Iskandar Dzulqornain Rela Dibotak Tengah, Demi Raih Prestasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Iskandar Dzulqornain, wisudawan berprestasi dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ada banyak motivasi untuk meraih segudang prestasi. Salah satunya adalah untuk membuat orang tua bangga atas capaian putra dan putrinya. Demikianlah yang dirasakan oleh Iskandar Dzulqornain, wisudawan berprestasi dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga tahun lulus periode Juli 2016.

Semasa masih duduk dibangku SMA, ia mengaku selalu merepotkan kedua orang tuanya karena polahnya. Dari situlah, ia termotivasi untuk menjadi kebanggaan orang tua ketika lulus kuliah.

“Aku dari SMP (sekolah menengah pertama) dan SMA (sekolah menengah atas) rasanya nakal banget, suka ngerepotin orang tua aja. Pengin gitu ya banggain orang tua,” ujar wisudawan dengan poin SKP (Sistem Kredit Prestasi) 2213 tersebut.

Ia merasa berhasil membuat kedua orang tuanya bangga. Pasalnya, belasan prestasi di bidang Moot Court (peragaan peradilan semu) telah berhasil digenggamnya. Diantaranya adalah, sebagai majelis hakim dan penasehat hukum terbaik, serta juara umum II dalam Kompetisi Peradilan Semu Nasional Piala Mutiara Djokosoetono di Universitas Indonesia tahun 2014. Selain itu, ia juga meraih berbagai peran dengan predikat terbaik di Internal Mooting Fakultas Hukum pada tahun 2015.

Mootcourt itu perlombaanaya anak hukum dengan sebuah peradilan semu. Jadi kita satu tim menyelesaikan kasus dan mendapatkan posisi dari panitia, terus sidang. Ada yang jadi hakim, pengacara, penuntut umum, saksi ahli, panitera, dan lainnya,” terang wisudawan kelahiran Surabaya, 27 Maret 1994 tersebut.

“Kalau internal, lingkupnya cuma anak-anak FH UNAIR yang lomba. Kalau nasional, kita lomba bareng dengan fakultas hukum seindonesia. Waktu itu ada UI, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, dan sebagainya,” imbuhnya.

Wisudawan berprestasi dengan IPK 3,52 tersebut juga memiliki pengalaman unik saat mengikuti perlombaan. Di sebuah perlombaan peradilan semu, ia mengaku rela memangkas rambutnya dengan gaya nyeleneh demi mendalami peran yang ia peragakan.

“Waktu perlombaan, saya kebagian jadi saksi. Demi totalitas biar menang, saya rela dibotak tengahnya doang, pinggirnya nggak. (Itu semua) demi pendalaman peran. Bisa dibayangin kan, waktu lomba dilihat orang banyak. Malu sih, tapi demi UNAIR juara, ya, cuek aja,” kenang wisudawan yang pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FH UNAIR periode 2015 tersebut.

Iskandar menuturkan, menumpuknya prestasi yang ia raih karena diiringi oleh usaha yang keras. Dengan berbagai kompetisi yang ia ikuti, seringkali hal tersebut mengurangi waktu istirahatnya. Menurutnya, hal tersebut agar waktunya terisi dengan kegiatan yang produktif.

“Kurangi tidur deh. Waktunya dibuat untuk yang lebih produktif. Tapi tetap tahu batasan tubuh kita sendiri dong. Yakinlah tidak ada yang sia-sia, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha,” seru Iskandar yang bercita-cita menjadi Hakim Agung tersebut. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu