Pengalaman Mahasiswa Antropologi Hidup Bersama Masyarakat Papua

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu tim sosbud sedang memainkan musik Papua di Distrik Waisai, Raja Ampat. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Salah satu pengalaman belajar yang tidak pernah didapat di bangku perkuliahan adalah menjalani hidup bersama masyarakat Indonesia bagian timur, Papua. Hidup selama empat bulan bersama saudara di timur Indonesia telah memberikan banyak pelajaran dan cara pandang terhadap kehidupan. Begitulah yang dirasakan Ijud, mahasiswa Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

Ijud mengikuti Ekspedisi NKRI, salah satu kegiatan yang diadakan oleh Kopassus TNI AD. Dari ekspedisi itu, Ijud belajar banyak tentang makna hidup kepada masyarakat Papua. Kehidupan masyarakat di Papua, tentunya jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat dan fasilitas yang didapat oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di Jawa. Dari masyarakat Papua, Ijud belajar bahwa keterbatasan hidup tak membuat masyarakat Papua berhenti dan menyerah.

“Beberapa distrik di Papua menggantungkan diri kepada air hujan hanya untuk sekadar minum dan memasak. Susahnya air membuat mereka harus memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan pokok. Akses pendidikan dan kesehatan yang berada  di distrik pedalaman Sorong juga berbeda jauh dengan akses pada umumnya yang ada di Pulau Jawa,” ujar Ijud.

Tidak semua distrik memiliki sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun sekolah menengah atas (SMA). Meskipun ada distrik di pedalaman yang memiliki fasilitas tersebut, namun masih banyak kendala lain seperti kekurangan tenaga pengajar, jumlah ruangan, bangunan, dan fasilitas umum lainnya seperti buku.

“Bahkan dalam satu sekolah hanya memiliki satu guru yang aktif mengajar setiap harinya sedangkan siswa yang harus diajar ada enam kelas sehingga akhirnya setiap dua kelas digabung dalam satu ruangan, kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga dan empat dan kelas lima dan enam,” kenang Ijud.

Pengalaman ini memberikan pandangan kepada Ijud tentang alasan masyarakat yang selama ini menjudge Papua sebagai masyarakat yang tertinggal.

“Apa yang mereka dapatkan tidak seperti yang anak Indonesia dapatkan pada umumnya. Keterbatasan dan keadaan yang memaksa diri mereka, sehingga kebiasaan dengan kehidupan seperti itu seolah sudah menjadi sesuatu hal yang lumrah,” tegas Ijud.

Ijud juga bercerita, keterbatasan akses kesehatan pun memaksa masyarakat Papua untuk hidup harmoni dengan alam, seperti menggunakan obat-obat tradisional yang didapatkan langsung dari alam.

“Tidak semua distrik di pedalaman Kabupaten Sorong memiliki puskesmas. Kalaupun ada, itu merupakan puskesmas pembantu. Permasalahan yang sering terjadi adalah fasilitas di distrik yang memiliki puskesmas sangat kurang, bahkan tidak memberikan dampak apapun bagi masyarakat setempat. Sudah hal lumrah bangunan puskesmas berdiri kokoh namun tidak memiliki tenaga kesehatan. Apabila ada anggota keluarga yang sakit keras, maka harus mereka bawa ke pusat kesehatan di kota yang jaraknya cukup jauh,” kenang Ijud.

Praktik Kebhinekaan

“Masyarakat Papua memiliki falsafah hidup bahwa mereka harus berbuat baik kepada siapa saja yang datang ke tanah mereka, termasuk kepada para pendatang asalkan tetap menghormati dan menjunjung adat istiadat yang mereka yakini. Apabila kita telah menghormati adat istiadat maka gelar saudara yang akan kita dapatkan dari mereka,” kata Ijud.

Bagi Ijud, kunci hidup bersama masyarakat Papua adalah sikap saling menghormati. Karena menjalani hidup di Papua akan bersinggungan dengan masyarakat yang memiliki perbedaan warna kulit, bentuk rambut, serta keyakinan.

“Kehidupan dalam keterbatasan tidak membuat mereka putus asa dan berhenti beraktivitas. Namun keadaan tersebut justru menjadikan mereka sosok-sosok yang kuat yang bisa hidup di alam bebas. Pelajaran hidup tersebut akan menjadi penuntun kehidupan ke depannya agar menjadi orang yang pandai bersyukur dan bijak dalam berpikir dan bertindak,” pungkas Ijud. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu