Asma, Lulusan Perdana Kelas Internasional FK, Bagai Pejuang Perintis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Seusai dilantik sebagai dokter, Asma (tengah) didampingi ibunya dan juga suaminya, Pandu (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Kelas internasional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga untuk pertama kali tahun 2016 ini meluluskan dokter. Dari sepuluh mahasiswa angkatan pertama, baru dua yang lulus. Dialah Asma dan Andianto Indrawan T. Mereka sudah dilantik Dekan FK bersama dengan 134 dokter baru lain dari kelas reguler.

Bagi Asma, menjadi dokter lulusan pertama kelas internasional FK UNAIR sungguh sangat membanggakan. Goresan tinta dengan Bahasa Inggris pada Ijazahnya menjadi salah satu pembeda dengan ijazah dari kelas reguler. Selain itu, “menetas” dari angkatan pertama seperti ini merasa bagai pejuang perintis. Karena angkatan pertama, mereka tak punya kakak kelas. Tidak ada yang ngajarin baik tentang kurikulum, dosennya seperti apa, ujiannya bagaimana, dsb.

”Saya katakan demikian karena memang kurikulumnya ada bedanya. Kami bersepuluh benar-benar struggle. Dari sepuluh itu ada tiga cewek dan saya satu-satunya yang berkerudung,” kata Asma kepada UNAIR News.

Diakui ada beberapa modul kurikulum yang tidak ada di kelas reguler. Lalu karena mahasiswanya hanya sepuluh, dua diantaranya asal Malaysia, maka intensitas hubungan dosen-mahasiswa menjadi lebih intensif sehingga ada keleluasaan untuk berdialog.

”Seakan kami ini les privat,” kata Asma, yang ketika diwawancarai ini sedang mengandung hampir sembilan bulan calon buah hati pertamanya hasil pernikahannya dengan Pandu.

Tantangan lain, selain bahasa pengantarnya Bahasa Inggris, karena kurikulumnya beda maka bahan perkuliahan pun harus mencari sendiri. Dosen hanya memberi judul materinya, mahasiswa mencari sendiri. Setelah bahan didapat lalu didiskusikan secara kelompok, jadi lebih banyak diskusinya.

Mereka juga intens mencatat sesuatu yang bisa dicatat sebagai bahan membuat pedoman yang kelak bisa dipakai oleh adik kelasnya di kelas internasional ini. Misalnya dengan modul ini maka harus begini. Masuk modul itu harus begitu, perlu berapa hari mendalami, tantangannya ini-itu, dsb.

”Sebagai angkatan perintis, kami sudah membuat trik-trik seperti itu agar kedepannya para adik kelas menjadi lebih baik lagi. Jadi kami sudah memikirkan jauh kedepan,” kata Asma.

Kualitas Tidak Kalah

Motivasinya masuk FK UNAIR sebenarnya hanya ingin menjadi dokter. Tak terlintas harus masuk kelas internasional. Kala itu mahasiswa ditawari dua pilihan; kelas reguler dan internasional. Tapi Asma mengisi keduanya. Karena kelas internasional diumumkan lebih dulu, dan Asma ada disana, maka ia manut saja. Apalagi modal untuk mengarunginya sudah ada yaitu skor toefl 550.

”Ada juga sih sedikit keinginan menjadi dokter global. Tetapi pertimbangannya waktu itu karena ini kelas kecil, jadi kayaknya lebih enak, lebih terlihat oleh dosen. Jadi lebih tertantang,” katanya.

Satu lagi yang mengesankan dari kelas global ini adalah program elektif, studi ke luar negeri selama satu bulan. Pada angkatan perdana ini memilih ke Jepang. Sepuluh mahasiswa harus memilih departemen dan universitas berbeda. Asma memilih Obstetri & Ginekologi (Obgin) pada Faculty of Medicine Osaka University. Di program elektif inilah mahasiswa mengerti dan mendapat wawasan global tentang etos kerja bangsa lain, budayanya, wawasan mereka, semangat belajarnya, dsb.

Salah satu yang membanggakan kita, kata Asma, ternyata kualitas pendidikan dokter di FK UNAIR ini sangat baik, bahkan lebih unggul dari Osaka University. Saat itu Asma belum berstatus DM (Dokter Muda). Tetapi karena hanya seorang, maka di Osaka kelasnya disatukan dengan mahasiswa DM di sana. Dalam suatu forum semua mahasiswa wajib menjawab pertanyaan professor, termasuk Asma.

”Mahasiswa Osaka heran. Lalu saya ditanya: ‘Kamu itu belum DM, tapi kok bisa menjawab’. Disitu saya merasa bahwa kita lebih baik. Mungkin itu karena perbedaan teksbook. Di Osaka memakai buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang, sedang FKUA teksbook internasional berbahasa Inggris. Bahkan melihat buku teks yang saya bawa, mereka juga bertanya: ‘Itu buku apa?’ Padahal itu kan buku pegangan utama,” kata Asma, senang.

“Jangan takut menjadi mahasiswa FK kelas internasional,” katanya memberi saran untuk mahasiswa baru FK UNAIR. Harus belajar, berusaha dan berdoa, itu pasti untuk menjalani studi. Doa orang tua juga sangat penting.

Kepada mahasiswa FK yang sudah melewati fase per-DM-an, diingatkan bahwa menjadi dokter itu bukan hanya butuh pintar, tetapi atitude juga penting. Bagaimana membangun relasi, punya skill untuk ngomong dengan pasien yang baik itu seperti apa, dsb.

Intinya, menjadi mahasiswa kelas internasional FK UNAIR sungguh sangat menantang. Jumlah mahasiswanya lebih sedikit. Kakak kelasnya juga sedikit. Kendati demikian, kata Asma, benar-benar asyik karena dalam perjalanan waktu akan banyak pengetahuan yang diperoleh untuk menjadi dokter yang berkualitas. (*)

Penulis: Bambang Bes

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu