Rangkuman Berita UNAIR di Media (13 sd 18/8)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Diantara peserta tes jalur mandiri Universitas Airlangga, dengan lokasi Gedung Bahasa di kampus B Jl. Darmawangsa Dalam, Minggu (24/7). (Foto: Bambang ES)

Jalur Mandiri Bisa Daftar Bidikmisi

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini mahasiswa yang mengenyam bangku kuliah melalui jalur mandiri bisa mendaftar bidikmisi. Terlebih, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menambah jatah beasiswa biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi (bidikmisi). Masing-masing PTN dapat memberikan beasiswa bidikmisi kepada 20 persen mahasiswa dari total daya tamping. Direktur Kemahasiswaan UNAIR Hadi Subhan menjelaskan, kuota tahun ini memang lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya. Daya tamping UNAIR tahun ini 6.999 mahasiswa. Dengan jumlah tersebut, kuota beasiswa bidikmisi yang diperoleh UNAIR 1.400 mahasiswa. Tahun ini, UNAIR membuka beasiswa untuk mahasiswa jalur mandiri. Untuk besaran bidikmisi yang diterima mahasiswa, tidak ada perubahan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Jawa Pos, 13 Agustus 2016 halaman 33

Cepat Deteksi, Cegah Gangguan Dobel

Orang tua menjadi penentu tumbuh kembang anak, termasuk anak dengan gangguan pendengaran. Kecepatan penanganan diharapkan mencegah perembetan ke dampak lain. Misalnya, tunawicara akan merembet pada kecerdasan. Dr dr Nyilo Purnami SpTHT-KL(K), alumnus FK UNAIR menjelaskan, deteksi pendengaran dapat dilakukan sejak usia 2-30 hari. Hal itu dapat diketahui dari respons anak saat diajak berinteraksi. Kalau respons tidak normal, gangguan pendengaran dapat terlihat. Deteksi dini bisa dilakukan orang tua. Misalnya, dengan menepuk-nepuk punggung anak dan mencermati respons anak saat mendengarkan suara keras.

Jawa Pos, 14 Agustus 2016 halaman 33

Sebab Primbon Bukan Kitab Suci

Banyak masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi. Inilah yang membuat seorang Dr. Lucy Dyah Hendrawati S.Sos M.Kes tertarik menelitinya dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doctor bidang Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Dosen Antrologi FISIP UNAIR itu membuat disertasi berjudul “Pitungan dan Variasi Kelahiran Anak Pertama pada Etnis Jawa. Sebuah kajian akademik yang logis dan ilmiah dari sebuah buku yang sering kali disalahartikan sebagai kitab suci. Menurut Lucy, nilai seorang anak bagi masyarakat Jawa adalah sebagai jaminan hari tua, sumber pembawa kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga.

Sindo, 15 Agustus 2016 halaman 13 dan 14

Gadget Dapat Picu Miopi pada Balita

Saat ini kasus balita yang mengalami gangguan penglihatan semakin banyak. Hal itu disebabkan mudahnya balita mengakses gadget. Penggunaan gadget berlebih itulah yang membuat kondisi mata balita terganggu. Hal itu dijelaskan oleh dokter spesialis mata dosen Fakultas Kedokteran UNAIR, Rozalina Loebis Sp.M(K). Dikatakannya dalam sebulan setidaknya dirinya menangani 10 kasus gangguan mata pada balita. Mulai dari terasa pedih, merah, hingga yang berdampak pada sakit kepala. Kebanyakan masalah refraksi yang akibatnya adalah miopi atau mata minus. Penyebabnya sama, yaitu gadget yang tidak terkendali. Ia menyebut, ada kriteria pemakaian gadget secara berlebih.

Radar, 16 Agustus 2016 halaman 3

Bisa Tanya Vaksin Palsu ke Apoteker

Maraknya kasus vaksin palsu ikut membuat gerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Ketua Pengurus Cabang IAI Surabaya Liza Pristianty, M.Si A.pt  yang merupakan Alumnus Universitas Airlangga mengungkapkan, kecerewetan masyarakat terhadap masalah vaksin untuk anak bisa dimulai dari pemilihan rumah sakit. Dia menuturkan bahwa sebaiknya masyarakat memilih rumah sakit pemerintah daripada swasta, sebab kebanyakan pengguna vaksin palsu adalah rumah sakit swasta. Jika masyarakat melihat keanehan, para apoteker siap mendampingi jika ada pertanyaan.

Jawa Pos, 17 Agustus 2016 halaman 26

UNAIR menjadi Sepuluh Besar PT Terbaik Indonesia 2016

Seusai peringatan proklamasi kemerdekaan kemarin(17/8), Menristekdikti Muhammad Nasir mengumumkan pemeringkatan kampus. Dia menjamin pemeringkatan berjalan objektif. Pemeringkatan didasarkan pada tiga faktor, yakni akreditasi perguruan tinggi dan program studi, jumlah dan kualifikasi dosen, serta kinerja mahasiswa. Data yang digunakan dalam penilaian adalah data selama tahun 2015. Diantaranya data akreditasi dan jumlah serta profil dosen di pangkalan data pendidikan tinggi. Berdasarkan data Kementrian Dikti 2016,  UNAIR berada di posisi ketujuh dengan perolehan skor 3,15.

Jawa Pos, 18 Agustus 2016 halaman 3

Sindo, 18 Agustus 2016 halaman 1 dan 11

Tiga Lomba Undang Tawa

Peringatan HUT RI Ke-71 di UNAIR kemarin berlangsung meriah. Gelak tawa mewarnai lomba dayung dengan perahu gedebok. Lomba lain yang tak kalah seru adalah presenter bahasa Jawa dan lomba yel-yel tiap departemen. Setidaknya ada empat mahasiswa asing yang ikut dalam loba presenter tersebut. Salah satunya adalah Yusra Todil, mahasiswa asal Turki yang baru enam minggu berada di Surabaya. Akibatnya, logat bahasa Jawa yang disampaikan Yusra malah menjadi hiburan bagi penonton. Rektor UNAIR mengatakan, perlombaan dalam rangka perayaan Kemerdekaan RI ini untuk mendorong civitas untuk lebih bersemangat menyambut kemerdekaan yang tidak diperoleh begitu saja dan menambah momen keakraban.

Jawa Pos, 18 Agustus 2016 halaman 20

Sindo, 18 Agustus 2016 halaman 30

Penulis: Afifah Nurrosyidah
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu