Belajar Menapak Jalan Kesederhanaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

Orang Maiyah adalah mereka yang tahan selama lima sampai tujuh jam, mulai sekitar pukul 20.00 hingga 03.00, duduk bareng berbagi ilmu di forum Maiyah. Tanpa ada yang mengundang, mengajak, atau mewajibkan. Forum yang dalam terjemahan bebas berarti kebersamaan, dilaksanakan satu bulan sekali di sejumlah kota.

Namanya berbeda-beda sesuai kearifan lokal. Misalnya, di Surabaya disebut Bang-Bang Wetan, di Jombang disebut Padhang Mbulan, di Yogyakarta disebut Mocopat Syafaat, di Jakarta disebut Kenduri Cinta, di Malang disebut Obor Ilahi, di Makassar disebut Paparandeng Ate, dan sebagainya.

Maiyahan digelorakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib. Namun, pria yang akrab disapa Cak Nun itu menegaskan, Maiyah tidak bergantung pada sosok. Maiyah tidak berkiblat pada ketokohan tertentu. Tidak ada takzim berlebihan dan tidak proporsional pada manusia. Karena sejatinya, seluruh insan sedang meniti rentang usia untuk memburu kebenaran. Yang kata Nurcholish Madjid, tak pernah absolut di tangan makhluk.

Orang-orang Maiyah bukan kelompok yang di permulaan berkedok organisasi kemasyarakatan atau keagamaan, ujung-ujungnya berkoalisi dengan kutub politik tertentu. Menjadi gaduh dan loba tiap ada hajatan KPU. Selebihnya, hanya cermin nafsu tak terbendung.

Dalam perjalanan yang sudah lebih dari satu dekade, Maiyah tidak bertendensi kekuasaan apalagi kapital. Tidak ada keinginan untuk menjadi unggul dari yang lain. Justru, di sinilah tempat berbaur. Siapapun boleh bergabung untuk mendengar pencerahan multi disiplin. Siapapun boleh bicara.

Dalam Kafir Liberal (Progress, 2005) Cak Nun mencatat tentang seseorang yang mengaku berasal dari Jaringan Kafir Liberal. Pria itu diberikan kesempatan melontarkan pendapat tentang kebenaran dan ketuhanan di Kenduri Cinta. Fakta itu menjadi bukti, meski mayoritas hadirin beragama Islam, bukan berarti non-Islam terpinggirkan. Pluralisme dengan analogi: biarkan kambing mengembik dan biarkan ayam berkokok dalam satu kandang, dipegang dengan seksama.

Bukankah perbedaan adalah sunatullah dan hukum alam yang mutlak? Bukankah tidak ada yang bisa menjamin seorang manusia akan tetap memegang teguh suatu agama, ideologi, pandangan, hingga dia mati kelak? Semua bisa berubah, bahkan menjadi sesuatu yang awalnya sangat dibenci. Kemerdekaan berpikir yang menyasar pada perdamaian adalah keniscayaan. Manusia sangat mungkin berbeda pandangan dan keyakinan tak bisa dipaksakan. Namun, semua manusia ingin merdeka dan berdamai, bukan?

Menjadi Jelata Seperti Nabi

Buku yang pernah terbit pada 2007 ini diramu dengan bahasa sehari-hari. Namun,  dibutuhkan kedalaman perenenungan untuk memahaminya. Secara umum, Cak Nun seperti merangkum cerita pribadi para penikmat Maiyahan. Dalam pengantar, pria kelahiran Jombang itu mengklaim dirinya sekadar “editor” dalam kumpulan artikel inspiratif ini.

Secara prinsip, gagasan yang ingin disampaikan adalah bagaimana menjadi manusia yang baik dan sederhana. Tidak rakus dan sombong. Karena secara hakikat, sehebat apapun hidup, berkalang tanah jua akhirnya. Dengan kesederhanaan, manusia tidak akan bingung di saat sedih dan tidak akan heboh kala bahagia.

Nabi Muhammad pun memilih jelata dan sederhana. Meskipun sebenarnya, bisa saja hidup berlimpah harta.

Orang Maiyah mengerti persis Nabi Muhammad Saw. justru memilih menjadi orang miskin. Ia ditawari Allah Swt. apakah akan menjadi “mulkannabiyya”, nabi yang juga raja nan kaya raya? Allah Swt. sudah menyediakan harta berupa gunung emas. Tetapi, Kanjeng Nabi memilih “abdannabiyya”, nabi yang rakyat jelata. Rakyat jelata bukanlah orang kaya. (hal. 86).

Dari waktu ke waktu, gelombang gerakan Maiyah semakin tinggi. Aktifitas itu berlangsung secara konsisten, signifikan, penuh keikhlasan, tanpa banyak perhatian dari media massa mainstream. Tak hanya dapat dilihat dari peningkatan jumlah hadirin di masing-masing lokasi. Juga, dari makin menjalarnya cakupan di banyak wilayah tanah air. Maiyahan jauh dari sikap tertutup atau eksklusif. Inilah yang membuatnya selalu dinantikan saban bulan. Forum ini secara tegas menempatkan manusia sebagaimana seharusnya manusia: sekadar makhluk Tuhan di muka bumi.(*)

Resensi Buku

Judul               : Orang Maiyah
Penulis             : Emha Ainun Nadjib
Penerbit           : Bentang, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, November 2015
Tebal               : viii + 100 halaman

Berita Terkait

Rio F. Rachman

Rio F. Rachman

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.

Leave Replay

Close Menu