Rangkuman Berita UNAIR di Media (15/7 sd 20/7)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR- UBRU Thailand Sepakati Kerja Sama Riset

Dua lembaga pendidikan tinggi, yakni Universitas Airlangga dan Ubon Ratchathani Rajabhat University (UBRU) Thailand berkomitmen memperkuat kerja sama, terutama di bidang riset. Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Kampus C UNAIR Surabaya, Rabu (13/7). Menurut Rektor UNAIR, Prof. Nasih, bidang kerjasama yang dikolaborasikan meliputi riset dan publikasi jurnal internasional yang terindeks Scopus serta pengiriman staf ke UBRU. Penandatanganan Memorandum of Agreement disaksikan oleh dekanat FKM, Presiden UBRU, dan delegasi UBRU lainnya. Penandatanganan Memorandum of Agreement ini merupakan kelanjutan dari nota kesepakatan yang berlangsung antara 2013-2015 lalu.

Republika, 15 Juli 2016 halaman 9

Mahasiswa Bidikmisi Lebihi Kuota, PTN Bingung

Kebijakan pemerintah pusat terkait dengan penetapan kuota beasiswa bidikmisi yang diberikan setelah penerimaan mahasiswa mengakibatkan beberapa PTN menerima mahasiswa Bidikmisi lebih banyak dari kuota yang diberikan pemerintah. Di UNAIR, ada kelebihan kuota bidikmisi. Dari kuota 440 mahasiswa, UNAIR telah menerima mahasiswa bidikmisi sebanyak 666 mahasiswa. Mereka berasal dari jalur SNMPTN sebanyak 373 mahasiswa dan SBMPTN sebanyak 293 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, ada 116 mahasiswa yang terlanjur diterima jalur bidikmisi, tetapi diluar kuota pemerintah sehingga biaya kuliah menjadi beban UNAIR.

Sindo, 16 Juli 2016 halaman 2, Radar, 16 Juli 2016 halaman 3

22 WNA Ikut Seleksi Kelas Internasional

PTN di Surabaya tidak hanya menarik minat siswa dari dalam negeri. Tidak sedikit juga warga negara asing yang ingin melanjutkan studi di Surabaya, salah satunya UNAIR. Setiap tahun ada saja WNA yang ikut pendaftaran penerimaan mahasiswa baru (PPMB) UNAIR. Tahun ini, ada 22 WNA yang mengikuti PPMB 2016. Menurut Rektor UNAIR, Prof. Moh Nasih, jumlah WNA yang mendaftar di UNAIR tahun ini turun jika dibandingkan dengan 2015. Tahun lalu ada 32 WNA yang mendaftar kelas internasional pada PPMB jalur Mandiri. Selain 22 WNA, kelas internasional UNAIR kebanjiran pendaftar dari lulusan dalam negeri. Tahun ini, UNAIR membuka kelas internasional pada empat prodi. Semuanya di Fakultas Kedokteran, dengan rincian 20 kursi prodi pendidikan dokter, 10 pendidikan dokter gigi, 15 pendidikan dokter hewan, dan 10 pendidikan apoteker.

Jawa Pos, 16 Juli 2016 halaman 28

Sempat Kesulitan Dana, Satu-satunya Peraih IPK 4.00

UNAIR kembali mewisuda 835 mahasiswa dari berbagai jurusan dan jenjang pendidikan. Para wisudawan tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara lain. Bahkan, Moro Kadjo Daniel Bitty dari pantai Gading menjadi wisudawan terbaik di jenjang S-3. Daniel mengaku sejak dulu sangat ingin belajar di Indonesia. Untuk bisa mendapatkan gelar doktornya, dia harus berjuang keras karena tidak punya biaya. Tetapi, selama melakukan penelitian tentang pentingnya pengaruh keuangan dalam kehidupan sehari-hari dan memahami kebijakan yang berkembang di negara Afrika dan Asia, dia mendapatkan bantuan dari sejumlah dosen di UNAIR. Hasil penelitian ini mengantarkan Daniel menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta menjadi satu-satunya peraih indeks prestasi kumulatif sempurna. Selain Daniel, ada 14 mahasiswa asing lain yang mengikuti prosesi wisuda di Airlangga Convention Center, 16 Juli 2016 lali.

Sindo, 17 Juli 2016 halaman 2, Jawa Pos, 17 Juli 2016 halaman 24, Republika, 18 Juli 2016 halaman 14

Terapi Gangguan Menelan dengan Setrum

Memakai sonde atau alat bantu makan dengan menggunakan selang memang banyak dialami para penyandang stroke. Sebab, orang yang pernah mengalami stroke terganggu di bagian saraf nomor 5,6,7,9,10, dan 12 yang berkaitan dengan kemampuan menelan seseorang. Spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dr.Nunung Nugroho, SpKFR, mengungkapkan bahwa pasien dengan gangguan menelan disebut dysphagia. Hampir seluruh pasien stroke mengalami masalah itu. Namun, ada yang derajatnya ringan sampai berat. Pasien dengan sonde selama ini memang sulit hidup dengan nyaman. Mereka sama sekali tidak bisa menikmati rasa makanan lagi. Kini ada terapi yang dilakukan untuk membantu pasien. Selain dengan obat, memakai terapi wicara manual. Menurut alumnus FK UNAIR itu, ada alat yang lebih modern bernama neuromuscular electrical stimulation (NMES) dimana pasien distimulasi memakai elektroda.

Jawa Pos , 15 Juli 2016 halaman 36

Medcupe, Mencegah Tertukarnya Sampel di Rumah Sakit

Kasus tertukarnya sampel pasien saat pemeriksaan di laboratorium beberapa kali terdengar. Berangkat dari fenomena ini, lima mahasiswa UNAIR yang beranggotakan Mokhammad Dedy Batomi, Mokhammad Deny Basri, Masunatal Ubudiyah, Pratama bagus Baharsyah, dan Sucowati Dwi Jatis, membuat alat Medcupe (Medical Specimens Cube Shipper). Alat ini berfungsi sebagai alat ergonomis pengirim dan direct labelling spesimen pasien berbasis pengolahan citra solusi kasus malpraktik sampel tertukar di laboratorium medis. Sayangnya, mesin ini belum secara penuh mengontrol otomatis pengiriman sampel. Sesampainya sampel di ruang laboratorium, petugas masih harus memilah-milah sampel sesuai dengan jenis untuk diantarkan ke tempat uji masing-masing.

Sindo, 18  Juli 2016 halaman 13 dan 14

Diaper, Pilih Yang Cocok

Balita yang memakai popok sekali pakai atau diaper sering tidak tepat dalam pemakaian. Akibatnya, anak terancam ruam popok. Menurut Alumnus UNAIR, dr. Dian Pramastuti, SpA, jarang mengganti diaper menjadi penyebab utama ruam popok. Saat popok lembab karena penuh cairan, kulit tidak bisa bernapas. Hal itu menjadi tempat favorit berkembangnya bakteri. Akibatnya, timbul kemerahan di daerah sekitar genetalia atau bokong anak. Jika dibiarkan, ruam popok bisa memicu infeksi saluran kencing. Untuk menghindari ruam popok, idealnya popok diganti secara rutin, minimal empat jam sekali. Selain itu, pakai diaper dengan bahan yang lembut, termasuk bahan yang mudah menyerap cairan.

Jawa Pos, 19 Juli 2016 halaman 36

Dosen UNAIR Asuh Mahasiswa Bidik Misi

Terbatasnya anggaran bidikmisi untuk mahasiswa membuat UNAIR mewajibkan para dosennya menjadi orang tua asuh bagi anak-anak bidikmisi. Hal itu karena biaya bidikmisi yang didapat untuk keperluan bulanan hanya Rp 600 ribu, sedangkan kebutuhan sehari-hari bagi mereka apalagi yang datang dari luar kota cukup besar. Rektor UNAIR, Prof. Moh. Nasih mengakui bahwa pihaknya akan segera membuat kebijakan agar dosen mengambil mahasiswa bidikmisi sebagai anak asuh.

Radar, 20 Juli 2016 halaman 11, Surya, 20 Juli 2016 halaman 13 dan 16 , Jawa Pos, 20 Juli 2016 halaman 29

Penulis : Afifah Nurrosyidah
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu