Mahasiswa OSI Ciptakan Alat Permudah Pantau Perusahaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Mahasiswa OSI berpose didepan mesin temuannya. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dua mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga berhasil menciptakan prototipe alat Smart Machine Industry yang digunakan untuk pengemasan dan pengepakan obat. Mesin ini dapat dikontrol dan dipantau melalui internet maupun gadget yang mempunyai OS Android.

Tentu saja, mesin ini tidak hanya bisa mengemas dan mengepak obat saja, tapi juga bisa untuk mengemas permen dan vitamin. Caranya, dengan cara mengganti black magic box (kotak berwarna hitam pada alat).

Kedua mahasiswa Fakultas Vokasi tersebut adalah Ahmad Amirudin dari Program Studi Otomasi Sistem Instrumentasi (OSI) angkatan 2013 dan Mochammad Fauzi yang dari program studi yang sama. Karya ini merupakan bagian dari tugas akhir yang digunakan untuk syarat kelulusan mereka.

“Latar belakang dibuatnya Smart Machine Industri yaitu, industri pembuatan mesin untuk pabrik masih sangat sedikit di Indonesia. Rata–rata mesin yang berada di pabrik berasal dari China dan Jerman. Mesin–mesin di industri umumnya masih menggunakan panel Human Manchine Interface (HMI) sebagai tampilan pemantau. Selain itu, jangkauan pantauan juga masih berskala lokal, kata Ahmad Amirudin.

Maka dari itu, mereka berdua membuat prototipe Smart Machine Industri yang bisa dimonitoring dari internet dan smartphone android. Inovasi ini dapat memudahkan para manager dan pemegang saham perusahaan dalam memantau perusahaan mereka. Penciptaan inovasi ini sekaligus menunjukan bahwa sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing dengan negara luar, setidaknya lingkup ASEAN.

“Metode perancangan mesin ini yaitu pertama, kami mendesain mekanik terlebih dahulu dengan menggunakan software google sketchup dan solidwork. Setelah gambar teknik jadi, kami merancang kerangka untuk konveyor beserta 3 core plant prosesnya. Setelah itu memasang sistem pneumatic ke mesin sebagai aktuator dari 3 core plant proses,” lanjutnya.

Untuk mengontrol silinder pneumatik, mereka menggunakan CKD Selenoid Valve yang mereka sambungkan ke input PLC. Pada bagian perangkat kerasnya, mereka merancang sendiri berbagai macam rangkaian elektronik, seperti rangkaian komporator, rangkaian pembatas input, arduino shield for PLC, dan sensor photodiode sebagai pendeteksi barang.

Sedangkan untuk perancangan perangkat lunak, pertama mereka membuat flowchart-nya, lalu mulai melakukan pengamatan input dan output alat. Setelah melakukan pengalamatan, mereka melakukan pengkabelan antara perangkat keras dan pengendali. Untuk pengendali, mereka menggunakan PLC Omron sebagai pusat kendali dan arduino sebagai cabang pengendalinya. Arduino ini juga digunakan untuk menjembatani proses pantauan dari HP Android maupun dari internet ke mesin.

Namun sebelum itu, arduino harus dipasang ethernet shield terlebih dahulu dan disambungka ke router yang tersambung internet.

“Setelah tersambung, kami membuat tampilan laman pantauan dengan menggunakan beberapa bahasa pemrograman yang terdiri dari php, ajax, css, html, javascript, dan mysql. Kami menggunakan database untuk menyimpan data jumlah produksi, karena itulah memakai mysql,” kata Mochammad Fauzi.

Setelah tampilan laman selesai, mereka membuat program untuk tampilan smartphone android dengan menggunakan software android studio. Setelah semua beres, baru mesin bisa dijalankan untuk mengemas dan mengepak.

Lebih modern, dapat mengoperasikan mesin dalam skala luas dengan menggunakan internet yang dapat diakses melalui laptop dan smartphone. (Foto: Istimewa)
Lebih modern, dapat mengoperasikan mesin dalam skala luas dengan menggunakan internet yang dapat diakses melalui laptop dan smartphone. (Foto: Istimewa)

Ahmad Amirudin dan Mochammad Fauzi menyadari bahwa mesin ini hanyalah sebagai prototipe. Sehingga, mesin ini masih belum bisa diterapakan ke industri–industri besar. Namun begitu, mesin ini bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran dan praktik untuk kalangan mahasiswa. Selain itu bisa juga digunakan untuk semua orang yang ingin mendalami ilmu automation.

“Ke depan, semoga prototipe smart machine industri ini bisa berkembang dan bisa diterapkan ke pabrik–pabrik besar di Indonesia,” pungkasnya. (*)

 Penulis : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu