Gus Dur, PKB, dan Perpolitikan Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) adalah sebuah partai yang kelahirannya dibidani NU dengan kepala bidan Gus Dur. Demikian Gus Mus (Sapaan akrab A.Mustofa Bisri) menyebut proses awal berkaitan dengan terbentuknya PKB. PKB dianalogikan serupa Golkar, yang kelahirannya dibidani tentara dengan kepala bidan Pak Harto (Hal: 48). Sulit dimungkiri, bahwa PKB sangat identik dengan Gus Dur. Walaupun realita berkata bahwa PKB kubu Gus Dur kalah bersaing dengan PKB kubu Muhaimin Iskandar kala bertempur di ranah hukum.

Berbicara PKB, secara otomatis pikiran akan digiring dalam kasus perpecahannya. Ternyata, konflik PKB tidak hanya terjadi di era Cak Imin (sapaan Muhaimin Iskandar). Dulu, ketika Matori Abdul Djalil masih aktif di pengurusan organisasi tersebut, polemik dan konflik juga sempat terjadi. Konflik itu pun masih berkaitan dengan Gus Dur.

Gus Dur yang dikenal sebagai guru Matori, dan Matori yang populer sebagai murid kesayangan Gus Dur, pernah beradu di meja hijau. Kalau diamati lagi, sebenarnya ada hubungan emosional yang sangat kuat di antara dua kubu konflik PKB yang terjadi pada dua masa berbeda. Jika dulu yang berkonflik adalah Guru dan Murid, di masa Cak Imin silam, yang bertikai adalah paman dan keponakan.

Polemik macam inilah yang nampaknya ingin dikupas oleh Gus Mus melalui buku yang sedang diresensi ini. Dia menganggap perseteruan tersebut tidaklah berguna dan hanya membuang energi. Perang dingin seperti itu justru membuat rakyat, khususnya warga NU selaku pendukung fanatik PKB, menjadi bingung dan resah. Sementara kaum Nahdliyin (sebutan bagi penganut NU) bimbang dan berkerut kening karena pemimpin-pemimpinnya di atas berselisih sengit, pihak yang berseberangan dengan mereka tentulah bertepuk tangan.

Hal serupa itulah yang sangat tidak diinginkan oleh Gus Mus, dan tentu pula tidak diharapkan oleh semua warga Nahdliyin. Apalagi, sebagai Ormas terbesar di negeri ini, kejadian apapun yang mengguncang NU, sedikit banyak akan terasa getarannya di masyarakat Indonesia pada umumnya.

Buku ini dibuka dengan takdim alias pengantar atau pembuka yang disampaikan oleh Gus Mus  sendiri selaku penulis. Ada sepenggal kenarsisan di bagian itu. Yakni kala Gus Mus merasa ‘dihormati’ oleh PKB, sebuah partai politik besar di negeri ini. Tapi kata ‘dihormati’ nampaknya sengaja dimasukan ke dalam tanda petik. Sebagai simbol bahwa kata ‘dihormati’ tersebut tidak memiliki arti sebagaimana umum.

Di kalimat terakhir pada takdim, Gus Mus mengungkapkan bahwa selama ini dia dihormati tapi tak pernah didengarkan oleh PKB. Kiranya demikianlah arti khusus dari kata ‘dihormati’ tadi. Layaknya jamak diketahui, seharusnya orang yang dihormati senantiasa didengarkan.

Gus Mus adalah sahabat Gus Dur. Mereka pernah satu sekolah di Mesir (Universitas Al Azhar). Mereka sering terlibat diskusi mengenai berbagai hal dan beraneka bidang kehidupan. Bahkan orang-orang tua mereka pun sangat berkenal baik satu sama lain. Salah satu sebabnya, mungkin karena mereka sama-sama tokoh NU dan sama-sama keturunan dari para tokoh NU

Keakraban kedua tokoh ini sering pula jadikan alat oleh para kyai NU untuk bisa menegur yang satu melalui yang lain. Contohnya: ketika Gus Dur dinilai oleh para kyai NU sedang salah melangkah dalam berpolitik, maka Gus Mus dimintai tolong untuk mengingatkan.

Kedekatan mereka secara otomatis menghilangkan azas kesungkanan antar kedua belah pihak. Sehingga ketika Gus Dur diangkat sebagai presiden RI keempat, di kala banyak orang mengucapkan selamat kepadanya, Gus Mus justru menghaturkan belasungkawa tanpa segan. Sebab, menurut Gus Mus, jabatan adalah amanah, sehingga harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Pertanggungjawaban jabatan di sisi Allah SWT sangatlah berat, sehingga tidaklah pantas bergembira ketika memerolehnya. Terlebih jabatan itu berwujud pemegang tampuk tertinggi negara.

Buku bersampul dengan warna dominan hijau ini, berisi belasan artikel tentang Gus Dur dan PKB. Dengan bahasa khas Gus Mus, ringan dan sederhana, tulisan di buku ini tetap memiliki kualitas yang tak kalah tinggi dibandingkan dengan rangkaian kalimat-kalimat para pakar bahasa atau politikus. Gus Mus dengan kapasitasnya sebagai salah satu tokoh NU (yang tentu sangat dekat dengan PKB), sekaligus kawan karib sang simbol PKB (yakni Gus Dur), pastilah mampu mendeskripsikan dan menganalisis dengan objektif segala permasalahan yang ada di PKB dan dalam diri Gus Dur. (*)

Buku
Judul                : Gus Dur garis miring PKB (Kumpulan Tulisan)
Penulis             : A. Mustofa Bisri
Penerbit          : MataAir Publishing, Surabaya
Cetakan           : Kedua, 2008
Tebal               : xvi + 137

Berita Terkait

Rio F. Rachman

Rio F. Rachman

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.

Leave a Replay

Close Menu