Dr. Istadi,ketika memberikan materi dihadapan peserta workshop pada Jumat, (22/7), di Ruang Kahuripan 301, Kantor Manajemen UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guna mendongkrak peringkat sebuah universitas di mata dunia, diperlukan publikasi jurnal ilmiah yang terindeks secara internasional. Demikianlah yang sedang gencar dilakukan oleh UNAIR melalui PPJPI (Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah), guna mengukuhkan diri sebagai world class university.

Hal tersebut yang kemudian mendorong PPJPI UNAIR untuk mengadakan workshop terkait internasionalisai jurnal melalui lembaga pengindeks DOAJ dan Scopus pada Jumat, (22/7). Bertempat di Ruang Kahuripan 301, Kantor Manajemen UNAIR, Loka karya tersebut diikuti oleh 48 pengelola jurnal di lingkungan UNAIR, dengan mendatangkan Dr. Istadi, S.T., M.T, Pimpinan Redaksi Jurnal “Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis” dari Universitas Diponegoro selaku narasumber.

“Langsung dibimbing oleh chief editor dari jurnal Indonesia yang sudah terindeks Scopus. Ini lebih ke arah aplikatif, jadi langsung evaluasi kesiapan dari masing-masing jurnal itu, dilihat satu persatu persyaratannya, yang mana yang sudah memenuhi dan mana yang belum,” ujar Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes, selaku Ketua PPJPI.

Melalui pelatihan tersebut, Yanti sapaan karib Prihartini Widiyanti berharap, kandidat jurnal yang telah dievaluasi terkait proses persiapan dapat segera terindeks Scopus, walaupun lembaga pengindeks internasional tersebut memiliki requirement yang dianggap cukup rumit.

“Untuk terindeks Scopus itu kan suatu capaian yang cukup berat, jadi saya tak mau menarget banyak, karena prosesnya tidak bisa instan,” ujarnya.

Namun untuk tahun ini, Yanti memperkirakan ada 8 jurnal yang siap untuk terindeks DOAJ. Kedelapan jurnal tersebut akan terus dibimbing oleh PPJPI agar segera terindeks. “Delapan jurnal yang kita punya itu, kita harapkan terindeks DOAJ, karena itu merupakan satu step menuju terindeks Scopus, jadi merupakan requirement yang harus dipenuhi sebelum ke Scopus,” terangnya.

Yanti menambahkan, selain persyaratan indeks yang rumit, sistem yang selama ini diterapkan oleh para pengelola jurnal di lingkungan UNAIR juga dituntut untuk transformasi. Sebelumnya, para pengelola jurnal masih terbiasa mengelola dengan sistem cetak atau printed. Seiring berkembangnya teknologi, mereka dituntut untuk menggunakan versi OJS (Open Journal System).

“Proses persiapannya itu butuh waktu, karena teman-teman jurnal kan gak bisa instant, karena memang seperti sebelumnya masih versi cetak, sekarang harus dibawa ke versi OJS,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Nuri Hermawan