UNAIR Tidak Akan Lakukan Diskriminasi Terhadap Calon Mahasiswa Disabilitas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sekretaris Universitas Drs. Koko Srimulyo, M.Si, (Kiri), Didampingi Wakil Dekan III FISIP UNAIR Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D., (Tengah), Saat Menemui Alfian Andika Yudistira (Kanan). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pelaksanaan ujian masuk jalur Mandiri baik reguler dan Bidikmisi di Universitas Airlangga akan dilaksanakan serentak tanggal 24 Juli 2016. Diantara ribuan pendaftar jalur Mandiri tersebut UNAIR sudah menerima pendaftaran peserta test dengan disabilitas (tunanetra).

Hal itu dibenarkan oleh Sekretaris Universitas Airlangga (SU) Drs. Koko Srimulyo, M.Si, karena pada prinsipnya UNAIR tidak akan melakukan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Bagi peserta seleksi dengan disabilitas, UNAIR akan menyediakan fasilitas yang bisa memudahkan peserta pengerjaan soal-soal yang diujikan.

Pelaksanaan ujian masuk jalur mandiri rencananya akan dilaksanakan dengan metode paper-based test (PBT). Pada peserta dengan tunanetra, misalnya, UNAIR akan menyediakan pendamping yang terpercaya dalam menjawab pilihan soal yang diuujikan. Prosesnya, pendamping akan membacakan soal ujian dan pilihan jawabannya. Sehingga peserta tes tinggal memberikan jawaban yang menurutnya benar, dan kemudian pendamping yang akan menuliskan jawaban yang dipilih tersebut ke dalam lembar jawaban ujian (LJU).

“Peserta dengan disabilitas akan kami tempatkan di ruangan khusus, misalnya di ruang koordinator. Misalnya dia dapat lokasi tes di FISIP, maka dia akan kami tempatkamn di ruang koordinatornya. Nanti dia didampingi oleh asisten dalam membacakan soal. Asisten ini akan dipilih dari mahasiswa-mahasiswa yang selama ini sudah biasa melakukan komunikasi dengan anak-anak disabilitas. Asisten itu juga harus tersumpah,” tegas Koko Srimulyo.

Untuk ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB), khususnya terkait dengan peserta disabilitas. Untuk itu kepada peserta dengan disabilitas diimbau agar memahami persyaratan umum dan persyaratan khusus yang ditentukan UNAIR. Pasalnya sejumlah program studi seperti Pendidikan Dokter mensyaratkan agar mahasiswa tidak mengalami keterbatasan fisik, misalnya buta warna.

“Jadi pada UNAIR tidak akan diskriminatif. Penyandang disabilitas akan diterima di UNAIR jika dia berhasil lolos seleksi dan memenuhi batas nilai serta persyaratan yang ditentukan. Artinya UNAIR akan tetap memperhatikan anak-anak disabilitas selama mereka memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku,” jelas dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UNAIR ini.

Memang diakui, selama ini hanya sebagian kecil mahasiswa UNAIR yang dengan keterbatasan fisik. Berkaitan dengan itu maka UNAIR akan memperbaiki sarana prasarananya agar kelak mahasiswa disabilitas bisa belajar di UNAIR dengan nyaman.

Seperti diketahui, peserta tes Mandiri dengan penyandang tunanetra Alfian Andika Yudistira, lulusan SMAN 8 Surabaya, menyatakan sudah mendaftar sebagai peserta tes jalur Mandiri dan Bidikmisi. Ia mendaftar pada program studi S-1 Sosiologi FISIP UNAIR. Ikhwal ini juga dibenarkan oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR, Myrtati Dyah Artaria, Ph.D.

Namun, di tengah keterbatasan fisik, Alfian mengaku pandai mengutak-atik berbagai program komputer. Diantaranya ia bisa mengembangkan dan menggunakan piranti lunak untuk mengkonversi hardcopy ke file suara, sehingga penyandang tunanetra bisa menerima pesan tertulis dari bentuk hardcopy dalam format suara. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu