Sikap Over Protective Potensial Buat Anak Sulit Mandiri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi express.co.uk

UNAIR NEWS – Semua orang tua pasti menyayangi anaknya masing-masing. Tidak mungkin mau meninggalkan anak sendiri di suatu tempat tanpa kepastian. Juga, ingin selalu bersama buah hati untuk secara langsung menjaga dan melindungi. Meski demikian, orang tua harus bijak dengan tidak over protective. Sebab, sikap itu justru menjerumuskan dan membuat anak sulit mandiri.

Sebagai contoh, tatkala anak sudah menginjak usia SD. Orang tua tidak perlu menunggui mereka di luar pagar sekolah. Tindakan ini seolah-olah menunjukkan rasa tidak percaya dengan sekolah. Padahal, sekolah seharusnya sudah mendapat kepercayaan penuh dari wali siswa. Di sisi ini, sejak awal semestinya orang tua telah memilih sekolah yang diyakini baik.

Pakar Psikologi UNAIR Dr Dewi Retno Suminar MSi mengatakan, di sejumlah kota besar, sikap over protective ini masih terlihat. Dijelaskan Wakil Dekan Fakultas Psikologi tersebut, di beberapa sekolah yang berlokasi di pusat kota, kadang terlihat pemandangan ini. Orang tua menunggui anak-anaknya di luar pagar sekolah. Di jam istirahat, anak-anak mengerumini orang tua di sekitar gerbang sekolah. Sekadar untuk mengobrol, minta uang jajan, atau curhat. “Kalau sikapnya begitu, bagaimana anak bisa lekas mandiri?” ujar dia.

Dewi menuturkan, orang tua kadang campur tangan terhadap siapa guru yang mengajar siswa. Pernah, di suatu kota, terdapat mutasi guru besar-besaran, orang tua protes. Karena orang tua menganggap, guru yang selama ini mengajari anaknya sudah mapan dan baik. Mereka khawatir, guru baru malah membuat kualitas anak jadi menurun.

Sepantasnya, saat menyekolahkan anak di suatu tempat, orang tua mesti sepakat dengan sistem yang ada di sekolah tersebut. Bila yang dipilih adalah sekolah negeri, mutasi antar sekolah menjadi hal lumrah. Selayaknya juga, disadari dan disetujui. Jangan malah cawe-cawe di tengah jalan.

Pada bagian lain, pergantian guru sebenarnya membuat wawasan anak bertambah. Para siswa jadi belajar bertemu orang-orang baru. Kalau memang orang tersebut pada awalnya kurang sesuai dengan mereka, anak-anak itu pun secara alamiah dapat belajar menyesuaikan diri.

“Di masyarakat, kita tidak bisa memilih untuk hanya bersosialisasi dengan orang-orang tertentu. Maksudnya, kita harus siap bila suatu saat berjumpa dengan orang-orang yang tidak diduga. Nah, pelajaran untuk beradaptasi dengan orang baru itu bisa dimulai sejak di sekolah,” ungkap Dewi.

Untuk memecahkan persoalan sikap over protective tersebut, dibutuhkan treatment khusus. Intinya, masyarakat dan orang tua mesti disadarkan tentang pentingnya mempercayai sekolah yang sudah dipilih sendiri. Juga, pentingnya meyakini kemampuan yang dimiliki oleh anak. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu