Angkat Kasus Malaria di Papua, Petronella Sabet Wisudawan Terbaik S3 FK

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Petronella Marcia Risamasu, wisudawan terbaik FK berkat angkat kasus malaria di Papua (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dibalik pesona alam tanah Papua, ternyata tersimpan satu problematika kesehatan masyarakat yang tak kunjung terselesaikan; malaria. Penyakit itu menghantui masyarakat Papua selama bertahun-tahun. Inilah yang mengusik hati Dr. Petronella Marcia Risamasu, dr., M.Ked.Trop untuk berusaha berbuat lebih demi tanah kelahirannya.

Data dari Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes menyebutkan, angka kesakitan malaria di Papua tahun 2013 (Annual Parasite Incidence) mencapai 42,65 per 1000 penduduk. Angka ini jauh diatas angka nasional 1,38 per 1000 penduduk. Potret kesehatan masyarakat inilah yang membuat Petronella terusik.

Menurut ibu dari Aurelia Demtari Tuah ini, untuk mengeliminasi malaria diperlukan strategi tepat dan keterlibatan semua pihak. Yang paling efektif menemukan parasit pada pasien dengan gejala malaria maupun tanpa gejala malaria lebih cepat dan kemudian diobati dengan tepat, meliputi jenis, dosis, dan waktu minum obat.

Selain itu diperlukan tindakan pencegahan bagi masyarakat dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Peran pemerintah, health provider, pasien, dan masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Jika kedua hal ini dilakukan bersinergi dan berkesinambungan maka dapat memutus rantai penularan, karena tidak ada parasit plasmodium yang ditularkan meskipun nyamuk anopheles tetap ada.

“Papua merupakan daerah endemis malaria tertinggi di Indonesia. Saya lahir, besar dan berkarya di Papua dan sampai kini malaria tetap menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Papua, meski berbagai upaya pengendalian telah dilakukan. Harapan saya, hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat teoritis maupun praktis bagi pemerintah dan masyarakat. Ini menjadi tekad saya,” kata dokter yang pernah bertugas sebagai dokter PTT di tempat terpencil di Jayapura ini.

Dalam menempuh pendidikan S3-nya, perempuan kelahiran Kaimana 7 September 1971 ini tak pernah membayangkan sebelumnya bakal meraih IPK terbaik (3,96, nyaris sempurna). Baginya keberhasilan ini adalah buah dari kesabaran dalam menikmati proses pendidikannya.

“Saya jatuh cinta sama UNAIR dan Surabaya ketika menempuh pendidikan S1 disini. Bagi saya, FK UNAIR bukan saja dapat mewujudkan cita-cita untuk menjadi dokter, tetapi juga membentuk karakter sehingga menghasilkan ilmuwan yang berintegritas,” katanya.

Lantas, apa rencana setelah lulus S3? “Kembali ke habitat..haha..,” kelakarnya. Petronella  akan kembali mengabdi untuk tanah Papua, mengamalkan ilmu dan menjadi dokter yang sebaik-baiknya di Jayapura. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Binti Quryatul Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu