Berkelana Dalam Perenungan Gus Mus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

Kita tak perlu memeras otak atau mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi A Mustofa Bisri yang termaktub di kumpulan ini. Tidak seperti penyair-penyair yang sering memamerkan kekayaan kosakata sehingga justru menjadi sulit dipahami orang awam, yang pada akhirnya membuat puisi sulit merakyat, Gus Mus (begitu sastrawan asal rembang ini biasa disapa) senantiasa menggunakan kata-kata atau kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti khalayak.

Sajak Aku Manusia yang juga dijadikan judul antologi ini terasa sangat pas menjadi pembuka jalan untuk menelusuri pengembaraan Gus Mus dalam perenungan. Dari kalam terakhir yang berbunyi, “Tuhan Memuliakanku”, terdapat makna tersirat yang kuat menuntun kita untuk senantiasa bersyukur. Jika dipikirkan dengan jujur dan seksama, sebagai sesosok makhluk, apalah lagi kenikmatan yang paling besar kecuali dimuliakan oleh Sang Pencipta. Kita seyogyanya tak perlu merasa rendah diri dengan kemampuan matahari, bulan, angin, laut, maupun setan yang dalam beberapa bidang melangkahi kesanggupan manusia, sebab Tuhan sudah memberikan keistimewaan yang luar biasa pada kita.

Secara tak kasat mata, penyair yang di KTP-nya membiarkan kata ‘penulis’ mengisi keterangan kolom pekerjaan ini juga ingin mengatakan, bahwa manusia tak perlu minder dengan kemampuan dan keahlian yang telah diberikan Tuhan pada manusia lain. Kita hanya wajib melakukan apa yang bisa dengan optimal kita lakukan. Kecenderungan kita ingin berbuat apa, itu yang harus kita kembangkan dan tekuni. Pendapat ini terlahir setelah menghubungkan makna yang terungkap dalam Aku Manusia, dengan maksud yang tersurat di bait terakhir Wangsit.

Kritik moral dan sosial terhadap bangsa menjadi sisi yang paling dieksploitasi. Lihatlah puisi Orang-Orang Negeriku menyoroti mayoritas individu bangsa ini yang begitu kesulitan mencari jati diri. Memaksanya selalu mengikuti arus yang sering justru membuat kita kehilangan kepribadian dan prinsip hidup. Ketakutan saat harus berbeda, mengekor pada trend-trend jaman, membuat kita mungkin hanya bisa menjadi diri sendiri ketika jauh dari peradaban yang sedang berlangsung. Sedangkan jauh dari peradaban pun belum tentu membuat kita berani untuk hidup, bisa jadi kita malah memilih mati bunuh diri.

Di tengah gencarnya orang meliberal-liberalkan tatanan nasional, memperjuangkan kesekuleran dengan melepaskan jubah keagamaan yang dinilai bisa mengebiri nilai-nilai obyektifitas, Gus Mus tak ingin kehilangan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Dia tak segan mengutip sejumlah ayat Al Qur’an dan istilah-istilah islam sebagai inspirasi dan bahkan ide pokok dalam puisinya.

Mertua dari tokoh Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla ini juga tak sudi menanggalkan kerinduan pada kekasih umat islam sedunia, Muhammad SAW. Begitu pula ia tak ingin melupakan gaya hidup ulama dan sufi yang telah mewarnai dakwah Islam, mereka yang sebenarnya bisa kaya dan bisa kenyang namun memilih miskin dan lapar sebagai jalan hidup untuk mendekatkan diri pada Ilahi, membuat beliau malu jika terbersit sedikit saja perasaan ujub atau bangga hati pada kealiman diri (Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasih).

Pengritikan pada tindakan-tindakan yang terkesan lupa pada kehakikian manusia yang tak berhak menyiksa dan melaknat, terlihat jelas dalam sajak Allahuakbar. Bukankah sekalipun kita tak pernah diangkat Tuhan sebagai wakil yang boleh menghakimi orang-orang yang berbeda cara pandang? Dikaitkan dengan sajak Ada Apa Dengan Kalian, memberikan kita sinyal tentang pentingnya memisahkan pengertian kata “memaksa” dan “mengajak” ke jalan kebaikan.

Lewat Sajak Allahuakbar pula, penulis kumpulan cerpen lukisan kaligrafi ini juga ingin mengingatkan bahwa tak ada hasil tafsiran manusia yang layak mendapat predikat kebenaran sejati. Menganggap pemikiran  pribadi atau golongan tertentu sebagai hukum mutlak merupakan salah satu contoh nyata tindakan penyekutuan Tuhan dengan diri sendiri. Kita pun tak perlu menyangsikan keabsahan ibadah orang yang berbeda cara ritual, sebab yang berwewenang menilai ibadah seorang hamba hanya Tuhan (Salat).

Pembelaan terhadap hukum rokok yang masih samar (atau dibuat-buat samar) juga sempat tertulis dalam salah satu larik sajak Ada Apa Dengan Kalian, namun membandingkan dengan hukum korupsi membuatnya terasa berlebihan. Rokok yang masalah kecil seharusnya dibandingkan dengan masalah yang tak semaha besar korupsi. Sebab dipandang dari mana pun, rokok tetaplah merugikan baik diri sendiri maupun orang lain di sekitar (terlebih yang bukan perokok). Apalagi jika yang merokok termasuk kaum berpendapatan minim, sehingga dalam kasus seperti ini, barang yang menjadikan dua konglomerat pengusahanya berada di deretan orang terkaya di dunia ini boleh dikategorikan barang tak manfaat (atau mudharatnya lebih besar dari manfaatnya), tergolong pemborosan berpredikat sia-sia.

Meskipun di beberapa judul puisi-puisi kawan baik mantan presiden ke-4 RI ini nampak lebih cocok masuk kategori; kalimat bijak, kata mutiara atau bahkan do’a, bunga rampai yang tersusun sangat mengasyikkan untuk dilahap siapa saja. Tak bisa pula dipungkiri, kualitas dari tiap karya di buku ini tak kalah dibanding karangan sastrawan-sastrawan kawakan serupa Taufik Ismail, Sutardzi CB, WS Rendra maupun Emha Ainun Nadjib.

Mengamati sebuah karya dari orang yang lahir di pesantren memang selalu menghadirkan kenikmatan tersendiri. Sejuk kata-kata dan sarat pesan-pesan moral merupakan ciri khas yang akan terus ada. Sebagai kyai, A Mustofa bisri telah mampu menyumbangkan racikan-racikan sastra baik berupa puisi maupun cerpen yang berkekuatan mengajak kita memahami kehidupan seraya selalu mengaitkannya dengan prinsip-prinsip sosial yang digariskan Tuhan. Menghargai, menghormati, saling menahan diri, dan tidak mengintimidasi antar sesama. Mengingatkan kita akan kefanaan dunia, kesementaraan segala isi jagat raya, dan ketidaksempurnaan kita yang hanya manusia sehingga tak pantaslah membusungkan dada.—

Buku

Judul               : Aku Manusia, kumpulan puisi a. mustofa bisri
Penulis             : A. Mustofa Bisri
Penerbit           : Mata Air Publhising, Surabaya
Cetakan           : I, Desember 2006
Tebal               : 78 Halaman

Berita Terkait

Rio F. Rachman

Rio F. Rachman

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.

Leave a Replay

Close Menu