UNAIR Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Universitas Airlangga kembali mengukuhkan tiga guru besar pada Sabtu (27/8). (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kembali mengukuhkan tiga guru besar pada Sabtu (27/8). Ketiga guru besar tersebut yaitu Prof. Myrtati Dyah Artaria, Dra., MA., Ph.D sebagai Guru Besar bidang Ilmu Antropologi, Prof. Dr. Suherni Susilowati, M.Kes., Drh sebagai Guru Besar bidang Ilmu Inseminasi Buatan, dan Prof. Dr. I Komang Wiarsa Sardjana, Drh sebagai Guru Besar bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Bedah Veteriner.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus C UNAIR dan dihadiri oleh Ketua dan Anggota Senat Akademik, Para Guru Besar, Pimpinan Universitas, Fakultas, Program Pascasarjana, Direktur Direktorat, Ketua Lembaga, Badan, Pusat, Para dosen dan karyawan di lingkungan UNAIR.

Sejak Universitas Airlangga didirikan pada tahun 1954, secara berurutan ketiganya merupakan Guru Besar yang ke-450, 451 dan 452. Namun, sejak Universitas Airlangga berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), ketiganya merupakan Guru Besar yang ke-158, 159, dan 160.

Pada kesempatan ini, Prof. Myrtati menyampaikan pidato dengan judul “Identifikasi Individu Tak Beridentitas di Indonesia”. Selain itu Prof. Suherni menyampaikan pidato dengan judul “Potensi Frozen Semen pada Kawin Suntik Kambing Sebagai Upaya Memenuhi Kebutuhan Protein Hewani”. Sedangkan pidato yang disampaikan Prof. Komang berjudul “Menuju Swasembada Daging Di Indonesia Dengan Tes Progesteron Paper Strip”.

Dalam sambutannya Rektor UNAIR mengatakan, dengan dikukuhkan tiga guru besar dapat menambah SDM berkualitas dan khasanah ilmu pengetahuan yang semain bertambah.

“Ketiga naskah pidato Pengukuhan Guru Besar ini menjadi salah satu karya akademik di lingkungan Universitas Airlangga. Sebagai sebuah karya akademik, maka keberadaannya bisa digunakan untuk beragam keperluan semisal sebagai referensi bagi akademisi lainnya,” kata Prof Nasih.

Selain itu, Prof Nasih juga berharap, teaching farm sebagai salah satu laboratorium kehewanan yang dimiliki UNAIR bisa semakin bertambah. Saat ini, salah satu teaching farm yang dimiliki UNAIR berada di Driyorejo, Gresik.

“Salah satu yang akan terus kita dorong adalah teaching farm (taman ternak pendidikan, -red), laboratorium bagi FKH UNAIR untuk bisa menghasilkan swasembada pangan,” ujar Rektor.

Pada kesempatan ini, Prof Komang merekomendasikan dua hal kepada UNAIR dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pertama, diperlukan kegiatan pendidikan praktek pada hewan besar khususnya sapi maupun kuda di lingkungan UNAIR. Target hal ini yaitu menghasilkan dokter hewan yang mampu mengatasi problematik di lapangan berkaitan dengan penanganan hewan besar. Sedangkan untuk Pemprov Jatim, diperlukan lebih banyak lagi adanya Pos Kesehatan Hewan di daerah, khususnya di sentra peternakan rakyat. Hal ini demi menunjang program menuju swasembada daging.

Pengukuhan guru besar ini juga dihadiri oleh Wardiman Djojonegoro Menteri Pendidiakn dan Kebudayaan tahun 1993, tamu kehormatan dari beberapa negara, serta pejabat pemerintah kota di Jawa Timur. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu