Hamka: Pesilat, Ulama, Sastrawan, dan Politisi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi/UNAIRNEWS

DI antara banyak tokoh ataupun pahlawan nasional negeri ini, nama Hamka (HAJI Abdul Malik Karim Amrullah) tersisip. Secara spesifik, agak sulit mendefinisikan sosok kelahiran 17 Februari 1908 ini. Kemampuan yang dia miliki begitu kompleks. Didapatkannya dari pengalaman dan tempaan mental sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga pergantian rezim demi rezim republik.

Melalui buku berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka yang dikarang anak kelimanya, Irfan Hamka, masyarakat disuguhi sekelumit cerita tentang pribadi bersahaja ini. Tentu saja, sebuah buku tak mungkin sanggup menampung kisah pejuang yang beberapa kali bersilang opini secara frontal dengan pemerintah ini. Namun paling tidak, pelajaran hidup dari ayah dua belas anak yang dirangkum di sini cukup untuk menambah wawasan pembaca.

Di masa sebelum kemerdekaan, Hamka adalah prajurit. Dia bergabung dengan sejumlah angkatan perang semisal Front Kemerdekaan Sumatera Barat, Tentara Keamanan Rakyat, Front Pertahanan Nasional, dan Barisan Pengawas Negari dan Kota. Bahkan, beberapa kali dia didapuk sebagai pemimpin di gerakan tersebut (Hal: 17).

Sebagai tentara, dia tak bisa mengelak dari kebiasaan masuk-keluar hutan. Kemampuan silat Minang pun menjadi wajib dimiliki. Irfan menuturkan, ayahnya termasuk salah satu pendekar di kampung. Irfan juga mengaku kalau pernah diajari ilmu silat Minang oleh Hamka.

Totalitas Hamka di medan perang terbukti dari apresiasi yang diberikan Jenderal Nasution. Pada 1960, sang Jenderal berniat memberikannya pangkat kehormatan Mayor Jenderal Tituler. Meski demikian, dengan kerendahan hati dan atas saran istrinya, Siti Raham Rasul, Hamka menolak pangkat kehormatan tersebut (hal: 199).

Mungkin tak banyak orang tahu kalau Hamka adalah pesilat atau tentara yang ikut turun di medan tempur. Masyarakat mungkin hanya paham kalau dia adalah ulama Islam. Hal itu tak lepas dari predikatnya sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah yang kharismatik. Apalagi, dia juga tergolong satu dari tak begitu banyak ulama Indonesia yang membuat tafsir Al Qur’an. Al Azhar, itulah nama tafsir Al Qur’an yang dibuatnya saat meringkuk di balik terali besi.

Ya, selama sekitar dua tahun, lelaki yang sempat belajar agama Islam secara “nekat” ke Arab Saudi sementara belum terlalu mahir bahasa Arab ini, harus rela tidur di ubin penjara Sukabumi. Sejak sekitar 1964, mantan politisi partai Masyumi ini dijebloskan rezim dengan alasan politis.

Tanpa peradilan, Hamka dan beberapa temannya mesti terpisah dari keluarga. Tapi toh, penjara membuatnya malah bersyukur. Dengan demikian, tafsir monumental yang dia impikan akhirnya terwujud.

Pengarang puluhan judul buku ini tidak sekali itu saja “bersitegang” dengan pemerintah. Ketika menjadi ketua MUI di era Soeharto, dia sempat menuai protes saat mengeluarkan fatwa haram bagi umat muslim merayakan natal bersama. Pemerintah juga agak tak sejalan dengan pendapatnya.

Mungkin karena merasa bertanggungjawab dan ingin memberi pemahaman bahwa dia teguh memegang prinsip, mundur dari jabatan dijadikan jawaban. Dia tidak menyesal.

Ini bukan persoalan prokontra terkait fatwa tersebut. Tapi lihatlah betapa sosok Hamka tidak mau terpengaruh “intervensi” pemerintah dalam memutuskan suatu perkara. Lebih baik lepas sama sekali dari kestrukturan yang ada, dari pada mesti melangkah tapi bukan pada pendirian sendiri.

Perselisihan Hamka tidak hanya terjadi terhadap pemerintah. Penulis Di Bawah Lindungan Ka’bah ini juga sempat berseberangan dengan sesama sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Hal itu dapat diketahui melalui kata pengantar Taufiq Ismail di buku ini.

Taufiq menyisipkan tentang kondisi seberang pendapat antara Pram dan Hamka. Betapa dulu Pram kerap melontarkan kritikan keras pada karya dan pemikiran Hamka. Semisal, saat halaman Lentera yang diasuh Pram di harian Bintang Timur melansir tudingan plagiat untuk karya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Seberapapun keras dan bertolak belakang pemikiran dua sastrawan besar tersebut, ternyata di masa tua, Pram menyuruh calon menantunya belajar agama pada Hamka. Ulama besar yang sempat rutin mengisi pengajian di RRI dan TVRI itu pun tidak keberatan. Taufiq yang bisa dibilang salah satu saksi hidup “pertikaian” mereka di masa lalu, kini bersaksi pula kalau sejatinya mereka sudah “berdamai”.

Meskipun disebut sebagai buku yang berisi tindak-tanduk atau kisah-kisah Buya Hamka, beberapa bab Ayah… justru tidak fokus pada peraih Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar tersebut. Terdapat tulisan yang hanya memotret pengalaman hidup Irfan dan atau keluarganya. Irfan menyebut kondisi ini sebagai suatu hal yang wajar. Dia menilai, benang merah dalam tiap bab di buku ini tetap Hamka. Sosok yang merupakan sumbu semua gerakan keluarganya. (*)

Buku

Judul           : Ayah… Kisah Buya Hamka
Penulis        : Irfan Hamka
Penerbit      : Republika Penerbit, Jakarta
Tahun          : Cetakan III, Agustus 2013
Tebal           : xxviii + 324 Halaman

Berita Terkait

Rio F. Rachman

Rio F. Rachman

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.

Leave Replay

Close Menu