Menguatkan Kembali Perjuangan Perempuan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Seminar “Refleksi Bersama, Memperkuat Platform Gerakan Perempuan Dengan Perspektif Feminisme dan Pluralisme” di Aula Soetandyo FISIP UNAIR Senin, (15/08). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Seorang perempuan secara individu perlu memahami persoalan-persoalan perempuan. Sehingga, ketika berkelompok, mampu melakukan konsolidasi membangun platform untuk kepentingan perihal perempuan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Emy Susanti., MA. selaku ketua penyelenggara acara seminar “Refleksi Bersama, Memperkuat Platform Gerakan Perempuan Dengan Perspektif Feminisme dan Pluralisme”. Seminar berlangsung di Aula Soetandyo FISIP Gedung C UNAIR pada Senin, (15/08).

Seminar diawali dengan peluncuran buku “Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Pemerintahan Orde Baru” karya Yanti Mochtar. Dalam sambutannya, Prof. Emy meyampaikan kegembiraannya, sebab acara ini sebagai tempat bertemunya akademis, organisasi, dan LSM yang notabene digerakkan oleh perempuan.

“Saya merasa senang karena acara ini dapat dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari akademisi, organisasi, dan LSM, dan berasal dari berbagai kota seperti Banyuwangi, Jember, Malang, dan Gresik” ujarnya.

Dr., Drs., Falih Suedi., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga turut hadir dalam acara tersebut. “Pada PIMNAS di IPB kemarin FISIP menyumbangkan empat orang, namun belum ada kajian perempuannya,” ujar Falih saat memberikan sambutan.

Falih menuturkan, FISIP tidak mengedepankan sistem patriaki. Sehingga, dari empat jajaran dekanat FISIP, jumlah antara laki-laki dan perempuan sama yaitu dua orang. “FISIP UNAIR juga menjunjung tinggi kemanusiaan dan pluralism,” tandasnya.

Usai peluncuran buku karya Yanti Mochtar, acara dilanjutkan dengan seminar yang merupakan acara inti. Narasumber yang mengisi seminar yaitu Prof. Dr. Emy, MA Susanti Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia (ASWGI), Dr. Ratna Saptari dari Universitas Leiden, Belanda, dan Misiyah., M.Si dari Institut Kapal Perempuan.

Dalam seminar ini, Ratna menyampaikan isi penting dari buku karya Yanti Mochtar. “Salah satu isi buku ini adalah kenyataan bahwa pada masa orde baru, ada 71 kelompok dan koalisi perempuan berkembang,” jelasnya.

Pada seminar ini, Prof. Emy menyampaikan materi seputar gerakan sosial dan gerakan perempuan. Emy bercerita mengenai tantangan dan rancangan gerakan perempuan Indonesia di masa kini.

“Gerakan sosial bukan berarti secara formal. Bentuk tindakan nyata juga termasuk gerakan sosial,” jelas dosen Departemen Sosiologi UNAIR ini.

Pemateri terakhir, Misiyah, menyampaikan mengenai membangun kesadaran kritis dan upaya memperkuat gerakan perempuan melalui pendidikan feminis. “Yang perlu kita tahu, feminis itu sejatinya adalah sadar ada penindasan, kemudian adanya relasi kekuasaan dan ada tekat untuk melakukan,” ungkapnya.

Di akhir seminar, diadakan diskusi kelompok untuk membahas langkah-langkah kedepan setelah adanya seminar. Pada diskusi ini terlihat begitu interaktif antara peserta satu dengan yang lain. (*)

Penulis : Akhmad Janni
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu