Penguatan Pemasaran Level Bawah Tangkal Kelangkaan Daging

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: tempo.co

UNAIR NEWS – Problem kelangkaan daging sapi selalu menjadi momok. Bahkan, momentum kelangkaan yang diiringi dengan lonjakan harga bisa ditebak kapan waktunya. Sebagai contoh, pada Ramadan, lebaran, dan pasca lebaran seperti sekarang ini. Oleh karena ini tergolong persoalan rutin, pemerintah semestinya dapat melakukan pencegahan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Prof Dr Anwar Ma’ruf M.Kes., drh.,menuturkan, ada banyak aspek yang menjadi pangkal persoalan kelangkaan dan kenaikan harga daging pada momentum tertentu. Di antaranya, kondisi sentra peternakan yang belum mapan.

Saat ini, sentra yang dimaksud sudah ada di Bima, Nusa Tenggara. Sudah menjadi tuntutan bagi pemerintah, untuk menguatkan sentra tersebut agar menghasilkan daging dengan kuantitas dan kualitas memadai. Selain di Bima, pembuatan dan penguatan sentra peternakan juga perlu dilakukan di daerah lain. Bisa di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan lain sebagainya. Jadi, penyebaran daging bisa merata baik dari segi mutu maupun jumlah.

Bagaimana agar memeroleh produksi daging yang mantap dari segala sisi? Bibitnya harus unggul. Di sini peranan para pakar ternak diperlukan. Mereka harus ikut berpartisipasi menciptakan atau merumuskan formula untuk menciptakan bibit unggul yang siap diternak dalam skala besar.

Bila sentra peternakan sudah disiapkan, bibit sudah ada, jangan lupakan aspek pakan ternak. Sebab, berdasarkan pengamatan, dalam proses produksi daging, pakan menempati porsi terbesar pembiayaan. Yakni, mencapai 60-70 persen. Pemerintah harus dapat merumuskan tentang bagaimana mendapatkan pakan yang efektif dan efisien. Lagi-lagi, peran para pakar berada di posisi penting.

Yang menarik, selain aspek-aspek yang berkutat pada supporting system sentra peternakan besar, proses pemasaran di level bawah juga perlu diperhatikan. Kalau pemasaran di sentra peternakan besar, pasti dapat terkontrol. Karena, sentra semacam ini sudah memiliki jaringan pemasaran yang kuat.

Nah, yang dimaksud pemasaran di level bawah, adalah pengandalian harga dan pasar bagi peternak “lokal”. Mereka adalah peternak di desa-desa yang memiliki jumlah hewan dengan skala kecil. Dalam kisaran belasan ekor, bahkan kurang dari itu.

“Orang-orang itu harus dijamin kelangsungannya oleh pemerintah. Kalau tidak, mereka pasti beralih profesi. Kalau beralih profesi, produksi daging secara nasional pasti berkurang. Indonesia masih perlu peternak seperti itu guna meraih swasembada daging,” ujar Anwar.

Saat ini, harga di level bawah kerap terbanting. Disinyalir, ini pekerjaan para makelar hewan ternak. Kalau harga selalu anjlok di tangan peternak kecil seperti itu, mereka pasti malas kembali bekerja di ranah ini. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah mesti melindungi mereka dengan regulasi. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu