Smart Phone Membuat Balita Sulit Merekam Ekspresi Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ilustrasi nsclick.cl

UNAIR NEWS – Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi jangan sampai menjadi bumerang. Kecanggihan piranti tidak boleh justru membawa keburukan pada manusia dan kehidupan sosialnya. Terlebih, bagi anak-anak. Hal itu disampaikan oleh Dr Dewi Retno Suminar MSi, wakil dekan III Fakultas Piskologi. Orang tua berperan penting untuk memastikan anak-anak tidak kecanduan smart phone dan segala aplikasi di dalamnya.

“Sejak dini, anak-anak harus dikondisikan agar tidak tergantung pada smart phone. Bahkan, di usia 0 sampai masuk SD, jangan biarkan mereka menikmati kecanggihan layar ponsel,” ungkap dia.

Alasannya, pada usia itu balita sedang berlatih untuk merekam ekspresi manusia. Khususnya, orang-orang yang ada di sekitarnya. Bila di masa tersebut mereka lebih banyak melihat layar ponsel, kepekaan terhadap ekspresi wajah menjadi tergerus. Padahal, dalam interaksi sosial, kepedulian terhadap ekspresi orang lain merupakan keniscayaan. Sebab, ekspresi berhubugan dengan perasaan dan kondisi jiwa.

Bila kemampuan reflektif dari memahami perasaan orang lain buruk, komunikasi pun ikut menjadi jelek. Kalau komunikasi yang terjalin jelek, interaksi pun jadi kacau. Sehingga, hubungan dengan orang lain tidak bisa berjalan lancar.

“Nantinya, anak-anak sendiri yang kesulitan dalam kehidupan. Baik di sekolah, kampus, maupun tempat kerja,” kata Dewi.

Bahkan, di usia sekolah dasar, anak-anak mesti diberi pengertian. Bahwa, smart phone maupun ponsel merupakan sarana, bukan kebutuhan primer. Sarana apa? Sarana untuk belajar. Jadi, kalau mereka menggunakan ponsel, belajar mesti jadi lebih maksimal. Bukan terbalik: gara-gara pakai ponsel, lupa dengan belajar.

Selain itu, ponsel merupakan sarana berkomunikasi. Jadi, saat ingin berkomunikasi jarak jauh, gunakan ponsel. Bukan terbalik: gara-gara lagi main ponsel, lupa menjalin komunikasi dengan orang lain.

Penggunaan piranti teknologi informasi dan komunikasi anak-anak harus dalam pantauan orang tua. Ayah, Ibu, atau wali anak, tidak boleh abai dan menyerahkan situasi ini semata pada perkembangan zaman yang tak dapat ditawar. Harus digarisbawahi, anak selalu butuh bimbingan dan arahan dari orang yang lebih tua. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu