun struktur membran dan kemampuan spermatozoa untuk mempertahankan hidup.

“Untuk mengefisiensikan reproduksi kambing sehingga terjadi peningkatan populasi ternak kambing di Indonesia dimana tercapainya kebutuhan protein hewani perlu mengetahui peran dari protein Insulin Like Growth Factor-I Complex,” ujarnya.

Insulin Like Growth Factor I berperan terhadap pengaturan fungsi spermatozoa sebelum dan sesudah ejakulasi terutama dalam meningkatkan motilitas dan kapasitasi. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone