WANALA Goes To Denali: Daki Welirang Demi Hindari Penyakit Ketinggian

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim AIDEX saat berfoto bersama di halaman dalam Student Center (SC) Universitas Airlangga. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Penyakit ketinggian atau yang biasa dikenal dengan altitude mountain sickness (AMS) adalah salah satu bahaya yang kerap menyerang para pendaki gunung. Data mencatat sekitar 80 persen korban meninggal akibat penyakit ketinggian berasal dari grup pendakian yang telah terorganisir dengan baik.

Penyakit ketinggian biasanya muncul akibat badan tidak bisa beradaptasi pada ketinggian tertentu. Ketidakmampuan itu mengakibatkan banyak cairan berkumpul di sel-sel tubuh. Apabila cairan menyerang otak akan menyebabkan penyakit edema otak (cerebral oedema), dan edema paru-paru (pulmonary oedema) bila menyerang paru-paru.

Penyakit ketinggian mulai menyerang pendaki pada ketinggian 2.800 mdpl, tergantung kemampuan adaptasi tubuh. Tanda awal yang tampak pada pendaki biasanya muncul gejala pusing berkepanjangan, hilang nafsu makan, mual, muntah, dan  sesak nafas. Bila gejala itu tidak segera diatasi, bisa terjadi kematian.

Demi menghindari bahaya penyakit ketinggian saat mendaki Gunung Denali (6.168 mdpl), Alaska, Amerika Serikat pada Juni 2017 mendatang, tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEX) 2017, Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) melakukan latihan di Gunung Arjuna – Welirang selama delapan hari pada tanggal 1 – 8 Agustus.

Selama delapan hari di Arjuna – Welirang, tubuh pendaki diajak untuk beradaptasi di tempat dengan kadar oksigen rendah. Tim AIDEX melatih fisik mereka untuk menghindari penyakit ketinggian, yaitu dengan cara teknik aklimatisasi. Aklimatisasi adalah penyesuaian tubuh terhadap kadar oksigen yang tipis di ketinggian.

“AMS dapat dihindari dengan cara aklimatisasi. Oleh karena itu, agar tak terserang AMS, saat pendakian pendaki tidak boleh terlalu memaksakan tenaga dan harus menjaga tubuh agar tidak kekurangan cairan atau dehidrasi ,” terang Ketua AIDEX M. Faishal Tamimi.

Denali merupakan puncak ketiga tertinggi dalam seven summits setelah Everest (8850 mdpl) dan Aconcagua (6962 mdpl). Lazimnya, puncak gunung Denali yang berada di ketinggian 6.168 mdpl itu hanya memiliki kadar oksigen berkisar 40% dengan suhu -40° Celcius.

Menghadapi fakta itu, saat sesi latihan di Arjuna – Welirang, tim AIDEX  diwajibkan untuk beraklimatisasi dengan menetap di ketinggian 3.000 mdpl untuk melatih sistem metabolisme. Selain itu, tim AIDEX juga ditarget untuk menyelesaikan pendakian rute Pet Bocor (pos awal) – Pondokan (pos pendakian terakhir) – Puncak Arjuna sebagai latihan fisik dengan lari pulang pergi di bawah waktu 8 jam.

Ternyata, ada salah seorang anggota tim yang mengaku terserang gejala awal penyakit ketinggian. “Di hari keempat, saya sering pusing dan tidak enak makan. Mungkin karena tidak terbiasa hidup lama di gunung apalagi camp di ketinggian 3.000 mdpl,” ujar Wahyu Nur Wahid, anggota AIDEX Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Meski ada kendala, latihan dengan teknik aklimatisasi mutlak dilakukan agar tubuh memiliki kemampuan untuk beradaptasi di tempat yang memiliki kadar oksigen rendah.

Tim AIDEX beranggotakan lima orang calon atlet yang berstatus mahasiswa UNAIR. Mereka antara lain Faishal (Fakultas Sains dan Teknologi), M. Roby Yahya (Fakultas Perikanan dan Kelautan), Wahyu Nur Wahid (FISIP), Gangga Pamadya Bagaskara (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dan Yasak (FISIP).

Lewat proyek pendakian ini, tim AIDEX ingin mengobarkan semangat pemuda Indonesia untuk berprestasi di kancah internasional. (*)

Penulis: Wahyu Nur Wahid (anggota tim AIDEX)
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu