Nido DW, Kuliah Sesuai Passion, Jadi Wisudawan Terbaik Psikologi UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Nido Dipo Wardana sambil membawa bahan skripsinya saat di depan Fak. Psikologi UNAIR. (Foto: Defrina SS)

UNAIR NEWS – Mempelajari pola dan karakter setiap orang adalah passion Nido Dipo Wardana. Nyatanya, ia mengaku tak ada kiat khusus untuk menjadi wisudawan terbaik S-1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga periode Juli 2016. “Karena aku memang suka dengan psikologi, jadi segala urusan kuliah itu bikin aku senang. Meski sesusah apapun tugasnya, tapi tetap bisa semangat ngerjain karena dasarnya itu, passion aku,” tutur peraih IPK 3,80 ini.

Sejak duduk di bangku SMA ia mengaku sudah tertarik dengan bidang psikologi. Alasannya, ia ingin bisa mengenal dan memahami karakter orang-orang di sekitarnya. Atas ketertarikannya itu, laki-laki kelahiran Pasuruan 7 Agustus 1994 ini melanjutkan kuliah di Fak. Psikologi UNAIR. Setelah lulus nanti ia ingin melanjutkan studinya ke negeri ‘The Black Country’. Meski masih bimbang antara berminat ke jurusan yang berhubungan neuropsikologi dan psikologi forensik.

“Sekarang lagi merencanakan dan memperbanyak modal untuk cari beasiswa. Aku pengen lanjutkan di Inggris karena disana ada jurusan yang aku pengen, antara neuropsikologi atau psikologi forensik,” tutur laki-laki yang ingin menjadi ilmuwan psikologi ini.

Selama empat tahun kuliah di Psikologi UNAIR, ia menyibukkan diri dengan kuliah, magang, dan ikut kegiatan lomba. Ia pernah menjadi panitia acara International Conference of Psychology in Health, Educational, Social, and Occupational Settings (ICP-HESOS) tahun 2013. Di bidang organisasi, ia pernah turut menyuarakan aspirasi mahasiswa bidang komunikasi dan informasi. Ia juga pernah menjadi juara II lomba Psychoscience – Psychometrics pada Olimpiade Psikologi Indonesia III tahun 2015 di Surabaya. Saat itu ia bersaing dengan mahasiswa dari berbagai kampus terbaik di Indonesia.

Dalam penelitian skripsinya, ia membahas saksi tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dimana ia meneliti tentang perilaku menolong saksi laki-laki yang menjadi tetangga korban KDRT.

“Mengapa mereka tidak mau menolong? Faktor yang paling mencolok karena mereka menganggap KDRT itu urusan pribadi rumah tangga. Di sisi lain, para saksi khawatir kalau mereka membantu, hubungan ketetanggaan akan rusak,” kata penulis skripsi “Gambaran Perilaku dan Dinamika Efek Pengamat pada Tetangga Laki-laki Saksi Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga”.

Baginya, UNAIR merupakan kampus berkualitas dan tidak berat secara finansial. Nido berharap UNAIR bisa menjadi kampus berkualitas akademik bertaraf internasional sesuai dengan tagline Excellence with Morality. “Semoga juga bisa jadi univesitas yang berkualitas internasional,” ujarnya. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu