Budaya “Carok” Mencuri Perhatian di Arena Pimnas Ke-29

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Inilah penampilan Tim PKM-PSH “Carok” dari Universitas Airlangga di arena Pimnas XXIX di IPB. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Budaya carok di wilayah Madura, Jawa Timur, mencuri perhatian audiens yang hadir dalam sesi presentasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-29 2016 di kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor, Rabu (10/8). Topik tentang budaya carok berjudul “Tradisi Carok: Antara Kekerasan dan Harga Diri) sebagai Solusi dalam Menyelesaikan Konflik antara Masyarakat di Desa Ketapang, Sampang, Madura” itu diusung oleh tim Universitas Airlangga dalam kategori program kreativitas mahasiswa bidang penelitian sosial humaniora (PKM – PSH).

Saat Muhammad Fadilah Budi dan empat anggota timnya mendapat giliran tampil untuk mempresentasikan penelitiannya, sontak para dosen pendamping UNAIR dan beberapa delegasi kampus lain berebut memasuki ke ruang presentasi.

“Saya tercengang dan kaget kok tiba-tiba banyak sekali dosen-dosen pembimbing yang masuk ke ruang kelas, sehingga ruangan menjadi penuh. Biasanya hanya dosen pembimbing PKM yang bersangkutan,” kata Fadilah, setelah keluar ruang selesai presentasi.

Keadaan demikian juga dibenarkan oleh dosen pembimbing PKM anak-anak FISIP UNAIR ini, yaitu Ali Sahab, S.IP., M.Si. Ali mengatakan, suasana demikian bisa meningkatkan semangat anak asuhnya untuk tampil seperti yang diharapkan. Apalagi, PKM “Carok” ini tampil seusai waktu istirahat. Jadi, suasana jiwa anggota tim PKM dan juri tentunya masih fresh. Ditambah dengan kostum Fadilah dan tim yang mengenakan busana khas Madura, yaitu kaos lorek merah dan putih yang dibalut jas almamater, serta mengenakan ikat kepala khas Madura.

Selain busana ada pula faktor yang menarik perhatian. Fadilah dan tim menyelingi sesi presentasi mereka dengan menggunakan bahasa Madura. “Mator sekelangkong (terima kasih),” ucap Fadilah dan tim ketika mengakhiri sesi presentasi.

Ali selaku dosen pembimbing ketika diwawancara mengatakan,“Yang lebih menyenangkan dan sekaligus khawatir adalah salah seorang juri, sebelum melontarkan pertanyaan, terlebih dahulu menyanyi dengan bahasa Madura. Artinya dia kan mengerti tentang budaya carok, yang dikhawatirkan akan bertanya lebih detail. Ternyata bukan asal Madura dan hanya bisa berbahasa Madura,” kata Ali Sahab, dosen FISIP UNAIR itu.

Senada dengan Ali, Fadilah juga cukup terkejut dengan salah seorang juri yang bisa bernyanyi dalam bahasa Madura. Fadilah menyangka juri tersebut adalah warga asli Madura. “Beliau bernyanyi dengan bahasa Madura itu. Bagi saya, ada kesan lebih akrab, sehingga saya akui memang juga membawa kesan positif bagi tim kami,” kata Fadilah yang juga mahasiswa asal Sampang.

Ia pun juga memohon dukungan dan restu kepada sivitas akademika agar timnya bisa meraih medali bidang presentasi pada PIMNAS kali ini. (*)

Penulis : Bambang Bes
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu