Halalbihalal, Unjung-unjung dalam Satu Waktu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rektor Universitas Airlangga, Prof. Nasih saat halalbihalal yang diadakan di gedung rektorat, Selasa (12/7) (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Meski  hari raya telah usai, semangat saling melebur dalam maaf dan memaafkan terus digalakkan. Bukan hal yang asing, jika halalbihalal menjadi sebuah tradisi yang mengakar dan melintasi zaman serta generasi. Bahkan halalbihalal seakan menjadi khazanah (kekayaan) tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sebagai tradisi, halalbihalal menyajikan beragam makna bagi setiap muslim, tak terkecuali bagi Puji Karyanto, M.Hum. Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR tersebut menjelaskan keunikan tradisi halalbihalal dari prespektif kebudayaan.

Baginya, halalbihalal merupakan salah satu sisi yang positif dari peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan sampai sekarang. “Sebenarnya, halalbihalal merupakan pembudayaan dari apa yang di kampung-kampung disebut dengan unjung-unjung (berkunjung, red), ketika hari raya idul fitri tiba. Sehingga, ketika masyarakat masih agragria, unjung-unjung masih memungkinkan,” jelasnya saat dijumpai diruang kerja.

“Namun, ketika masyarakat bergeser ke arah modern, dimana pihak yang di kunjungi semakin membengkak. Hal tersebut kemudian yang menjadikan halalbihalal sebagai konsep alternatif untuk membangun silaturahmi sekaligus saling memaafkan ketika puasa telah usai,” imbuhnya.

Meski demikian, pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mata Angin tersebut menambahkan, bahwa ketika halalbihalal digalakkan, bukan berarti tradisi unjung-unjung menjadi tidak penting. “Hal ini (unjung-unjung, red) merupakan hal penting, terkhusus bagi masyarakat nusantara. Maka dari itu, mudik juga menjadi tradisi penting tahunan,” serunya.

Dosen Sastra Indonesia UNAIR yang juga kerap menjadi saksi ahli bahasa tersebut menegaskan, bahwa halalbihalal merupakan proses antar orang dengan koleganya untuk saling bertemu dan memaafkan. Halalbihalal baginya bisa menjadi wadah untuk memulai kehidupan baru, untuk mengatur spirit baru ke depannya.

“Puasa itu identik dengan tirakat. Sehingga harapannya, orang yang selesai puasa mempunyai spirit baru dengan adanya kegiatan tersebut,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu