Ketut Wiradnyana, Bekal Prestasi dengan Tekuni Arkeologi 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Ketut Wiradnyana, Drs., M.Si. menjadi wisudawan terbaik dengan nilai IPK 3,86. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sejak menempuh pendidikan sarjana, Dr. Ketut Wiradnyana, Drs., M.Si. sudah menekuni bidang arkeologi dengan skripsinya yang berjudul “Katoda Sebagai Unsur Tradisi Megalitik di Sumba Timur”. Pria kelahiran kota Jembrana, 26 April 1966 ini, sejak tahun 1994 hingga sekarang masih aktif dalam berbagai penelitian arkeologi di Provinsi Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau. Selain itu, Ketut juga masih menjadi dosen tamu di Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara. Bahkan, pria yang memiliki hobi bermain musik (rock tahun 70an, ­red) ini pernah menjadi Ketua Tim Penelitian Arkeologi, Anropologi – Geografi Kebudayaan Pulau Nias (IRD), Prancis. Selain itu lebih dari seratus karya artikel pernah ia buat dan diterbitkan.

“Keseluruhan artikel terbit pada jurnal arkeologi dan antropologi diberbagai jurnal arkeologi dan jurnal kebudayaan yang tersebar diberbagai kota di Indonesia dan luar negeri,” ungkapnya.

Anak ke lima dari tujuh bersaudara ini bercerita, bahwa pengumpulan data disertasi telah dimulai sejak tahun 2009, sehingga ketika ditanyai kendala yang dihadapi dalam penyusunan disertasi ini, ia menjawab tidak terlalu banyak kendala.

“Kalau penyusunan disertasi tidak terlalu banyak kendala, tetapi dalam penyusunan ilmu pengetahuan arkeologis itu yang jauh lebih sulit,” ujarnya.

Bahkan dalam penyusunan ini sedikit dapat terselesikan lebih lama dari terget yang ia susun, karena ia harus mencari dan memproses data arkeologis di Gayo dengan beberapa Universitas di Eropa dan Amerika. Isi dari disertasi yang menjadi syarat doktoral ini sendiri membahas tentang proses penyusunan pengetahuan arkeologis dalam kaitannya dengan genealogi (manusia dan budaya) di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Hal tersebut kemudian menjadi wacana geonelogis etnis Gayo yang disebarluaskan oleh berbagai komponen masyarakat Gayo, dengan tujuan untuk melegitimasi identitas etnis Gayo yang berbeda denga etnis Aceh. Hal itu nantinya  dapat menentukan upaya pembentukan Aceh Leuser Antara (ALA) yang terpisah dengan provinsi Aceh.Uniknya dari hasil penelitian Ketut ini, pengetahuan arkeolgois yang digunakan sebagai identitas etnis Gayo itu masih terus berlangsung.

“Jadi nantinya penelitian ini akan bisa dilanjutkan karena masih banyak aspek yang belum terungkap,” paparnya. “Penyelesaian disertasi dan tugas-tugas akan dapat diselesaikan pada waktunya jika fokus atau dikerjakan setiap hari” imbuhnya.

Mahasiswa yang akan diwisuda tanggal 16 juli ini, menjadi wisudawan terbaik dengan nilai IPK 3,86. (*)

Penulis: Achmad Janni
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu