Bahan Organik Sudah Menumpuk, November Kolam Ikan Dikuras

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
UPAYA mahasiswa FPK UNAIR yang tergabung dalam KAKEMA bersama Tim Wanala ketika kenebar zeolid dan probiotik untuk menyelamatkan ikan-ikan di kolam Rektorat UNAIR, Mei lalu. (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Hasil analisa terhadap kondisi air kolam di “Danau UNAIR” kampus C Mulyorejo Surabaya, bahwa pada dasar danau buatan itu sudah penuh dengan bahan organik. Bahan organik ini sangat tidak baik untuk budidaya ikan. Karena itu dalam kaitan peringatan Dies Natalis Universitas Airlangga ke-62, November mendatang, setelah ikannya dipanen, air kolam itu diusulkan dikuras guna mengangkat bahan-bahan organiknya secara tuntas.

Kesimpulan itu disarikan dari analisa laboratorium terhadap sampel ikan yang mati, Mei 2016 lalu. Ukuran oksigen yang terlarut dalam air saat itu hanya 0,8 ppm (part per million) dari yang seharusnya minimal 4,0 ppm. Kemudian H2S dari penguraian bahan organik di danau itu mencapai 2 mg dari yang seharusnya hanya 0,1 mg.

”Artinya bahan organik disitu sudah tinggi, jadi harus diangkat. Untuk itu kami sudah berkoordinasi dengan Bagian Sarpras, dan rencananya dikuras November nanti,” kata Dr. Ir. Endang Dewi Masithah, M.P., Wakil Dekan I Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR. Saat kejadian banyak ikan mati, Mei lalu, Wadek I FPK ini ikut mengatasi dengan menebar zeolid dan probiotik bersama mahasiswa yang tergabung dalam Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) FPK UNAIR.

Usulan menguras kolam itu merupakan alternatif paling mungkin. Jika dengan menebar zeolid dan probiotik untuk mendegradasi bahan organik yang menumpuk, masih diperlukan dukungan dua buah kincir air. Padahal harga satu kincir Rp 3 juta. Kalau untuk standar budidaya memang juga perlu dukungan konstruksi kolam, tetapi yang di UNAIR ini bukan budidaya, sehingga cukup diatasi dengan tanpa dukungan kincir.

”Jadi usulan program jangka panjang dengan membersihkan bahan organik secara fisik, ini alternatif alami yang memungkinkan dengan bantuan sedikit zeolid dan probiotik tadi,” tambah ahli perikanan asal Kota Malang ini.

Tetapi sebenarnya, kejadian Mei itu juga dipengarughi oleh faktor alam. Cuaca ekstrim yang tak menentu: panas terik, hujan, panas lagi, hujan lagi, dst. Jika iklim pancaroba berakhir, maka berhenti pula kasusnya. Tetapi karena kondisi dasar danau seperti itu, maka menyedot sebanyak mungkin bahan organik dari dasar danau merupakan pilihan terbaik.

Dalam menguras kolam nanti, bisa dilaksanakan dengan kerja bakti massal bekerjasama dengan BEM dan Kemahasiswaan. Caranya dengan membagi kolam dalam beberapa kaplingan. Satu kapling ditangani sepuluh orang. Lumpur (bahan organiknya) diangkat menggunakan karung goni (sak).

Opsi lain memang ada. Menggunakan alat berat atau dengan probiotik. Tetapi dengan mengerahkan alat berat (beko), dikhawatirkan selain menguras biaya juga merusak taman. Jika memakai probiotik juga butuh lima kotak senilai Rp 500 ribu. Itu pun harus diulang-ulang dan memerlukan kincir air.

Menjawab UNAIR NEWS, Endang Dewi Masithah mengatakan, bahan organik di kolam itu bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, masuknya limbah yang membawa lumpur halus dari mana-mana saat hujan deras (banjir). Kedua, akibat panen dan tebar benih berulang-ulang sehingga kotoran ikan menumpuk di dasar. Ketiga, adanya plankton (berwarna hijau pekat), tetapi esoknya air menjadi bening karena planktonnya mati dan terendam ke bawah. Keempat, pakan ikan yang ditebar pengunjung kolam tidak semuanya dimakan ikan, jadi sisanya membusuk di dasar kolam.

Ketika Mei lalu terjadi cuaca ekstrim; silih berganti antara hujan, panas, hujan, dan panas lagi, ini yang menyebabkan ikan-ikan itu mati. Sebab saat terjadi panas maka suhu airnya panas semua. Tetapi ketika hujan, bagian permukaan air suhunya dingin, sedang bagian bawah masih panas. Saat suhu air dingin itu maka terjadi BD air lebih tinggi. Sifatnya berat, jadi akan mendesak air di bagian bawah. Otomatis air di dasar kolam yang tercemar bahan organik itu akan naik ke permukaan (”mudal”/endapan lumpur naik). Karena itu ketika sehabis panas kemudian hujan, maka air kolam menjadi keruh berlumpur. Inilah yang mematikan ikan-ikan tadi.

”Secara fisik ikan-ikan yang demikian itu masih layak konsumsi, karena matinya terganggu bahan organik saja. Seperti saat kami lihat, pada insang dan rongga mulut ikan terdapat lumpur, menyebabkan ikan kesulitan untuk bernafas dan akhirnya mati,” kata Endang Masithah. (*)

Penulis : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu