Rektor UNAIR, Prof. Nasih Bersama Para Alumni Berpose Setelah Acara Temu Alumni Di Hotel Royal Kuningan Jakarta. (Foto: Istimewa)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Dalam rangka mendukung UNAIR menuju 500  besar World Class University (WCU), salah satu upaya yang gencar dilakukan yakni dengan mengelola database reputasi alumni. Hal tersebut yang kemudian mendorong UNAIR melalui Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK), mengadakan acara temu alumni di Hotel Royal Kuningan, Jakarta pada Minggu, (31/7). Acara yang dihadiri kurang lebih 80 alumni tersebut merupakan kali kedua setelah acara temu alumni periode I yang diadakan pada Bulan Juni lalu.

Alumni yang hadir di acara temu alumni periode II ini merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Farmasi (FF) dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Turut hadir dalam pertemuan tersebut Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., dan Wakil Rektor IV, Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., serta Dekan beserta Wakil Dekan dari FF dan FKM UNAIR.

Sedangkan beberapa alumni yang hadir, diantaranya Imam Fathorrahman selaku Dirut PT. Kimia Farma, Nur Cholis Imam selaku Dirut PT. Mushroom Factory ,Titi Sari Renowati selaku Kepala Dinas KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kemkes RI yang datang langsung dari Merauke, serta beberapa alumni lainnya dari bidang kesehatan.

“Periode satu lalu kita undang alumni dari bidang sosial, psikologi sama ilmu budaya. Untuk yang periode kedua kemaren (31/7, red) kita fokus kebidang kesehatan,” ujar Dr. Elly Munadziroh, drg., M.S., Ketua PPKK UNAIR.

BACA JUGA:  Andianto Bersyukur Lulus Kelas Internasional Angkatan Pertama FK UNAIR

Terkait pendataan alumni, Elly mengungkapkan, masih banyak kendala dalam mengidentifikasi alumni yang bereputasi. Pasalnya, sampai saat ini, pihaknya belum memiliki database yang lengkap terkait alumni dari angkatan pertama UNAIR.

“Dulu masih dalam buku induk, jadi perlu diketik ulang, itupun alamatnya bisa jadi sudah berganti, begitu juga dengan nomor telepon alumni. Jadi untuk mendata ulang alumni yang jumlahnya mencapai ratusan ribu itu butuh effort yang luar biasa,” ujar Elly.

Selain terkendala database, kesulitan dalam menelusuri keberadaan alumni sampai saat ini juga terkendala dengan jaringan. Untuk menghimpun dan memberdayakan alumni yang bereputasi, Elly mengungkapkan, pihaknya butuh informasi terformat dan terregristasi terkait keberadaan alumni.

“Untuk itu kita ini masih mengais, yaitu dengan adanya Wakil Rektor yang menangani soal alumni, yang kedua yaitu dengan adanya WCU dimana employ reputation ini juga menentukan peringkat universitas, nah dari situ kita baru bergerak cepat,” imbuhnya.

Dari pertemuan alumni periode II tersebut, Elly berharap, dapat  mempererat barisan alumni dengan almamater UNAIR. Selain itu, keberadaan alumni juga dapat mendukung pengembangan UNAIR yang didapat dari aspirasi para alumni.

“Tindak lanjutnya yang akan datang ini, mungkin dari teman-teman alumni yang berada di Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Bidang Kesehatan, red) dan dari Kementrian Kesehatan itu mau kesini untuk mensosialisasikan program-program mereka,” imbuhnya mengakhiri. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone