Sejak 1954, UNAIR Miliki 452 Guru Besar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ucapan selamat kepada ketiga guru besar yang akan dikukuhkan sabtu (27/8). (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Pada pertengahan tahun 2016, Universitas Airlangga memiliki tiga guru besar baru yang akan dikukuhkan pada Sabtu (27/8). Ketiganya akan dikukuhkan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E, M.T, Ak.

Ketiganya adalah Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D selaku Guru Besar bidang Ilmu Antropologi (FISIP), Prof. Dr. drh. Suherni Susilowati, M.Kes selaku Guru Besar bidang Ilmu Inseminasi Buatan (FKH), dan Prof. Dr. I Komang Wiarsa Sardjana, drh., selaku Guru Besar bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Bedah Veteriner (FKH).

Sejak UNAIR didirikan pada tahun 1954, secara berurutan ketiganya merupakan guru besar ke-450, 451, dan 452. Namun, sejak UNAIR berstatus perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN – BH), ketiganya merupakan guru besar ke-158, 159, dan 160.

Pada fakultas masing-masing, Prof. Myrtati merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik aktif ke-16. Sedangkan, Prof. Suherni adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan aktif ke-23, dan Prof. Komang adalah Guru Besar FKH aktif ke-24.

Dengan bertambahnya jumlah guru besar UNAIR, maka UNAIR diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata yang lebih banyak kepada masyarakat. “Kita menunggu bagaimana pemikiran itu direalisasikan dan diamalkan. Sehingga, UNAIR bisa berkontribusi secara nyata di bidang swasembada pangan dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang tepat,” tutur Rektor UNAIR.

Dalam jumpa pers terkait pengukuhan guru besar baru, ketiganya menjelaskan ringkasan orasi ilmiah. Prof. Myrtati akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Identifikasi Individu Tak Beridentitas di Indonesia”. Dalam konferensi pers, Prof. Myrta menyampaikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekhasan dari aspek genetika akibat masih banyaknya perkawinan endogami.

“Perkawinan endogami adalah perkawinan dengan orang segolongan, entah itu etnis yang sama, daerah yang sama, dan lebih banyak lagi, agama yang sama. Karena bunyi sila kesatu Pancasila, itu cukup berdampak pada kekhasan di Indonesia,” tutur Prof. Myrta dalam konferensi pers, Kamis (25/8).

Prof. Myrta melanjutkan, akibat perkawinan endogami itu, identifikasi individu tak beridentitas tak begitu mengalami kendala. Hal ini berbeda dengan aspek genetika dari luar negeri yang sudah banyak melakukan kawin campur.

Guru besar kedua yang menyampaikan keterangan pers mengenai orasi ilmiahnya adalah Prof. Suherni. Dalam orasi ilmiah berjudul “Potensi Frozen Semen pada Kawin Suntik Kambing sebagai Upaya Memenuhi Kebutuhan Protein Hewani”, Prof. Suherni menyatakan kualitas semen beku merupakan salah satu faktor pembatas terhadap keberhasilan program inseminasi buatan pada kambing. Untuk itu, perlu diatur penggunaan insulin Like Growth Factor-I Complex pada semen beku.

Guru besar ketiga yang menyampaikan keterangan pers mengenai orasi ilmiahnya adalah Prof. Komang. Dalam orasi ilmiah berjudul “Menuju Swasembada Daging di Indonesia dengan Tes Progesteron Paper Strip”, Prof. Komang mengembangkan metode baru untuk mengetahui status reproduksi ternak secara cepat, mudah, dan murah. Metode ini merupakan kit diagnostik untuk pemeriksaan kebuntingan dini pada sapi. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu