Ekha Mar’atus, Pertahankan Beasiswa dan Wisudawan Terbaik FIB UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ekha Mar’atus Sholikhah wisudawan terbaik rogram studi S-1 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai salah satu dari empat orang penerima beasiswa unggulan dari Yayasan Supersemar, Ekha Mar’atus Sholikhah dituntut untuk mempertahankan nilainya agar tetap bagus. Lulusan program studi S-1 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR tersebut mengaku, ia mendapatkan beasiswa  sejak semester tiga sampai ia berhasil lulus dan dinobatkan menjadi wisudawan terbaik.

“Sebenarnya, sejak semester satu saya sudah mengajukan beasiswa karena masalah ekonomi. Saya masuk melalui jalur mandiri tapi bukan berasal dari keluarga yang sangat mampu. Sejak saat itu, saya berusaha bisa mendapat beasiswa. Itu juga yang menjadi motivasi utama bagi saya untuk mendapat nilai bagus,” kenangnya.

Semasa kuliah, ia pernah bergabung menjadi anggota Badan Semi Otonom Sie Kerohanian Islam tingkat fakultas. Perempuan asal Gresik itu juga aktif dalam bidang riset dan keilmuan sejak tahun 2012 hingga tahun 2014.  Dalam periode tersebut, ia bersama rekan-rekan organisasinya kerap menyelenggarakan diskusi-diskusi bertema keislaman, dan peningkatan prestasi mahasiswa.

Sedangkan untuk penelitian skripsinya, ia membahas tentang dampak industrialisasi terhadap lingkungan di Gresik. Skripsinya yang berjudul “Pencemaran Lingkungan di Kabupaten Gresik (1970-1994)” termasuk kajian sejarah perkotaan dengan sudut pandang masalah lingkungan.

“Saya memilih topik tersebut karena kajian sejarah lingkungan merupakan hal baru di Indonesia, terutama prodi Ilmu Sejarah UNAIR. Selama ini, tulisan sejarah masih didominasi topik politik dan ekonomi. Historiografi Gresik memang seringkali diulas peneliti, tapi belum ada yang menyinggung soal lingkungan. Padahal kehadiran industri memberikan dampak besar terhadap perubahan lingkungan hidup,” tutur peraih IPK 3,91 tersebut.

Menurut perempuan kelahiran 8 Februari 1995 itu, industrialisasi di Gresik mulai berkembang pesat sejak tahun 1970. Tentu saja, aktivitas industri yang tinggi mempengaruhi kondisi lingkungan di sekitarnya. Sejak saat itu, masalah polusi udara, air, hingga tanah bermunculan. Udara Gresik semakin panas disertai debu, serbuk kaya, dan asap tebal. Begitu pula dengan kondisi perairan sungai maupun pantai yang mulai tercemar. Kondisi tersebut ditandai dengan air yang mengeruh, ikan-ikan yang mati secara mendadak, dan berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan telah tercemar.

Sebagai pihak yang dirugikan, masyarakat memiliki respon yang berbeda-beda terhadap sikap pemerintah dan industri dalam menanggulangi dampak buruk industrialisasi. Meski sering kali, dalam upaya penanggulangan, tidak berjalan efektif. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor : Dilan Salsabila.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu