Lebaran di Atas Nampan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi goodnewsfromindonesia.org

Khusus untuk pagi hari ini. Aku buka pintu rumah ini. Sebenarnya tak wajar karena belum pernah aku yang membuka pintu sepagi ini. Bukan karena aku malas, namun karena ini titah baru. Kubuka sedikit lebih lebar agar angin mau bermain bersamaku lagi, kembali berdesus bersama hawa dan suara kicau dan kokok ayam. Telah cukup lama pintu ini menjadi kering dari suaranya yang nyaring menderu. Tawa kami dan ocehanku sering menggurui adik kecilku. Ibu bangun, juga terbiasa lalulalang lewat pintu belakang-samping rumah ini. Yang katanya lebih baik dan tak meramaikan yang lain.

Hari ini. Semoga pintu ini bisa berdering riang saat angin itu datang, membawa tanganku yang dingin, membawa peputih, bukan jingga. Lebaran. Pintu-pintu lain tampaknya telah terbuka, memanggil para tetangga untuk datang berlangganan jajanan. Meja penuh toples dan isinya menyuguhkan berbagai hal tentang kenangan; roti yang manis kulitnya; gelas cantik yang indah rautnya; teh cokelat yang melilit lidah; serta jingkrakan anak kecil meramaikan suasana. Semuanya terasa begitu nyata, bukan semu dari kemunduran seperti tentang demokrasi, seperti tentang dunia para elit.

Kursi kami tampak rapi, bersih, dan hasil jahitan khas masa lalu. Kembalikan ke titik nol. Titik pengembalian hati Emak, juga. Masih adakah kesan untuk ditinggali? Adakah naskah yang bisa diulangi untuk diputarkan? adakah tawa yang bisa disengaja untuk diciptakan? Inilah drama yang bermain tanpa sengaja ada lakon dan tragedi.

Ruangan ini masih kosong dan bolong. Sedang di seberang sana rantaian mulut mungil berbicara runtut mulai anak-anak mereka yang lulus sampai anak mereka yang siap untuk diikat dalam perjanjian akad, “Rat, tolong bersihkan foto-foto ini ya ..”, ujar Mak Imah. Aku hanya mantuk. Foto itu telah tua, seperti jimat milik khas keluarga kami. Ah bukan, jimat hanyalah istilah masa lalu. Di sana ada bajunya yang tampak lusuh namun tampak gagah dipakai di kala muda mencampurinya. Aku usap-usap; aku elus-elus hingga debu berucap jadi asap; dan asap lalu terbang sedikit terseok, kemudian mengembang bersama banyangan angan-angan.

“Nak, kira-kira apa dia datang ya?”, Ujar Mak Imah lagi. Adikku yang kecil menangis teriris, ruang tamu nampak landai bersama kekhawatiranku akan foto-foto di dinding itu akan jatuh kemudian pecah berserakan. Aku redam tangisnya, dia tetap menangis.

Tampak dengan jelas, di sudut binar mata Emak ada wajah Bang Hilman. Ada rindu yang tak biasa.

***

Nasi kuning sudah dibuat panas sejak subuh. Menjadi hangat dan dimakan bersama-sama. Ketika masih ada Abang, aku-Emak-Adikku si kecil memakannya di atas nampan bulat plastik buatan lokal. Itu dulu, sebelum Abang pernah duduk di kursi empuk. Karena jabatan, karena cita-citanya. “Ah, lebih tepatnya karena do’a-do’a kami!” Ujarku dalam hati. “Juga do’a Bapak, yang telah mendahului kami, tentunya.”

“Aku paha ayam bawah yah Bang!” Ucapku sedikit manja.

“Hallah, aku juga mau Mas!” Rebut adikku yang kecil.

“Sudah, jangan ribut sendiri Nak!. Kasihkan Emak saja kalau begitu caranya!” Emak tersenyum, lalu kami tersenyum, kemudian tertawa.

Nasi masih tampak banyak; tidak terlalu lembek; aromanya begitu kuat, nikmat sepertinya ada campuran kayu manis di dalam nasi ini. Harum, mungkin juga karena daun pandan, entahlah. Gadis saat ini mulai banyak tak mengerti.

Pagi itu, tetangga sudah sepi. Berangkat ke pemakaman untuk memberikan bunga ke makam nenek moyang. Mengharap puasa sebulan penuh diterima Yang punya Maha dan yang telah tiada menjadi kekal di SurgaNya. Sehabis itu, barulah mereka pergi ke Masjid untuk menuntaskan ibadah sholat Ied. Itulah kebanyakkan yang tetangga lakukan. Sedang bagi keluarga kami, ialah pagi waktu lebaran lebih hitmat jika menghabiskan nasi kuning hangat setampan, bersama sekeluarga terlebih dulu baru ke masjid untuk menyusul.

“Nahkan! Ayamnya hidup!” ujar Bang Hilman ketika melihat Adik kecilku menjatuhkan ayam goreng di atas nasi yang kami santap. Kami tertawa terbahak-bahak. Nampan pun ikut senang.

Abang kami itu, Abang satu-satunya. Abang kami yang disayang Emak. Abang kami yang menginspirasi hingga membawa banyak piala dan medali ke atas almari di ruang tamu kami. Dia ahli menulis dan ahli berpidato. Mungkin keahliannya yang terakhir itu yang membuat banyak orang sibuk membawanya ke sana-ke mari. Mungkin karena itu, keluarga kami tak lagi dipandang sebelah mata.

Kabar terakhir didengar kalau dia sedang berada di Medan, menangani masalah pertambangan. Lalu kami hanya bisa diam tidak bisa menghubunginya, mungkin benar. Zaman semakin canggih, zaman telah mengubah tabiat Abang, serta teknologi membuat alih fungsi telepon menjadi wahana bermain jaringan internet. Tanpa itu, tidak bisa.

Di luar terdengar takbir syahdu dengan alunan kotek’an bambu oleh tangan-tangan kecil. “Abangku, pulanglah besok!” aku, Emak, Adikmu Rindu. Bagaimana kabarmu sekarang?” Aku berharap satu malam penuh cemas sebelum benar kejadian Lebaran.

Bagi kami, tradisi ini yang membuat beda dengan yang lain.  Membuat iri dan tampak sungkan mengganggu kemesraan kami. Hanyalah dulu, bukan seperti tangan dingin saat ini. Angin berdesir, angan mengambang di atas atap. Melambai dan mendayung masa itu. Terakhir memang didengar kabar Medan tempat hidup Abangku. Namun selebihnya, kami menahu suatu informasi yang kami dapatkan dari koran pagi itu. “Itu muka Abangmu Nak? Kenapa bisa muncul di situ?” tanya Mak Imah tak tahan. Aku tercengang tak terpacaya. Semua orang menghinanya, korupsi penyebabnya.

Dulu banyak yang bilang, itulah kurang didikan. Namun apalah artinya dulu, sedang sekarang sebenarnya Abangku itu telah lepas. Lepas dari jeruji besi yang telah mengurungnya. Namun sayang, Abangku tak mengindahkan permintaan Ibu, Entah, padahal rindu.

Waktu terus berjalan, aspal jalanan sepertinya telah capek bercumbu dengan ban-ban yang mengantarkan pada salam-menyalam seluruh umat. Saling memaafkan dan saling bertukar uang. Berisik bisingan itu telah hilang dalam geguritan yang semakin malam. Dia belum datang. Ibu diam. Teh yang tadinya hangat, menjadi dingin. Sepertinya, angin sengaja bermain hanya seperti itu, aku juga gagal membawa tanganku yang dingin. Mendinginkan hati Mak; mendinginkan kenangan; serta membawakan Abangku pulang.

Di atas nampan ini, aku-Ibu-dan Adik kecilku yang mulai tumbuh besar berdo’a sambil menata nasi kuning ke piring masing-masing, “Tidaklah harus dia datang, kumpulan burung pun tak harus selalu pulang ke rumahnya yang sama, kita do’akan, semoga rumahnya menjadi alas tidurnya yang baik.” Ucapnya terakhir. (*)

Berita Terkait

Akhmad Mukhlason

Akhmad Mukhlason

Mahasiswa Sastra Indonesia 2012

Leave Reply

Close Menu