Penelitian Molekuler, Kajian yang Lagi Ngehits di FKH

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: valleypatriot.com

UNAIR NEWS  – Penelitian di bidang molekuler sedang ngehits di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR. Para mahasiswa dari berbagai departemen maupun strata, sedang gencar melakukan kajian di ranah tersebut. Baik untuk tugas akhir, maupun sekadar paper untuk diseminarkan atau dimasukkan jurnal imiah, umumnya menggunakan topik tersebut.

Guru Besar FKH, Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, drh., M.Kes menegaskan, bidang ini memiliki korelasi erat dengan masyarakat. Aplikasinya jelas dan konkret. Sebab, yang dijadikan pokok bahasan adalah penyakit-penyakit pada hewan, yang berpotensi untuk “pindah” di tubuh manusia.

Dia mencontohkan, sakit anjing gila atau rabies, sangat mungkin mendera manusia. Tentu saja, melalui kontak gigitan hewan tersebut. Namun yang jelas, langkah pencegahan maupun terapi imbas rabies pada manusia itu, tetap saja menjadi hal yang menarik untuk dipelajari.

Virus atau kuman dari binatang, apapun bentuknya, bisa ditelaah. Untuk kemudian dicarikan vaksin atau obat khusus bagi manusia yang tertular. Prof. Anwar menerangkan sejumlah pokok bahasan lain seperti tentang Avian Influenza, Toksoplasma, Broselosis, dan lain sebagainya.

“Kajian tentang stem cell juga sedang ngetren dibahas oleh mahasiswa FKH,” ungkap pria asal Bojonegoro yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana tersebut.

Hasil penelitian dari FKH itu bisa dikembangkan lebih lanjut. Juga, dikoordinasikan dengan peneliti-peneliti lain dari fakultas lain. Tujuannya, mendapatkan rumusan yang lebih komprehensif atas suatu masalah vital di bidang kesehatan. Supaya, imbas dan manfaatnya dapat lebih besar di masyarakat.

Sementara itu, para lulusan FKH tergolong paling dicari oleh “pasar” atau dunia kerja. Khususnya, alumnus UNAIR. Paling lama, masa tunggu sarjana untuk mendapat pekerjaan mapan sekadar satu bulan.

Ada banyak lapangan pekerjaan yang dapat dimasuki oleh jebolan FKH. Bisa dengan membuka praktek mandiri untuk ternak hewan besar. Misalnya, sapi, kambing, kuda dan lain sebagainya. Dapat pula dengan menjalankan ternak unggas.  Aktifitas seperti ini biasanya dilakukan di desa-desa tanah air. Bisa pula membuka praktek mandiri khusus perawatan hewan peliharaan. Misalnya, kucing, anjing, reptil, dan lain-lain. Layanan serupa ini umumnya dilaksanakan di kota-kota besar.

Selain itu, kepakaran mereka juga diperlukan untuk memberi jasa inseminasi buatan pada hewan milik warga atau peternak. Pemerintah pun butuh keahlian ini, dalam rangka menggenjot kualitas dan kuantitas daging di Indonesia. Jadi, keputusan untuk memilih fakultas ini bukan tanpa arah. Tujuan mereka yang belajar di sini jelas terukur dan masuk akal. (*)

Penulis: Rio F. Rachman
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu