Pemimpin Bukan Peminta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

Pemimpin bukan peminta. Tersebutlah seorang pemimpin agung dari jazirah arab yang pengangkatannya diwarnai perdebatan sengit dengan pemimpin yang terdahulu.

“Jangan Kawan! Aku tidak memerlukan jabatan itu.” tukas pemimpin agung yang pada waktu itu masih berstatus calon pemimpin.

“Tetapi kepemimpinan memerlukanmu. Aku khawatir maut menjemputku dan meninggalkan rakyat tanpa pemimpin lalu terjadi hal yang tidak baik seperti di masa-masa lalu.”

“Carilah pengganti selain aku, si fulan, misalnya. Dia Amienul Ummah, kepercayaan umat.” Si calon berkelit.

“Aku juga sempat memikirkannya. Tapi krisis multidimensi membuat rakyat kita membutuhkan seorang kuat yang terpercaya. Al-qawiyyul amien!” sang pemimpin berdalih.

“Bagaimana kau bisa memilihku, wahai Kawan, sedang aku sering berbeda pendapat denganmu?”

“Justru itu yang memperkuat pilihanku. Aku ingin seseorang yang bila mengatakan tidak, ia mengatakannya dengan sepenuh hati: bila mengatakan ya, dia mengatakannya dengan sepenuh hati.”

Mereka saling berdebat dan bertukar argumentasi. Yang satu bersikeras meminta, yang satu bersikeras menolak. Didesak terus, si calon pemimpin yang terkenal perkasa itu pun menangis.

“Sahabatku, dalam urusan kekuasaan, ada dua golongan yang celaka. Pertama, golongan orang yang berambisi menjadi penguasa padahal dia tahu bahwa ada orang lain yang lebih pantas dan lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang menolak ketika diminta dan dipilih padahal dia tahu dirinyalah yang paling pantas dan paling mampu.”

“Sahabatku, demi persahabatan dan kecintaanku padamu, jauhkanlah aku dari beratnya hisab di hari kiamat kelak!” si calon pemimpin berusaha merayu pemimpin yang menunjuknya.

“Kau lupa, Kawan. Pemimpin yang adil kelak, akan dipayungi Allah di hari tiada payung kecuali payung-Nya.”

“Pemimpin yang adil, ya. Tapi aku?” si calon pemimpin semakin keras menangis.

“Kau juga, Kawan! Kau juga!”

Akhir kisah, perdebatan itu dimenangkan oleh keduanya. Dengan berbagai pemaparan yang objektif, sang pemimpin berhasil meyakinkan si calon pemimpin tentang keniscayaannya menjadi pemimpin selanjutnya. Si calon pemimpin tak lupa menyarankan sang pemimpin untuk bermusyawarah dulu dengan tokoh-tokoh lain. Sang pemimpin menyanggupi.

Dalam sejarah, si calon pemimpin yang kemudian menjadi pemimpin agung tersebut terbukti sanggup membawa rakyatnya menyinari dunia dengan kepemimpinan dan peradaban yang luhur. Pemimpin hebat yang dimaksud adalah Umar bin Khaththab, dan pemimpin terdahulu yang menunjuknya adalah Abu Bakar Ashshiddiq.

Cerita diatas dinukil-sarikan oleh A.Mustofa Bisri alias Gus Mus dari kitab Malhamah Umar-nya Ali Ahmad Baktsier. Di buku kumpulan esai Kompensasi, cerita ini termaktub dengan judul Abu Bakar dan Umar. Dituturkan dengan bahasa yang lugas dan cerdas, cerita ini terasa hidup dan menggugah.

Ada banyak topik yang dihadirkan dalam buku ini. Selain tentang kepemimpinan, terdapat pula tentang saling pengertian dan rendah hati. Seperti pada artikel bertitel Kisah Nyata atau Dongeng?

Suatu ketika datang seorang tua miskin pada seorang ulama bernama Syiekh Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan sesuatu keperluan meminta tolong pada orang yang sangat disegani itu. Serupa dengan kebanyakan orang tua yang senantiasa berdiri dengan bertelekan tongkat, orang  itu pun bertelekan tongkat sebagai penopang ketuaanya. Tanpa disadari, ujung tongkat itu menghujam di kaki Syiekh sampai berdarah-darah. Seperti tidak merasakan apa-apa, Syiekh Sa’id bi Salim mendengarkan dan mengabulkan curahan hati dan permintaan orang tua itu.

Selepas si wong cilik berlalu pergi, orang-orang yang kebetulah melihat kejadian itu, dengan heran bertanya.

“Kenapa Syiekh diam saja, tidak menegur, ketika orang tua tadi tanpa sengaja menghujamkan tongkatnya di kaki syiekh?”

“Kalian kan tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya, kalau aku mengaduh atau apalagi menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi menyampaikan hajatnya.”

Gus Mus memang piawai menyampaikan kisah-kisah inspiratif. Wawasan dan pergaulan yang luas, nampaknya turut mengasah kelihaian bertutur. Pemimpin dan pembina pondok pesantren Roudlotul Thalibien Rembang yang juga pengasuh situs internet Mata Air gusmus.net ini dikenal pula sebagai orang yang tidak gila jabatan.

Dia pernah meletakkan kesempatan menjadi anggota DPD jawa tengah pada pemilu 2004 lalu. Dia juga menolak tawaran menjadi pegawai musim haji di Arab Saudi meski jabatan itu memungkinkan dia berhaji tiap tahun dengan mudah. Bahkan dia pernah pula mengundurkan diri dari bursa calon ketua umum PBNU walaupun dia mengaku sempat tergiur dengan posisi itu.

Penolakan-penolakan itu dilatarbelakangi kepandaian Gus Mus bercermin menilai diri. Bukan karena ingin lari dari tanggung jawab atau enggan mengemban beban mulia, namun lebih disebabkan kejujuran dan kesadaran diri. Rasulullah SAW, tokoh idola Gus Mus dan seluruh umat muslim, pernah berpesan, agar umatnya senantiasa jujur menakar kapasitas diri, sebab celakalah orang-orang yang tak kenal dirinya sendiri.—

Buku

Judul               : Kompensasi; Kumpulan Tulisan A. Mustofa Bisri
ISBN               : 978-979-25153-5-0
Penulis             : A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit           : Mata Air Publishing
Tanggal Terbit : 27/07/2011
Halaman          : x + 286 halaman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu