Nara sumber seminar, antara lain Dr. Soedarsono, Prof. Ni Made Mertaniasih, Prof. Maria Inge Lusida, dan Prof. Kuntaman (Nomor 3, 4, 5 dan 6 dari kiri) didampingi tiga mahasiswa PPDS, usai press conference. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Tuberculosis (TB) sungguh penyakit yang mbandel. Kata itu kiranya yang pas untuk melukiskan betapa sulitnya penyakit yang menyerang dan merusak jaringan organ paru itu sulit diberantas. Itulah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara di dunia dengan prevalensi TB tinggi. Program pengendalian TB sudah 20 tahun digencarkan dan diimplementasikan, tetapi hingga kini TB masih menjadi penyakit infeksi yang menyebabkan angka kesakitan dan kematiannya nomor tiga di Indonesia.

”Puluhan tahun kita mengatasinya. Banyak juga yang sembuh dan berhasil. Tetapi ditengah-tengah itu, kasus TB ini muncul lagi dan lagi dengan beragam masalah baru. Realita itulah yang mendorong UNAIR mengadakan seminar dan menghadirkan ahli-ahli TB dari berbagai negara pada 8-9 Agustus 2016 untuk mencari solusi,” tandas Dr. Soedarsono, dr., Sp.P(K), Ketua Panitia “International Seminar on Global Strategy to Combat Emerging Infectious Diseases in Borderless Era” (GSEID 2016).

Dalam press conference di FK UNAIR, Jumat (29/7) kemarin, Dr. Soedarsono juga didampingi ahli-ahli mikrobiologi dan penyakit TB seperti Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K)., Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) Wakil Dekan III FK UNAIR, dan Prof. Maria Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D., Sp.MK(K) Ketua Institute of Tropical Diseases (ITD) UNAIR. Seminarnya nanti akan diadakan oleh kerjasama antara FK dengan ITD UNAIR, di Aula FK UNAIR. Dirancang juga menghadirkan keynote speaker dr. H. Muhamad Subuh, MPPM., Dirjen P2P Kemenkes RI.

Ahli dari luar negeri yang akan dihadirkan antara lain Prof. Toshiro Shirakawa MD., Ph.D (Kobe Iniversity), Prof. Keigo Shibayama MD, Ph.D (National Institute of Infectious Disease, Japan), Prof. Katsushi Tokunaga, PhD (Tokyo University), Prof. Dr. Mark A. Graber, MD, MSHCE, FACEP (Iowa University USA), Prof. Dr. Eric C.M van Gorp (Erasmus Medical Center, Rotterdam), dan Dr. Carmelia Basri, M.Epid (Senior Public Health Consultant).

Kasus-kasus baru TB yang muncul itu antara lain penyakit penyerta (komorbit) HIV-AIDS, diabetes, resistensi Mycobacterium tuberculosis atau kuman kebal obat yang disebut multi-drug resistance (TB MDR). Kasus demikian muncul ditengarai antara lain karena dampak dari lamanya pengobatan TB hingga enam bulan non-stop, muncul rasa bosan/jenuh, berganti dengan obat lain, atau kebiasaan minum obat separo dosis, sehingga penyakit tak sembuh-sembuh dan bakteri penyebab TB (Mycobacterium tuberculosis complex) menjadi kebal atau resisten terhadap obat.

“Kasus-kasus demikian itu yang akan dibahas dalam seminar nanti, termasuk pengobatannya, dengan mengolaborasikan hasil penelitian pakar-pakar dari luar negeri,” tambah Dr. Soedarsono.

Di tingkat global, saat ini Indonesia berada di urutan 8 dari 27 negara dengan TB-MDR yang terbesar di dunia, dengan perkiraan pasien TB-MDR mencapai 6.900 kasus. Program pengobatan TB-MDR sudah diterapkan menyeluruh pada rumah sakit di Indonesia sejak 2009.

“Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai penerapan program pengobatan TB-MDR di rumah sakit yang lamban, masalah diagnosis yang cepat, efek samping yang lebih banyak, komitmen dari berbagai pihak yang kurang memadai, membuat kasus penularan TB-MDR makin bertambah banyak. Jadi perlu ada intervensi dengan mencari akar permasalahan sehingga kedepan program pengobatan TB MDR lebih berhasil,” tambah Soedarsono, Pulmonologist RSUD Dr.Soetomo/FK UNAIR ini.

Ditambahkan oleh Prof. Kuntaman bahwa bakteri resisten yang menjadi perhatian dunia saat ini minimal ada tiga kelompok. Pertama, MRSA (Methicillin Resistant Staphycoccus aureus) yaitu resisten terhadap semua obat golongan pinisilin dan turunannya. Prevalensinya tahun 2002 kurang dari 1% dan kini (2015) telah meningkat menjadi 8%.

Kelompok yang kedua adalah bakteri penghasil ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamase) yang telah resisten terhadap antibiotika generasi baru dari pinisilin dan turunannya, kecuali beberapa yang masih sensitif.

“Pada tahun 2006 baru mencapai 24%, tetapi tahun 2013 sudah mencapai 38-66%. Jadi saat ini (2016) mungkin sudah makin tinggi lagi,” kata Prof. Kuntaman.

Kelompok ketiga adalah Carbapenem Resistance Enterobacteriaceae (CRE) yang merupakan ancaman terbaru, dimana bakteri ini telah resisten terhadap antibiotik pamungkas yang dimiliki Indonesia maupun dunia pada umumnya.

“Bahteri ini sudah dideteksi di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Surabaya. Kan Indonesia ini sangat luas, sehingga informasi terbaru bakteri resisten mungkin tidak merata. Inilah tanggungjawab kita untuk menyebarluaskan,” tambah Guru Besar ilmu Mikrobiologi Klinik FK UNAIR ini. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone