Suka Linguistik, Mahasiswa S-2 Jadi Anggota Terbaik Kamus Hidup Oxford

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Angkita Kirana Mahasiswa program studi S-2 Magister Linguistik FIB UNAIR dinobatkan sebagai member of the month pada Kamus Hidup Oxford. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kecintaan pada bahasa membuat Angkita Kirana pernah dinobatkan sebagai member of the month pada Kamus Hidup Oxford (Oxford Living Dictionary). Angkita dinobatkan sebagai anggota terbaik tepat pada bulan Juni 2016 lalu.

“Kaget. Nggak nyangka aja kenapa bisa jadi member of the month itu,” tutur Angkita ketika ditanya mengenai kesannya meraih predikat itu. Ia berbagi cerita tentang kegemarannya dalam memperbarui kosakata dwibahasa Inggris – Indonesia dan sebaliknya, di sela-sela liburan kuliahnya di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Mahasiswa program studi S-2 Magister Linguistik FIB UNAIR itu mengaku tak mengetahui secara pasti alasan manajemen memberikan predikat member of the month kepada dirinya. Namun, Angkita meyakini, ia terpilih sebagai anggota terbaik dengan alasan pengirim terbanyak jumlah kosakata ke sistem Kamus Hidup Oxford (KHO).

Ketika ditanya soal jumlah kosakata yang ia kirimkan, Angkita tak mengingat dengan pasti banyaknya perbendaharaan kata yang ia kirimkan pada bulan Juni lalu. Meski ia sudah meraih predikat anggota terbaik, ia mengaku masih aktif mengirimkan kosakata ke sistem KHO. Terakhir, Angkita baru saja menambahkan kata baru di KHO sekitar tiga hari yang lalu.

Biasanya, Angkita mengirimkan kosakata baru ke KHO pada saat waktu luang, terutama malam hari menjelang waktu tidur. Pernah dalam sehari saja, ia mengirimkan hingga 20 jumlah kosakata ke KHO.

Tentu pengguna tak bisa sembarangan dalam mengirimkan kosakata sebagai penambahan kata dalam kamus hidup. Angkita mengaku, dirinya harus melakukan cek dan ricek terhadap penggunaan kata dan konteks agar tak salah makna. Sembari menunjukkan berbagai laman internet yang dibiarkan terbuka, Angkita bercerita mengenai proses penerjemahan kata.

“Misalnya, contoh aja kata kencur. Saya cari dulu apakah kata tersebut sudah tersedia atau belum di Oxford. Kalau belum, baru saya tambahkan. Kalau mau menerjemahkan, ’kan tidak bisa langsung satu banding satu. Ini harus mencari referensi yang lain. Kadang, saya cari di ensiklopedia juga. Saya coba cari kata yang memiliki persamaan dengan kencur. Di ensiklopedia, ketemunya adalah zedoaria,” terang Angkita.

Kamus hidup

Apa itu kamus hidup? Kamus hidup adalah kamus dalam jaringan (daring) yang kosakatanya bisa diperbarui oleh para anggota yang terdaftar. Bila konteksnya adalah KHO, maka hanya para anggota tersebut yang bisa menambah kosakata baru dalam KHO.

Kamus hidup itu muncul dari fenomena kebahasaan karena bahasa merupakan sesuatu yang dinamis. Ada kata atau frase baru yang kini sering digunakan oleh penutur. Ada pula kata atau frase lama yang muncul kembali namun dimaknai berbeda. Fenomena kebahasaan yang dinamis itulah yang akhirnya mengundang para linguis untuk berkontribusi dalam pembaruan kosakata.

“Ada kosakata yang sering dipakai padahal dulu beberapa tahun lalu yang tidak ada. Contohnya, mager (malas bergerak, -red). Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ‘kan tidak ada kosakata mager itu. Ada pula kosakata yang dari dulu ada tapi baru sekarang populer. Contohnya, galau. Ada pula kosakata yang dari dulu ada tapi sekarang jarang digunakan. Contohnya, syahbandar,” terang Angkita.

Dukungan perkembangan teknologi informasi juga turut serta dalam memengaruhi munculnya kamus hidup. Angkita menambahkan, kamus hidup merupakan perkembangan yang luar biasa, karena adanya daring merupakan sesuatu yang praktis daripada harus membawa kamus cetak yang begitu tebal. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu